SEMARANG-DPRD terus mengampanyekan Raperda Ketahanan Keluarga di Jawa Tengah. Dewan meminta agar kabupaten/kota atau daerah lain, bisa ikut mendukung. Karena semua dilakukan untuk meningkatkan keharmonisan dan pemberdayaan keluarga di Jateng.

Anggota Komisi E DPRD Jateng, Sri Marnyuni mengatakan bahwa ketahanan keluarga saat ini penting diupayakan. Melalui perda, dapat menjadi stimulan untuk menyejahterakan keluarga sekaligus menjadi bentuk perhatian Pemprov terhadap kehidupan berkeluarga di Jateng. “Raperda tersebut menunjukkan pemerintah daerah berkewajiban mendukung fungsi keluarga dan peningkatan kualitas keluarga dari sisi penyetaraan gender dan perlindungan anak,” katanya.

Ia menambahkan, perda itu bisa mewujudkan kualitas keluarga dalam pemenuhan kebutuhan fisik material dan spiritual secara seimbang sehingga dapat menjalankan fungsi keluarga secara seimbang. Ketahanan keluarga diarahkan pada kondisi keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan, serta mengandung kemampuan guna hidup mandiri. “Keluarga merupakan kunci utama untuk mewujudkan generasi yang bagus. Jika keluarga bagus, pasti akan melahirkan generasi emas,” tambahnya.

Di tengah pengaruh globalisasi dan perkembangan di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan Iptek telah menggeser tatanan ketahanan keluarga. Hal itulah yang perlu dipertajam dalam perda dimana keluarga memiliki jati diri, spiritualitas, dan kepribadian dalam kesejahteraan sehingga dapat menjadi basis kebijakan publik.

Wakil Ketua DPRD Jateng, Ahmadi mengatakan, kasus kekerasaan dalam rumah tangga harus menjadi perhatian serius. Karena keluarga merupakan inti fondasi sebuah bangsa dan keluarga seseorang dapat berkembang menjadi keluarga yang baik dan kuat. Jawa Tengah, berdasarkan Rintisan Indeks Ketahanan Keluarga (R-IKK) yang dikembangkan BPS dan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berada di peringkat 6. “Ketahanan keluarga merupakan sebuah inti penting dalam pembangunan bangsa,” katanya.

Ketahanan keluarga harus dijaga kerena belakangan ini isu pergaulan bebas merusak generasi muda. Terutama anak-anak yang bagaimana bila tidak dapat diproteksi maka dapat merusak inti keharmonisan dalam berkeluarga. “Ketika ada persoalan dalam keluarga dan tidak bias diselesaikan, dampaknya sangat besar. Baik keutuhan keluarga maupun psikologis anggota keluarga,” tambahnya. (fth)