Kutuk Kekerasan Terhadap Wartawan Banyumas

293
TEATERIKAL : Wartawan Pekalongan dan Batang menggelar aksi protes kekerasan terhadap wartawan, di halaman Mapolres Kota Pekalongan dan dilanjutkan ke Kantor Satpol PP setempat (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
TEATERIKAL : Wartawan Pekalongan dan Batang menggelar aksi protes kekerasan terhadap wartawan, di halaman Mapolres Kota Pekalongan dan dilanjutkan ke Kantor Satpol PP setempat (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

PEKALONGAN–Puluhan wartawan dari media cetak, online, radio dan televisi di pantura Pekalongan dan Batang Jawa Tengah, berunjukrasa memprotes kekerasan yang menimpa empat rekannya di Banyumas, Selasa (10/10) kemarin.

Aksi awak media ini dimulai dengan jalan kaki menuju Mapolres Pekalongan Kota, sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mereka membawa berbagai tulisan mengutuk kekerasan yang menimpa sejumlah pekerja media. Seperti Tangkap Pelaku Kekerasan, Save Jurnalis, Profesi Wartawan Dilindungi Hukum, Wartawan Bukan Musuh, Apa Salah Kami, Lawan Premanisme, sampai Kapolres Banyumas Sehat?

Sampai di pintu gerbang Mapolres, rombongan pendemo langsung ditemui Wakapolres Pekalongan Kota Kompol Kristanto dan Kasat Intel AKP Mandala. Setelah berorasi, rombongan awak media masuk ke halaman Mapolres dan menggelar aksi keprihatinan terhadap pelanggaram UU Pers dan penganiayaan yang dilakukan aparat penegak hukum. Mereka juga meletakkan kartu pers dan alat kerja seperti handycam dan kamera foto di bawah tiang bendera.

Kompol Kristanto mengatakan bahwa selama ini di Pekalongan sendiri, komunikasi antara pihak Polisi dan awak media terjalin baik. “Selama ini tidak pernah terjadi permasalahan, semua berjalan baik. Semoga ke depan juga seperti ini,” ujar Wakapolres.

Terkait kejadian di Banyumas, Wakapolres menegaskan kasus tersebut sudah ada yang menangani. “Saya jamin di Pekalongan tidak akan ada kasus seperti itu,” lanjutnya.

Menurutnya, kejadian di Banyumas akan menjadi bahan evaluasi pihaknya agar tidak terjadi kasus serupa di wilayah hukum Polres Pekalongan Kota. “Kejadian itu akan jadi bahan evaluasi bagi kami agar kemitraan dengan awak media tetap terjaga dengan baik. Kami berharap kejadian di Banyumas tidak terjadi di Kota Pekalongan,” ujarnya.

Setelah menyampaikan aspirasi di Polres Pekalongan Kota, puluhan jurnalis melanjutkan aksinya di kantor Satpol PP Kota Pekalongan di Jalan Majapahit Pekalongan Barat. Berbeda dengan aksi di Mapolres, di depan gerbang kantor Satpol PP, awak media menggelar aksi teaterikal. Berakting sedang terluka, kemudian terbaring di tengah jalan. Kemudian rekannya, menaruh lembaran poster, alat kerja serta kartu identitas media. “Kami mengutuk keras tindak kekerasan terhadap empat rekan seprofesi kami di Banyumas,” ujar koordinator aksi, Suryono.

Ditegaskan Suryono, aksi ini sebagai bentuk solidaritas terhadap empat jurnalis Banyumas yang mengalami kekerasan oleh oknum Satpol PP dan Polisi saat meliput pembubaran demo warga terkait PLTPB Gunung Slamet di depan kantor Bupati Banyumas, Senin malam (9/10) kemarin. Satu orang di antaranya dipukul dan diinjak-injak oleh petugas. Sementara jurnalis lain, alat liputannya dirampas paksa dan diminta menghapus file foto. “Kami menuntut agar pelaku penganiayaan diproses hukum sesuai perundang-undangan yang berlaku,” lanjut Suryono.

Kepala Satpol PP Kota Pekalongan Muadi mengatakan salut dengan aksi para awak media, selain berjalan tertib juga santun. “Bisa menjadi contoh bagi seluruh elemen masyarakat dalam menyampaikan pendapat,” ucap Muadi.

Terkait aksi kekerasan tersebut, pihaknya mengutuk keras. Baginya awak media adalah rekan dalam menegakkan Perda sesuai tugas Satpol PP. Bahkan, selama ini, media turut mengawal kegiatan dalam menegakkan Perda di Kota Pekalongan, serta memberikan informasi kepada masyarakat terkait Perda yang berlaku. “Saya harap kerjasama ini terus berjalan baik ke depan, jangan sampai ada kejadian seperti ini di Kota Pekalongan,” tuturnya. (han/ida)