SEMARANG-Dana hibah Rp 18 miliar yang sedianya akan diberikan kepada Ikatan Motor Indonesia (IMI) Jawa Tengah, mendapat respons beragam. Sebagian anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang tidak setuju, karena dinilai sebagai penggunaan anggaran yang tidak menggunakan skala prioritas. Sebab, Kota Semarang masih memiliki banyak pos pembangunan infrastruktur yang bersifat mendesak. 

Namun demikian, sebagian anggota dewan menyetujui karena pertimbangan anggaran tersebut akan digunakan untuk penyelenggaraan event bergengsi yang bisa mengangkat Kota Semarang di tingkat dunia. Adalah Kota Semarang menjadi tuan rumah event Internasional MotoCross Gran Prix (MXGP) yang nantinya dihelat di Sirkuit Mijen setelah selesai dibangun. 

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang, Supriyadi mengapresiasi langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk menjadi tuan rumah event Internasional Moto Cross Gran Prix (MXGP) yang sedianya diselenggarakan April 2018 mendatang. “Tentunya kami mengapresiasi dan mendukung Pemkot Semarang menjadi tuan rumah dalam MXGP. Karena sebetulnya banyak sekali kabupaten kota yang rebutan untuk menjadi tuang rumah MXGP ini,” kata Supriyadi, Sabtu (7/10) lemarin. 

Dikatakannya, event MXGP tersebut berskala internasional. Sehingga mampu memberikan dampak positif bagi pariwisata Kota Semarang. “Diperkirakan akan ada lebih dari 2.000 orang mancanegara yang mendatangi Kota Semarang,” katanya.

Perhelatan berskala internasional itu, menurut Supriyadi, akan mampu mengangkat dan mengenalkan berbagai potensi yang dimiliki Kota Semarang. Termasuk mengangkat bidang ekonomi. “Sebab, peserta dari berbagai negara mengikuti gelaran MXGP tersebut. Pasti mereka akan membawa pasukan, crew, tim yang jumlahnya tidak sedikit,” katanya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi sebelumnya juga telah menjelaskan apa maksud dan tujuan rencana diberikannya dana hibah Rp 18 miliar kepada IMI Jawa Tengah teraebut. Anggaran tersebut terkait rencana kegiatan Internasional MotoCross Gran Prix (MXGP) itu. “Event tersebut sebagai upaya membangun kebanggaan warga Kota Semarang di tingkat internasional. Ini jadi kebanggaan, karena Bangkok dan Palembang menawarkan diri. Tapi Kota Semarang malah yang ditunjuk oleh federasi resmi motocross internasional untuk menjadi penyelenggara event bertaraf dunia itu,” kata Hendi.

Dia yakin, agenda bertaraf internasional itu bisa mengangkat dan mempromosikan Kota Semarang dari segala sektor ke kancah dunia. Tentu, hal itu akan berdampak meningkatnya geliat ekonomi. “Akan ada 30 tim dari luar negeri yang akan mengikuti turnamen tersebut. Satu tim kemungkinan akan membawa 50 orang sampai 100 orang. Kemungkinan akan ada 2.000 bule yang datang di Kota Semarang. Pasti akan membuat hotel penuh, jajanan, dan berbagai oleh-oleh asal Kota Semarang laris. Semua aktivitas ekonomi akan bergeliat,” bebernya. 

Meski begitu, Hendi mengaku tidak akan memaksakan kegiatan itu jika sejumlah anggota dewan menolaknya. “Kalau ditolak ya gimana lagi? Kami tidak terlalu memaksakan diri,” katanya. 

Penolakan itu disampaikan salah satunya oleh Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Joko Santoso. Ia menilai rencana kegiatan MXGP yang menelan hibah Rp 18 miliar itu tidaklah tepat. Sedangkan di dalam revisi Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD), jelasnya, bahwa fokus Pemkot Semarang adalah konsentrasi terhadap infrastruktur. “Lha ini tidak terkait infrastruktur dan out put yang didapatkan juga tidak jelas. Nilai Rp 18 miliar jelas nilai yang tidak sedikit. Penganggaran hendaknya memertimbangkan skala prioritas dan pro rakyat,” kata dia. (amu/ida)