TIDAK GRATIS : Gunung Tidar dilihat dari lantai 2A Artos Mall Magelang. Pemkot Magelang telah menarik retribusi bagi pengunjung di tempat wisata spiritual ini (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU).
TIDAK GRATIS : Gunung Tidar dilihat dari lantai 2A Artos Mall Magelang. Pemkot Magelang telah menarik retribusi bagi pengunjung di tempat wisata spiritual ini (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU).

MAGELANG–Wali Kota Sigit Widyonindito mewacanakan bakal membangun gardu pandang di objek wisata gunung Tidar. Hal itu disampaikan oleh Sigit saat memimpin apel PNS di halaman belakang kantor Setda Kota Magelang, Selasa (10/10) kemarin. Pendirian gardu pandang upaya serius Pemkot membenahi kawasan gunung Tidar. Gunung Tidar diharapkan mampu menampung 300 wisatawan. Sigit berencana, gardu pandang akan dibangun memanjang, sekitar 100 meter. “Paling tidak bisa memuat 300 pengunjung gunung Tidar.”

Selain itu, Sigit berencana menata area parkir, juga memperlebar akses masuk kendaraan menuju Tidar. Harapannya, rombongan wisatawan yang datang menggunakan bus, semuanya bisa tertampung. “Sehingga bus-bus rombongan yang akan masuk ke kawasan gunung Tidar bisa lebih mudah. Terutama saat melakukan maneuver.”

Dikatakan, pembangunan fasilitas tambahan tersebut, bisa meningkatkan angka kunjungan wisatawan ke area hutan Kota Magelang tersebut. Apalagi, kunjungan yang ada selama ini, lebih banyak berupa wisata ziarah. Terkait penarikan retribusi, dana yang masuk akan dikembalikan untuk pemeliharaan, perbaikan, serta peningkatan layanan bagi wisatawan. Wali Kota Sigit optimistis, jumlah pengunjung gunung Tidar ke depan terus mengalami lonjakan.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Sri Retno Murtiningsih, menuturkan, pihaknya baru akan membahas rencana pembuatan gardu pandang, seperti wacana wali kota. Sri bahkan mengklaim sudah menggodok rencana untuk membangun rest area di area gunung Tidar. “Rencananya ada di dua titik.” Upaya lainnya penataan para pedagang asongan yang selama ini berjualan di sekitar jalur pendakian. “Kita akan lakukan penataan kios, sehingga para pedagang asongan yang selama ini tidak teratur, akan terwadahi. Mereka bisa menyewa kios.” (put/isk)