Polemik Transportasi Online Harus Diakhiri

140

SEMARANG – Polemik antara transportasi online dengan konvensional belum berakhir. Sebab masih menunggu Permenhub Nomor 32/2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek, yang telah revisi dan tengah disosialisasikan hingga November 2017.

Menurut Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, sebenarnya pihak transportasi konvensional itu tidak membenci transportasi online. Tapi hanya mempernasalahkan kesetaraan aturan. “Seperti masalah angkutan pelat hitam yang ada pada transportasi online diizinkan masuk di salah satu ruas jalan. Sementara transportasi konvensional dengan pelat kuning justru tidak diizinkan masuk,” kata Ganjar, dalam acara Mas Ganjar Menyapa, dengan tema: Pro Kontra Transportasi Online, di Puri Gedeh Semarang.

Ganjar menambahkan, pihak transportasi konvensional dengan online pernah dia kumpulkan untuk membaca bersama-sama Permenhub yang telah direvisi. Kemudian mereka diminta membuat daftar masalah.  Daftar isian masalah itu nanti bisa dibahas bersama untuk mencari jalan keluarnya. Kalau ada yang belum bisa diselesaikan, dibawa penyelesaiannya ke tingkat pusat.

“Tetapi nanti di Semarang dibahas secara matang dulu. Agar nanti di Jakarta persoalan itu siap dibahas untuk dipaparkan,” imbuhnya.

Soal ketidaksepahaman di antara dua pihak bisa disampaikan ke tingkat lebih tinggi. Sebelum persoalan dibawa ke Jakarta, persoalan dibahas di Semarang dulu agar nanti di Jakarta sudah siap pemaparannya. “Transportasi online dan segala bentuk layanan online mau tak mau harus diterima. Sebab ini adalah bagian dari peradaban,” tambahnya.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jateng, Satrio Hidayat mengatakan, Permenhub yang telah direvisi, sudah diterima pihaknya untuk disosialisasikan ke pihak transportasi online dan konvensional. “Mereka kami minta untuk mengisi daftar isian masalah,” katanya. (fth/zal)