Sulap Kain Perca Jadi Keset, Bantal hingga Souvenir

Zainurrahman, Raup Pundi-Pundi Rupiah dari Limbah Pabrik Garmen

PEKERJA KERAS: Zainurrahman dan aneka bantal produksinya (ERMA WATI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
PEKERJA KERAS: Zainurrahman dan aneka bantal produksinya (ERMA WATI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Limbah kain perca dari pabrik garmen yang tidak terpakai, disulap oleh Zainurrahman menjadi produk bernilai jual tinggi. Padahal sebelumnya potongan kain itu hanya dibuang dan dibakar.

ERMA WATI

DELAPAN tahun lalu, Zainurrahman memutuskan keluar dari tempatnya bekerja di salah satu pabrik garmen di daerah Bawen, Kabupaten Semarang. Ia mantap berwirausaha dengan  memanfaatkan limbah kain pabrik garmen. Kebetulan ia tinggal di kawasan pabrik  yang tentunya banyak limbah yang dihasilkan.

Zainur –sapaan akrabnya– melihat potongan-potongan tersebut bukanlah sampah, melainkan barang yang dapat disulap menjadi rupiah. “Selama ini limbah berupa potongan kain itu hanya dibuang bahkan dibakar oleh pihak pabrik, saya lihat kok eman-eman. Lalu saya kumpulkan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dari potongan kain yang didapatkan Zainur dari sejumlah pabrik itu,  lantas disortir (dipilah). Sebab, jenis kainnya beragam. Ada yang halus, kasar, lentur, bulu-bulu, dan sebagainya. Selanjutnya potongan kain itu  disulap Zainur menjadi keset lipat. Saat awal merintis usaha, selembar keset buatannya hanya diharga Rp 2 ribu. Dari nilai itu, Zainur hanya mendapatkan  keuntungan Rp 500 per keset.

“Dulu saya hanya mampu menjahit 10-20 keset. Pendapatan bersihnya hanya Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu, Mbak,” kenangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Namun kini usahanya terus berkembang. Ia juga memperkerjakan dua orang di rumahnya dan sekitar 20 pekerja borongan lepas. Yang dimaksud pekerja borongan lepas, yakni mereka yang membawa pekerjaannya ke rumah mereka masing-masing, kemudian ketika sudah jadi disetorkan ke rumah Zainur.

“Sekarang pendapatan saya Alhamdulillah sudah berapa kali lipatnya pendapatan dari gaji pabrik Mbak, dan istri saya pun sudah tidak bekerja di pabrik lagi.  Saat ini fokus membantu saya di rumah dan mengurus anak” katanya.

Selain menyulap menjadi keset lipat, kain perca juga diproduksi menjadi bantal, bantal leher, bantal anak, guling, kasur, serta membuka jasa pemesanan bantal souvenir. “Si pemesan dapat meminta sendiri bahan luar dan isi dari bantal tersebut, termasuk motifnya. Kadang saya sampai harus membeli bahan baru yang sesuai permintaan konsumen,” ujarnya.

Di tangan Zainur, tidak ada limbah yang terbuang. Karena semua sisa potongan kain dapat dijadikan isi dalaman bantal, guling, dan kasur. Dengan mencacah atau menghaluskan kain-kain tersebut dengan mesin  hingga menjadi seperti kapuk. Banyak pedagang yang mengambil barang ke rumah produksi Zainur untuk dijual kembali dengan harga yang lebih mahal.

Zainur mengaku bersyukur dengan usaha yang dijalani sekarang. Karena ia dapat mempekerjakan orang-orang di sekitarnya, terutama para pengangguran yang sudah setengah baya, dan sudah tidak laku lagi bekerja di pabrik.

“Modal yang saya keluarkan terbilang sangat sedikit dibandingkan dengan hasil penjualan limbah yang sudah saya jadikan barang-barang. Semua yang ada di sekitar dapat kita manfaatkan, tinggal bagaimana kitanya, peka atau tidak,” katanya (mg47/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here