Oleh : HjChristinaPurwaningsih SPd MPd
Oleh : HjChristinaPurwaningsih SPd MPd

KENDALA yang menjadi tantangan bagi pembelajaran Bahasa Jawa berpengaruh terhadap pengembangannya. Pengembangan Bahasa Jawa bertalian erat dengan upaya ke arah rekayasa sosial yang sasarannya adalah terciptanya siswa sebagai penutur Bahasa Jawa yang berkepribadian kokoh di tengah-tengah penggunaan Bahasa nasional yang berkualitas. Hal tersebut bukan pekerjaaan yang mudah, melainkan juga harus ada kesungguhan dari guru Bahasa Jawa. Kesungguhan itu ada pada perencanaan, kemampuan, pelaksanaan media pembelajaran, dan evaluasi. Lalu bagaimana strategi agar Bahasa Jawa menjadi Bahasa yang diminati?

Konsep strategi pembelajaran bertalian dengan azas belajar. Azas belajar adalah azas yang dirumuskan berdasarkan teori psikologi. Ada 2 hal yang perludi perhatikan dalam memahami kegiatan belajar. Dua hal ini dibahas bersama dalam satu teori belajar. Pertama, mengenai bentuk perihal apa yang dipelajari. Kedua, mengenai proses berlangsungnya kegiatan belajar.

Bahan ajar untuk pengajaran Bahasa Jawa di SMP sudah tersedia. Para guru Bahasa Jawa yang kompeten telah menyumbangkan gagasannya untuk menjadikan siswa agar menjadi pemilik pengetahuan kebahasaan Bahasa Jawa dan agar mereka memiliki kemahiran menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam keluarga penutur Bahasa Jawa, bahasa ini sudah hidup dipakai untuk pelbagai keperluan. Jika Bahasa Jawa sudah dipakai untuk berkomunikasi dalam pelbagai hal, dan jika komunikasi itu berjalan dengan lancar tanpa kendala kebahasaan, permasalahan apakah yang ada dalam pembelajaran Bahasa Jawa itu? Karena Bahasa Jawa sudah dapat digunakan untuk berkomunikasi, bukankah sudah tepat apabila bahan ajar yang disajikan sengaja disusun dengan memperatikan “kebaruan-kebaruan” yang sengaja ditampilkan?

Jawa Ngoko

Bahasa Jawa tingkat ngoko sudah biasa dipakai untuk berkomunikasi dengan siapa saja, bahkan untuk “berbicara dalam hati”. Karena itu, dalam rangka pembelajaran Bahasa Jawa seyogyanya Bahasa Jawa tataran ngoko itu tidak dijadikan bahan ajar yang utama. Sebagai bahan ajar yang kurang utama atau yang bersifat “tambahan” kiranya dapat juga Bahasa Jawa tataran ngoko itu dijadikan bahan ajar, tentu saja dengan syarat.

Berkenaan dengan berbagai prinsip yang disebutkan dalam acuan teoritik yang perlu diupayakan adalah mengenai pemakaian buku teks pelajaran Bahasa Jawa. Jadi, penyampaian materi pelajaran sebaiknya dilaksanakan dengan bahasa Jawa- tataran krama dan soal-soal tes sebaiknya juga disampaikan dalam bahasa Jawa tataran krama pula. Hal ini dikarenakan siswa terbiasa untuk memperhatikan satu macam tataran bahasa, yakni hanya krama.

Selanjutnya, perlu dikembangkan usaha untuk mengatur bahan ajar dengan menerapkan azas-azas yang sudah dikemukakan. Karena itu, hasil yang diharapkan adalah bahan ajar yang dapat mempercepat dicapainya keterampilan menggunakan Bahasa Jawa tataran krama secara lisan dan tertulis serta bahan ajar yang sederhana. Sehingga mudah disajikan dan mudah dicerna oleh siswa. Perlu ditambahkan di sini bahwa berlatih menulis hendaknya disiapkan berdasarkan kompetensi dasar pembelajaran Bahasa Jawa.

Di samping pembinaan bahasa dan sastra daerah yang dilaksanakan melalui pembelajaan bahasa ada pula digariskan pembinaan bahasa dan sastra daerah. Pemasyarakatan bahasa dan sastra daerahditujukan pada upaya peningkatan sikap positif terhadap bahasa dan sastra daerah dan penciptaan situasi yang kondusif dalam penggunaan Bahasadan sastra daerah dengan mengacu nilai-nilai budaya masyarakat setempat.

Bahasa Jawa yang menyenangkan dan membangkitkan minat perlu dilakukan secara berkelanjutan. Bahasa Jawa (daerah) agar terus dilestaikan, dan dijadikan sebagai entitas serta identitas budaya yang adiluhur. Untuk itu,  kelangsungan hidup bahasa Jawa perlu dibina dan dikembangkan melalui strategi pembelajaran bahasa Jawa di SMP dilakukan dengan mengacu pada silabus dan rencana pelaksanaan pengajaran (RPP) yang ditetapkan. (*/aro)