TANPA AIR—Saluran irigasi di Desa Ponolawen Kecamatan Kesesi yang kering karena rusak dan tidak lagi dialiri air (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG).
TANPA AIR—Saluran irigasi di Desa Ponolawen Kecamatan Kesesi yang kering karena rusak dan tidak lagi dialiri air (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG).

KAJEN–Sebanyak 140 titik saluran irigasi di 16 desa pada Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan, kini mengalami rusak parah dan tidak bisa lagi digunakan. Akibatnya, sekitar 60 ribu hektare sawah di 16 desa tersebut terancam puso atau kering.

Air dari bendungan Gembiro dan bendungan Bronjongan di Kecamatan Kesesi tak bisa lagi mencapai sawah-sawah di Sragi karena kerusakan saluran irigasi ini. Sebagian besar kerusakan terdapat pada tebing irigasi dan fondasi yang jebol.

Kepala Desa Kedungjaran, Kecamatan Sragi, Saridjo mengungkapkan, irigasi yang rusak membentang dari Desa Ponolawen hingga Desa Kedungjaran. Jika Pemerintah Kabupaten Pekalongan atau Dinas Pengairan Sumber Daya Air (PSDA) tidak memperbaiki irigasi yang rusak, maka pada 2018 mendatang, sawah seluas 60 ribu hektare di 16 desa akan mengalami kekeringan.

“Kerusakan terparah ada di Desa Purwodadi dan Ponolawen, lebih dari 60 titik irigasi yang rusak,” ungkap Saridjo sambil menunjukan saluran irigasi yang rusak, Senin (9/10).

Saridjo juga mengatakan, saat ini petani mengandalkan pompa air untuk menarik air dari sungai Kesesi dan Sragi agar sawah mereka bisa ditanami. Biaya sewa pompa air yang harus dikeluarkan sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per hektare lahan.

Menurutnya, jika setiap musim tanam petani harus menyewa pompa air, maka dipastikan petani akan mengalami kerugian, jika lahan yang dimiliki tidak lebih dari 5 hektare. Karena biaya tanam per hektare hingga panen lebih dari Rp 7 juta, dan ditambah biaya pompa air sebesar Rp 2 juta.

“Bisa dibayangkan biaya petani yang harus dikeluarkan, jika ada 60 ribu hektare sawah mengalami kekeringan hanya karena saluran irigasi sawah yang rusak dan sudah 5 tahun lebih belum diperbaiki,” kata Saridjo.

Sementara itu, Kasi Sarana dan Prasarana Pembangunan Pengairan Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Pekalongan Budi Sutanto mengatakan, rusaknya saluran irigasi sawah tidak hanya terjadi pada Kecamatan Sragi, tapi juga pada Kecamatan Bojong dan Siwalan.

Pihaknya tidak dapat berbuat banyak, karena kerusakan saluran air irigasi tersebut bukan kewenangan PSDA Kabupaten Pekalongan, namun kewenangan dari pihak PSDA Jawa Tengah.

“Kerusakan saluran irigasi sawah itu menyatu dengan dengan kerusakan bendungan yang ada di Kabupaten Pekalongan. Namun karena bukan kewenangan dari Pengairan Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Pekalongan. Maka kami tidak bisa memperbaikinya, itu kewenangan dari PSDA Jateng. Kami hanya sebatas mengusulkan saja, bukan memperbaikinya,” tegas Budi. (thd/ton)