Ingin Memfasilitasi Pasar Tradisional dengan Digital

Tumbas.In, Aplikasi Ojek Pasar Asli Semarang

INOVATIF: Muhammad Fuad Hasbi dan driver Tumbas.In saat mengantar pesanan (DOKUMEN TUMBAS.IN).
INOVATIF: Muhammad Fuad Hasbi dan driver Tumbas.In saat mengantar pesanan (DOKUMEN TUMBAS.IN).

Di era yang serba digital, rasanya setiap masyarakat menginginkan semua hal dengan praktis. Tumbas.in salah satu start-up asal Semarang, membuat layanan ojek khusus untuk berbelanja ke pasar tradisional. Seperti apa?

ESTIKA WIDA

INTERNET memang sudah menjadi bagian yang paling melekat pada generasi milenial. Di era ini, banyak ide-ide baru yang tercipta dan direalisasikan oleh para pemuda-pemudi Indonesia. Tumbas.In lahir di Kota Semarang melalui gerakan 1000 start-up. Bersama keempat temannya, Muhammad Fuad Hasbi, berhasil mendirikan Tumbas.In.

Tumbas.In itu adalah aplikasi berbelanja online, tapi khusus berbelanja ke pasar tradisional saja. Jadi, ibu-ibu rumah tangga yang bekerja dan belum sempat berbelanja bisa menggunakan platform kami untuk berbelanja,” jelas pria kelahiran Palopo, 2 Juli 1995 ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pertemuannya bersama keempat temannya, yakni Bayu, Aji, Faozi dan Tri berawal dari sebuah acara 1000 start-up, dan dari sana muncul kesadaran dari Fuad dan teman-temannya tentang penurunan minat orang berbelanja di pasar tradisional. Karena itu, Tumbas.In mengkhususkan jasa mereka sebagai ojek untuk berbelanja ke pasar tradisional.

“Jadi, kenapa Tumbas.In khusus untuk berbelanja ke pasar tradisional saja, karena kami sadar bahwa pasar tradisional itu dari tahun ke tahun terjadi penurunan, padahal kunci perputaran perekonomian itu dari pasar tradisional, mulai dari petani, pedagang dan lain sebagainya. Makanya kita berpikir untuk membantu mereka dengan cara membuka platform ini,” ujar pria yang akrab disapa Fuad ini.

Istilah Tumbas  sendiri berasal dari Bahasa Jawa kromo yang berarti beli, Tumbas.In berarti beliin. Saat ini, Tumbas.In memiliki lima driver untuk mengantarkan pesanan dari pelanggan, dan kelima driver itu dapat menjangkau pesanan yang ada di Kota Semarang.

“Jadi, dengan kelima driver itu kami bisa menjangkau satu Semarang, bagaimana bisa? Jadi, jam operasional pasar tradisional itu dari pukul 06.00 – 14.00, jadi kami hanya menerima pesanan sesuai dengan jam operasional pasar tradisional saja. Tapi, banyak juga pelanggan yang pesan melebihi jam operasional. Biasanya, kami ikutkan ke pengiriman besoknya, jadi setiap driver membawa tiga – empat pesanan dalam sekali antar,” terang Fuad.

Ke depannya Fuad bersama teman-temannya ingin memfasilitasi pasar tradisional dengan digital.

“Salah satu faktor inflasi itu dilihat dari harga cabai dan bawang, dari situlah mimpi kami ketika lima belas tahun ke depan platform kami bisa mengontrol semuanya. Bukan hanya pengantaran saja, tapi seluruh pasar tradisional harus difasilitasi dengan digital,” paparnya.(*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here