Sedimentasi Tinggi, Gampang Banjir

Musim Hujan, Warga Semarang Waspadai Banjir

47
BANGUN PENAHAN BANJIR : Pekerja sedang membuat Pelcape sepanjang 2500 meter di Kali Tenggang sebagai penahan banjir (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BANGUN PENAHAN BANJIR : Pekerja sedang membuat Pelcape sepanjang 2500 meter di Kali Tenggang sebagai penahan banjir (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Memasuki musim hujan awal Oktober ini, intensitas hujan di Kota Semarang mulai meningkat. Masyarakat di beberapa daerah langganan banjir, mulai was-was. Mereka khawatir, dengan meluapnya sungai besar seperti Banjir Kanal Timur (BKT), Sungai Babon, Sungai Pengkol Meteseh, Sungai Beringin, Sungai Plumbon Mangkang Kulon, Sungai Desel dan lainnya.

WARGA di wilayah RW 26 Blok D Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang resah dengan talud penyangga banjir Kali Pengkol yang bocor sepanjang 30 meter.  Sebelumnya talud setinggi satu meter tersebut tidak mampu menahan air, sehingga air masuk ke rumah warga.

“Dulu talud itu semula setinggi satu meter. Kemudian oleh Pemkot Semarang ditinggikan menjadi 150 sentimeter dengan harapan tidak banjir. Justru sekarang malah bocor,” kata salah seorang warga, Kristiyanto.

Selain menambah peninggian talud, Pemkot juga membuat bronjong sepanjang 100 meter dengan harapan ketika ada luapan air tidak terjadi pengikisan di bibir sungai. “Harapannya air yang mengarah ke perumahan warga dapat ditahan oleh bronjong tersebut,” imbuhnya.

Diakuinya, Kali Pengkol meluap biasanya kiriman dari Ungaran. Sebenarnya ketika hujan berlangsung, sudah ada petugas yang jaga di pintu pengendali banjir yang letaknya di Klipang. Jika Kali Pengkol meluap, apabila pintu air itu dibuka, yang banjir wilayah Kaligawe dan Rowosari. Tetapi kalau ditutup, yang banjir wilayah Dhinar Indah Blok D ini. “Ini serba sulit. Ketika Kali Pengkol meluap, warga Blok D berjaga-jaga. Tetapi kalau sudah mendekati bibir talud, warga bersiaga untuk pindah atau mengungsi,” katanya.

Kristiyanto yang tinggal di Dhinar Indah sejak 2013 ini sudah mengalami bencana banjir bandang yang terjadi pada 15 Desember 2016, kemudian 15 Januari dan 15 Februari 2017. “Sejak banjir bandang, warga yang semula menempati rumah Blok D berkurang, karena takut. Kalau musim penghujan, mereka lebih banyak mengontrak rumah yang aman,” ujarnya.

Sekretaris Lurah, Sudaryani mengatakan wilayah rawan banjir di Kelurahan Meteseh meliputi RW 6, 7, 9, 25, 26, dan 29. Namun paling rawan justru di RW 26. “Banjir yang terjadi di beberapa RW tersebut yang paling parah RW 26. Banjir itu kiriman dari Ungaran,” kata Sudaryani yang didampingi oleh Kasi Kesos Suparmi.

Sedangkan bantuan yang telah diberikan Pemkot adalah peninggian talud di wilayah RW 26 dan membangun jembatan yang menghubungkan antara RW 6 dan 7. “Jadi mereka yang wilayahnya terkena banjir, sudah diberikan bantuan. Dengan harapan agar tidak terjadi banjir lagi,” imbuhnya.

Ketua Kampung Siaga Bencana, Kelurahan Meteseh, Winarno mengaku hanya bisa pasrah kepada Pemkot. Pihaknya berharap Pemkot dapat mempertemukan antara warga dengan pengembang agar mendengar keluhan warga. “Terkait tanggul yang bocor, kami mengajak warga untuk melakukan kerjabakti,” katanya.

Sementara itu, salah seorang warga Sawah Besar, Kaligawe, Budi Riyadi berharap Pemkot membersihkan dan melakukan normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) yang mengalami pendangkalan. Selama ini, Pemkot belum membersihkan lumpur. “Akibatnya kalau hujan, mengakibatkan banjir. Tetapi kalau aliran sungai dibersihkan, kemungkinan banjirnya kecil,” ungkapnya.

Budi mengaku biasanya setahun sekali dilakukan pembersihan aliran sungai BKT, tetapi untuk tahun ini belum ada pembersihan sungai sehingga dimungkinkan bisa terjadi banjir. “Biasanya di wilayah Sawah Besar mulai dari Gang 10 sampai 13, kalau air sungai banjir dampaknya masuk ke perkampungan warga,” katanya.

Selain penyebab banjir lainnya, katanya, Jembatan Kaligawe yang kurang tinggi menyebabkan aliran sungai kurang lancar karena tersumbat oleh sampah yang menumpuk. Akibatnya air lari ke permukiman penduduk di Jalan Sawah Besar Kaligawe.

