Belum Pernah Dipugar, Usianya Lebih Tua dari Perang Diponegoro

Melongok GPIB Beth-El di Alun-Alun Magelang

CAGAR BUDAYA: Bangunan Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Beth-El Magelang tampak megah. Meski memasuki usia dua abad, belum pernah sekalipun dipugar (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).
CAGAR BUDAYA: Bangunan Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Beth-El Magelang tampak megah. Meski memasuki usia dua abad, belum pernah sekalipun dipugar (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).

Ada yang menarik pada kondisi Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Beth-El Magelang di kawasan Alun-alun Kota Magelang. Sejak dibangun pada 1817 silam, bangunan kuno ini tidak pernah mengalami pemugaran.

AGUS HADIANTO, Magelang

BANGUNAN bergaya arsitektur gothic ini berada di kawasan Alun-alun Kota Magelang. Tepatnya, di samping toko modern Trio Plasa. Bangunan setinggi sekitar 15 meter ini, memiliki ciri khas lebar bangunan yang langsing dengan menara menjulang tinggi. Pintu utama dan jendela berbentuk melengkung, meruncing ke atas.

Ya, bangunan GPIB Beth-El Magelang masih tampak kokoh. Juga berfungsi dengan baik. Yang menarik, sejak berdiri hingga sekarang, hampir tidak pernah alami pemugaran. Hanya beberapa kali saja pengecatan ulang. Sekitar 250-300 KK jemaat, rutin beribadah di gereja ini.

Majelis GPIB Beth-El Magelang, dr Reno Ranuh, menjelaskan, berdasarkan literatur yang dibaca, gereja Kristen ini merupakan tertua di Kota Magelang. Dibangun pada 1817. Tahun yang sama, ketika kota ini disahkan sebagai ibu kota karesidenan Kedu (Besluit van Comissaris General der Nederlandsch Indietanggal 14 Maret 1817 Nomor 4).

Reno menyebut, jika angka tersebut menunjukkan tahun berdirinya gereja, maka sampai sekarang (2017), usia GPIB Beth-El sudah 200 tahun alias 2 abad. Lima tahun lebih muda, dari Masjid Agung Kauman Magelang yang dibangun pada 1812. Yang pasti, usia gereja lebih tua dari masa Perang Diponegoro: 1825-1830.

GPIB, menurutnya, semula berdiri di atas tanah seluas 4.391 meter per segi. Namun kini hanya berdiri di atas tanah seluas 2.591 meter per segi. “Gedung yang tampak terlihat anggun dengan seni arsitektur masa kolonial Belanda ini, sebagai cagar budaya tua kebanggaan Kota Magelang.”

Reno menjelaskan, ketika Alun-Alun Kota Magelang dibangun oleh Adipati Danuningrat I atas restu Sir Thomas Stamford Raflles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda semasa kekuasaan Inggris (1811-1816), fungsi Alun-Alun berubah menjadi simbol pusat pemerintahan.

“Setelah kembali ke pangkuan Belanda, kawasan Alun-Alun makin berkembang. Pemerintah Hindia Belanda memilih area Alun-Alun untuk mendirikan tempat ibadah bagi penganut agama Kristen Protestan guna memenuhi kebutuhan rohani komunitas Eropa.”

Masih menurut Reno, dulu institusi yang diserahi tanggung jawab mengelola gereja adalah De Indische Kerk (Gereja Hindia). Lokasi GPIB yang cukup strategis, menunjukkan bahwa GPIB disediakan untuk pelayanan rohani jemaat berkategori kelompok penting.

Setelah rezim kolonial Belanda berakhir 1945, sambung Reno, De Indische Kerk harus melepas tanggung jawabnya. Mereka lantas menyerahkan bangunan gereja ini ke lembaga agama Kristen Protestan De Protestansche Kerk in Westelijk Indonesia (GPIB) pada 31 Oktober 1948.

“Sementara untuk kelompok pribumi didirikan gereja Protestan di Kebonpolo pada 1923 (selesai dibangun tahun 1927). Gereja ini dikenal dengan nama Gereja Ambon, karena saat itu banyak jemaat dari Ambon atau Maluku,” kata Reno yang juga dokter bedah tulang RSUD Tidar.

Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang (KTM), Bagus Priyana masih meragukan ketepatan tahun berdirinya GPIB Beth-El Magelang. Alasannya, ia sampai sekarang belum menemukan referensi dari sumber primer yang menunjukkan tahun pembangunan gereja tersebut.

“Uniknya, prasasti berdirinya gereja ini pun tidak ditemukan. Padahal, prasasti biasanya menjadi patokan tahun berdirinya suatu bangunan. Meski belum pasti tahun 1817 atau berapa, saya meyakini usia bangunan ini memang lebih tua dari masa Perang Diponegoro.” (*/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here