Diperkirakan Terkubur Ratusan Tahun, Terdapat Sumber Air

Temuan Batu Bata Bangunan Mirip Benteng Terpendam di Kota Lama

315
JEJAK SEJARAH: Drainase yang dibangun di sepanjang Jalan Gelatik, Kota Lama, Semarang. (kanan) Petugas saat mengamati batu bata yang ditemukan (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).
JEJAK SEJARAH: Drainase yang dibangun di sepanjang Jalan Gelatik, Kota Lama, Semarang. (kanan) Petugas saat mengamati batu bata yang ditemukan (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Tatanan bangunan batu bata mirip benteng tua itu berada di kedalaman sekitar 90 sentimeter di Jalan Gelatik, Kota Lama, Semarang. Diperkirakan, bangunan yang terkubur dalam tanah tersebut berusia ratusan tahun. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

SEBUAH temuan mengejutkan diungkap oleh sejumlah pekerja bangunan yang mengerjakan proyek infrastruktur sarana-prasarana drainase di Kota Lama. Sucipto, 45, pelaksana proyek drainase PT Berkah, mengaku kaget dan tak mengira kalau galian proyek yang dikerjakan terdapat temuan batu bata kuno tertata rapi membentuk bangunan di dalam tanah.  Bangunan mirip benteng di dalam tanah tersebut diperkirakan memanjang di Jalan Gelatik Kota Lama. Meski begitu, belum diketahui secara pasti mengenai identitas bangunan tersebut.

“Saat memulai pekerjaan penggalian, tahu-tahu mendapati batu bata. Tertata rapi di kedalaman 90 Sentimeter,” kata Sucipto saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di lokasi proyek, Kamis (12/10).

Sepanjang jalan yang semula berpaving itu dibongkar, karena desain drainase ini nantinya tertutup di bawah jalan. “Yang jelas bentuk bangunan di dalam tanah ini sangat besar. Warga sini tidak ada yang mengetahui ini bangunan apa,” ungkapnya.

Diceritakan Sucipto, proses penggalian tanah di kawasan tersebut terbilang sulit. Sebab, struktur tanah di kawasan tersebut keras dan berlapis-lapis. Sehingga penggalian dilakukan menggunakan mesin dan alat berat.  “Terdapat beberapa lapisan, yakni pasir, aspal, cor beton, dan terakhir tatanan bata.

“Secara fisik, bata tersebut ukurannya lebih besar dari bata normal sekarang. Mungkin usia bata ini ratusan tahun,” bebernya.

Anehnya, meski struktur tanah cukup keras, terdapat sumber air yang deras. Terutama berada di bagian lapisan pasir dengan kedalaman 60 sentimeter.

Sucipto mengaku kewalahan karena intensitas air sumber tersebut cukup besar. “Itu air sumber dari dalam tanah, bukan air hujan. Sudah kami sedot, tapi airnya keluar terus. Baru 60 sentimeter saja sudah keluar air,” katanya.

Temuan tersebut telah dilaporkan ke pihak Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan dilakukan pengecekan. Meski begitu, belum ada penanganan khusus mengenai temuan struktur bangunan batu bata kuno di dalam tanah tersebut. Tetapi, pihak dari TACB telah merekomendasikan bahwa selama pekerjaan proyek drainase tersebut diminta untuk berhati-hati. “Apabila ditemukaan benda-benda antik atau barang kuno, kami diminta untuk segera melaporkan. Khusus di Jalan Gelatik, panjang drainase 85 meter, dengan kedalaman 90 sentimeter. Posisi drainase masih berasa di atas bangunan. Nanti setelah ini dilanjut di Jalan Suari,” tutur dia.

Pihaknya juga telah diminta melakukan penggalian terpisah di depan Gedung Marba untuk sampel penelitian. “Ada permintaan dari pihak TACB, karena ada temuan batu bata di dalam tanah. Ada sample aspal, batu bata, nanti dibawa untuk diteliti di laboratorium. Sementara ini, baru ada temuan batu bata tersebut. Belum ada temuan benda-benda lain,” ujarnya.

Sebelumnya, beberapa tahun silam juga ditemukan sisa Bastion atau pojokan benteng setinggi 60 sentimeter di Kota Lama, tepatnya di Kampung Sleko, Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara oleh tim Balai Arkeologi Jogjakarta. Dalam kurun waktu 2009-2013, sedikitnya ditemukan lima Bastion menyerupai dinding benteng berbentuk mata panah yang posisinya tertimbun tanah.

Lima Bastion tersebut teridentifikasi, Bastion De Smits, Bastion De Zee, Bastion Ijzer, Bastion Hersteller, dan Bastion Amsterdam. Selain itu juga ditemukan satu Bastion kecil, yakni Bastion Ceylon. Bukan hanya itu, benda-benda keramik kuno juga ditemukan. Ditengarai, benda-benda kuno itu merupakan peninggalan Dinasti Cing di kisaran abad ke-18. Ada dua jenis keramik, yakni China dan Eropa. Baik logam, keramik Dinasti Cing, tembikar dan tulang belulang. Selain itu, juga ditemukan dua keping uang logam berlogo VOC. Temuan bangunan dan benda kuno itu menguatkan dugaan adanya kota tua yang terpendam di dalam tanah kawasan Kota Lama Semarang tersebut.

Ketua Tim Penelitian Benteng Kota Lama Semarang, Novida Abbas, saat itu mengaku masih kesulitan untuk melakukan penggalian lebih lanjut. Para peneliti hanya bisa melakukan penggalian di lokasi Bastion De Smits di lahan milik PT Gas Negara dan milik PT Damri. “Kami belum bisa menjangkau lokasi lain karena sudah terdapat bangunan,” ujarnya.

Meski telah mengantongi dokumen peta kuno pada 1741 dan overlay tumpang susun foto udara Kota Lama Semarang, para peneliti tampaknya belum bisa berbuat banyak. “Ini tanah milik orang lain, kami kembali menutup menggunakan tanah agar tidak rusak akibat terendam air,” katanya.

Sedangkan di atas dataran tanah seluas 31 hektare Kota Lama sendiri saat ini masih berdiri kurang lebih 105 bangunan peninggalan Kolonial Belanda. Sebagian bangunan tersebut tak bertuan atau belum diketahui pemiliknya. Sedikitnya ada 53 bangunan telah teridentifikasi siapa pemiliknya. Dari 53 bangunan, baru kurang lebih 23 bangunan yang telah dikonservasi. Pemerintah Kota Semarang saat ini sedang melakukan penataan besar-besaran di kawasan Kota Lama. Sebab, kawasan tersebut didaftarkan sebagai Kota Warisan Dunia atau Living Heritage Unesco yang ditargetkan selesai 2020 mendatang. (*/aro)