Sedangkan Sungai Beringin yang melintasi dua kelurahan yakni Mangkang Wetan dan Mangunharjo Kecamatan Tugu ini menjadi biang saat banjir tiba. Beberapa tanggul di wilayah Mangkang Wetan RW 1, 3,4,5,6 dan 7  rawan jebol, jika curah hujan tinggi.

“Khusus RW 1 Kelurahan Mangkang Wetan, kerap menjadi korban meluapnya Sungai Beringin. Bersyukur, tanggul sudah ditinggikan sehingga warga di RW 1 sedikit lega. Namun kalau Sungai Beringin meluap, kami tetap was-was, apalagi kalau hujan beberapa jam tidak berhenti,” ujar Rojikin Ketua RT 2 RW 1 Kelurahan Mangkang Wetan.

Februari lalu, Sungai Beringin kembali tidak bisa menahan deras aliran. Akibatnya, ratusan rumah warga di RW 3,4,5,6 dan 7 tergenang air, lantaran dua titik tanggul jebol sepanjang 20 meter. “Sendimentasi di Sungai Beringin cukup parah, namun normaliasi belum dilakukan. Padahal setiap hujan debet air yang tinggi langsung meluap dan menjebolkan tanggul,” tutur Sunarto, Warga RW 7 Kelurahan Mangkang Wetan.

Selain adanya sendimentasi, banjir yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini diakibatkan oleh sampah yang menyumbat. Dia menduga, sampah-sampah berupa potongan kayu dan bambu. “Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai masih minin, hingga kami yang menjadi korbannya,” ujarnya.

Pemandangan yang tak jauh berbeda terjadi di Sungai Plumbon yang melintasi dua kelurahan yakni Mangkang Wetan dan Mangunharjo, sendimentasi di sungai ini cukup tinggi. Bahkan jika hujan deras terjadi selama tiga jam non stop, dipastikan ratusan rumah warga dan areal persawahan akan tergenang air luapan sungai Plumbon.

Terpisah, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kelurahan Sawah Besar, Mulyadi, mengatakan permasalahan banjir masih terjadi di tiga kelurahan, yakni Tambakrejo, Kaligawe dan Sawah Besar. “Dampak banjir masih sangat terasa, karena sampai sekarang belum ada normalisasi. Otomatis masyarakat berharap secepatnya dilakukan normalisasi sungai,” katanya.

Untuk wilayah Sawah Besar, penanganan sementara dilakukan dengan memanfatkan Polder Pasar Waru. Menurutnya, penyebab utama banjir karena sedimen sungai besar yakni Banjir Kanal Timur yang terlalu tinggi. “Hanya butuh waktu tiga jam hujan, permukiman langsung tergenang. Terutama di Tambakrejo, Kaligawe dan Sawah Besar. Genangan air di permukiman, ketinggiannya antara kurang lebih 30 – 50 cm. Kondisi warga tetap baik-baik saja, mereka tetap di rumah. Hanya saja kakinya pada rangen (terserang penyakit kutu air),” katanya.

Terpisah Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juwana, Rubhan Ruzziatno mengatakan bahwa mengatasi banjir tak mudah, harus dilakukan dari hulu hingga hilir. “Untuk mengentaskan banjir, konservasi sungai yang ada di hulu sangat penting dilakukan. Misalnya proses resepan air harus ada, kalau tidak ada air akan langsung turun ke sungai hingga meluap,” katanya.

Khusus di wilayah Semarang, lanjut Rubhan, ada tiga sungai yang menjadi sorotan yakni Banjir Kanal Barat (BKB), Banjir Kanal Timur (BKT), dan Sungai Babon yang berbatasan dengan Demak. Khusus untuk BKB, saat ini dibantu dengan adanya Waduk Jati Barang, sehingga jarang terjadi banjir untuk wilayah yang dilewati BKB. “Namun warga BKB harus tetap mewaspadai Bendungan Simongan jika setinggi 2,5 meter. Meski begitu, ini sangat jarang terjadi,” jelasnya.

Sementara untuk BKT, sendimentasi yang ada masih sangat tinggi. Namun saat ini normaliasi sedang dilakukan dengan dana sekitar Rp 500 miliar berupa pembuatan tanggul beton, normalisasi Kali Tenggang dan Kali Sringin agar wilayah Semarang bagian utara tidak lagi tergenang banjir. “Targetnya tahun 2019 bisa selesai dan bisa terbebas dari banjir. Urgensinya sangat tinggi, karena punya banyak infastruktur yang sangat vital,” ujarnya.

Menurut dia, banjir tidak bisa dihilangkan, namun bisa dicegah dengan pengendalian struktur dan non struktur. Khususnya di wilayah Kaligawe yang sering terjadi genangan, namun bukan karena hujan, tapi karena rob. Ditambah lagi adanya perbedaan ketinggian jalan dari depan Sultan Agung sampai ke arah Barat dan Timur. “Saat ini masih dibangun rumah pompa di Sungai Sringin sebesar 10 kubik dan 12 kubik di Sungai Tenggang,” paparnya. (amu/hid/den/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here