Pernah Perankan Sosok Lesbian

Resti Aprida Mulya (DOKUMEN PRIBADI).
Resti Aprida Mulya (DOKUMEN PRIBADI).

TERJUN  ke dunia seni peran memberikan pengalaman tersendiri bagi Resti Aprida. Kecintaannya pada dunia ini sejak kecil membawanya menapaki panggung drama sekolah dan teater hingga kini. Bergabung dalam komunitas teater di universitas menjadi awal baru baginya untuk melebarkan karirnya di dunia seni peran.

“Aku sudah mulai main teater dari zaman SMA, sudah bermain sekitar 2 judul drama waktu itu dan jadi peran utama. Setelah kuliah, aku ikut komunitas Teater Diponegoro. Dari kecil aku memang suka banget sama dunia peran haha,” ujar gadis yang akrab disapa Resti ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sejak bergabung di komunitas teater, gadis kelahiran Tarusan, 3 April 1996 ini, kerap ditunjuk menjadi peran utama di beberapa pentas drama. Tak hanya itu, peran yang dimainkan pun sangat beragam.

“Pas gabung di Teater Diponegoro, aku jadi peran utama di dua kali pentas akbarnya. Perannya tuh macam-macam. Aku pernah jadi cewek India, anak sekolahan, mannequin atau boneka hidup, sama yang terakhir jadi lesbian,” papar putri sulung dari dua bersaudara ini.

Dikatakan, memainkan sebuah peran haruslah dibutuhkan penghayatan yang sangat mendalam agar dapat menjiwai peran itu  “Waktu memerankan sosok lesbian, aku harus membangun kedekatan sama lawan mainku, dan hal itu asing buat aku, karena itu pertama kali dapat peran seperti itu. Butuh waktu untuk bisa menjiwai dan dekat, tapi untungnya lawan mainku orangnya seru dan kita langsung nyambung, jadi untuk membangun kedekatan itu gak begitu susah buat kami berdua,” katanya.

Mendapatkan peran tersebut merupakan tantangan terbesar bagi Resti. Berbagai stigma dan celaan dari orang-orang, ia hiraukan. “Waktu aku main peran itu, sering orang ngomongin dari belakang mereka mengira aku lesbi beneran. Padahal itu hanya caraku untuk menjiwai peran. Awalnya aku sempat sedih, tapi lama-kelamaan aku mikir buat apa aku mikirin omongan orang-orang dan kapan lagi aku bisa bermain peran yang butuh penjiwaan seperti ini, itu yang membuat aku semangat,” tegasnya.

Dukungan dari orangtua dan orang-orang terdekat membuat Resti semakin bersemangat. Baginya bermain teater bukan hanya soal tampil baik di atas panggung. Lebih dari itu, kerja sama tim dan proses mendalami karakter itulah yang memberikan pelajaran tak ternilai. (mg42/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here