Ibu Dini S Purwono Yth, saya kredit sepeda motor baru selama 3 tahun lewat perusahaan leasing. Sampai angsuran ke 30, karena kesulitan keuangan, saya sempat menunggak 2 bulan tagihan. Nah, waktu di jalan saya diberhentikan dua orang debt collector dan dipaksa untuk menyerahkan STNK berikut kunci motor. Apakah pihak leasing dibenarkan melakukan penarikan paksa motor? Bagaimana hukumnya? Bagaimana saya bisa mendapatkan motor itu kembali? Terima kasih.

Slamet Riyadi,

Banyumanik, Semarang +6285848838xxx

JAWABAN:
Bapak Slamet yang saya hormati. Saya turut prihatin dengan peristiwa tidak menyenangkan yang harus dialami Bapak sehubungan dengan kredit sepeda motor Bapak. Secara singkat, dapat saya katakan bahwa pihak leasing tidak dibenarkan secara hukum untuk melakukan penarikan paksa motor Bapak. Berikut penjelasannya.

Dalam setiap transaksi sewa guna usaha (leasing), pastinya ada perjanjian antara konsumen dengan perusahan leasing, termasuk klausul mengenai jaminan fidusia. Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda tersebut tetap dalam kekuasaan pemilik benda. Nah, dalam hal ini motor yang Bapak cicil angsurannya tersebut adalah objek fidusia, di mana hak milik atas motor tersebut telah berada pada perusahaan leasing meskipun fisik motor dalam penguasaan Bapak.

Perlu dicatat, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No 130/PMK.010/2012 tentang Pendaftaran Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan yang Melakukan Pembiayaan Konsumen Untuk Kendaraan Bermotor dengan Pembebanan Jaminan FIdusia (PMK 130), perusahaan leasing yang melakukan pembiayaan konsumen untuk kendaraan bermotor dengan pembebanan fidusia wajib mendaftarkan jaminan fidusia dimaksud pada Kantor Pendaftaran Fidusia seusai dengan UU No 42/1999 tentang Jaminan Fidusia. (UU Fidusia).

Pembebanan jaminan fidusia harus dilakukan dengan akta notaris dan didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Fidusia yang berada dalam lingkup tugas Kemenkumham. Pasal 3 PMK 130 dengan jelas menyebutkan bahwa perusahaan leasing dilarang melakukan penarikan benda jaminan fidusia, apabila Kantor Pendaftaran Fidusia belum menerbitkan sertifikat jaminan fidusia. Pelanggaran ketentuan ini dapat berakibat pemberian peringatan sampai kepada pencabutan izin usaha perusahaan leasing yang bersangkutan.

Dalam hal debitur menunggak angsuran (cidera janji), maka perusahaan leasing dapat melakukan eksekusi sesuai dengan pasal 29 UU Fidusia. Eksekusi jaminan fidusia dilakukan seperti eksekusi putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Jadi, harus ada teguran dan berakhir dengan  penjualan objek fidusia secara lelang berdasarkan perintah pengadilan. Hasil pelelangan akan digunakan untuk melunasi hutang debitur kepada perusahaan leasing. Penjualan dapat juga dilakukan secara bawah tangan apabila disetujui oleh debitur dan sepanjang untuk mendapatkan harga yang terbaik. Hal ini sejalan dengan prinsip yang ada dalam pasal 1154 KUHPer yang melarang kreditur serta merta mengambil objek jaminan dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya.

Prinsip dasar jaminan adalah bahwa kreditur tidak boleh mendapatkan lebih dari utang yang harus dibayarkan oleh debitur. Karena itu, apabila setelah pelelangan atau penjualan bawah tangan dan setelah pelunasan utang kepada perusahaan leasing masih ada sisa uang, maka sisa tersebut harus dibayarkan kepada debitur.  Dengan demikian jelas bahwa perampasan benda jaminan fidusia oleh perusahaan lelang adalah melawan hukum dan dapat dikenakan pasal perampasan (pasal 368 KUHP) atau pasal pencurian (pasal 365 KUHP).

Untuk mendapatkan motor Bapak kembali sebaiknya dilakukan negosiasi dengan perusahaan leasing dengan meminta perpanjangan waktu cicilan. Hal ini tergantung kepada kebijakan perusahaan leasing bersangkutan mengingat sudah ada 2 angsuran Bapak yang tertunggak. Namun sesuai pasal 4 UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, sebagai konsumen Bapak tetap memiliki hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.  Demikian jawaban dari saya. Semoga bermanfaat. (*)