BBTP Tak Optimal Kelola Aset

SEMARANG – Balai Benih Tanaman Perkebunan (BBTP) Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jateng dinilai belum optimal dalam mengelola aset. Terhitung ada 33 tanah yang dikelola satuan kerjanya, belum menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang signifikan.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Jateng, Sri Hartini menyoroti Kebun Noborejo, Salatiga yang menjadi salah satu aset BBTP. Dari target PAD Sebesar Rp 60 juta di 2017, per September kemarin baru teralisasi Rp 9,765 juta. Baru tercapai 16,28 persen saja. Padahal, Kebun Noborejo memproduksi bibit unggul bersertifikat untuk komoditas cengkih zansibar, kopi robusta, kopi arabika dan panili.

Artinya, target PAD kembali tidak bisa direalisasi karena waktunya tinggal beberapa bulan saja, sementara kekurangannya masih lebih dari 70 persen. Sri Hartini pun mengkritisi karena aset potensial itu tidak bisa menyumbang PAD yang signifikan.

Politikus Partai Gerindra ini pun meminta Distanbun Jateng untuk membuat trobosan agar aset yang dikelola bisa memenuhi target PAD. “Kiranya sudah saatnya dipikirkan untuk membuat beberapa kreasi,” ucapnya, Kamis (12/10).

Kreasi yang dilakukan bisa memanfaatkan potensi yang sudah ada. Digabungkan dengan konsep pariwista, misalnya. Seperti mengemas kebun menjadi kawasan agrowisata, lengkap dengan ruang pamer bibit beserta tata cara berkebun di lokasi lain. Praktis, Kebun Noborejo bakal menjadi destinasi wisata baru di Salatiga. “Jika konsep wisata itu bisa berjalan, tidak hanya PAD saja yang meningkat, aspek sosial pun bisa dirasakan,” katanya.

Sementara itu, Kepala BBTP Distanbun Jateng, Pradoto Mahardjono, mengakui jika selama ini aset Kebun Noborejo belum maksimal. Dia pun setuju dengan masukan Sri Hartini. Sebab dia menilai, tugas pokok memproduksi dan mengembangan bibit unggul bersertifikat untuk masing-masing komoditas perkebunan di satker-satker masih bisa berjalan.

Hanya saja, itu bukan pekerjaan mudah karena menyangkut komitmen Pemprov Jateng sendiri yang bisa berubah apabila pejabatnya ganti. “Tapi kami berterima kasih atas saran yang baik dari Komisi C dan akan kami komunikasikan dengan atasan,” katanya.

Mengenai PAD yang masih sangat kecil, Pradoto masih tetap optimis untuk mencapai target. Pihaknya memprediksi target sebesar Rp 60 juta tersebut akan terlampaui akhir tahun, yakni dengan penjualan seluruh bibit yang akan mencapai sekitar Rp 140 juta-Rp 150 juta. “Sekarang belum dijual. Nanti kalau sudah dijual, baru bisa menghasilkan PAD yang cukup tinggi. Mungkin bisa memenuhi target,” terangnya. (amh/zal)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here