Metamorfosa Sepakung, Nominasi Desa Terbaik

604
EKSOTIS : Tarian Rodad hasil kreasi seni dan budaya yang menjadi salah satu daya tarik masyarakat Desa Sepakung (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
EKSOTIS : Tarian Rodad hasil kreasi seni dan budaya yang menjadi salah satu daya tarik masyarakat Desa Sepakung (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

UNGARAN–Karena memiliki kultur yang menarik, Desa Sepakung Kecamatan Banyubiru pernah masuk dalam penilaian desa terbaik se Jawa Tengah. Hal itu tak lepas dari peran serta masyarakat setempat dan Pemkab Semarang.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dispermasdes) Kabupaten Semarang, Yoseph Bambang Trihardjono mengungkapkan bahwa potensi desa yang ada di Kabupaten Semarang sangatlah bagus. Hal itu tercermin dari prestasi-prestasinya. “Desa Sepakung masuk enam besar terbaik di lomba desa dan kelurahan tingkat Jateng,” ujar Yoseph, kemarin.

Menurut Yoseph, capaian tersebut sangat luar biasa, tentunya hal itu tak lepas dari hasil kerja keras semua pihak. “Termasuk pemerintah dan masyarakat setempat mengingat wilayah tersebut dulunya merupakan daerah tertinggal, miskin dan minim fasilitas infrastruktur,” katanya.

Menurut Yoseph, pengelolaan potensi desa yang baik menjadi kunci sukses. Sebenarnya tidak hanya Desa Spekaung, namun desa-desa yang lain di Kabupaten Semarang memiliki potensi yang sama unggulnya. “Pengelolaan yang baik itu meliputi pengelolaan keuangan desa yang baik, dan desa yang selalu mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Bukan hal mudah dan butuh komitmen kuat untuk mengubah wilayah yang semula dikenal sebagai daerah miskin menjadi wilayah yang mandiri secara ekonomi maupun pelayanan masyarakatnya.

Masuknya Sepakung dalam nominasi desa terbaik se-Jateng ini diambil setelah tim dari Pemprov Jateng melakukan penilaian di 29 kabupaten dan enam kota di Jateng. Dikatakan Yoseph, ada 11 pointer yang jadi dasar penilaian desa masuk kategori terbaik di pemberdayaan masyarakatnya. Antara lain dari sisi pemerintahan, E-government, inovasi, adat istiadat, kelembagaan di desa dan kelurahan, kesehatan, PKK, trantib, siaga bencana, pendidikan dan partisipasi masyarakat.

Kades Sepakung, Ahmad Nuri mengatakan jika wilayah desanya dulu dikenal sebagai wilayah miskin dan minim infrastruktur. “Dulu, di kisaran tahun 90-an, Sepakung merupakan wilayah miskin, tidak ada geliat ekonomi masyarakatnya,” katanya.

Kondisi tersebut terjadi lantaran infrastruktur jalan belum memadai, belum tersentuh pelayanan listrik hingga minimnya pembangunan fisik menyangkut fasilitas publik. “Dulu jalan desa belum seperti sekarang sehingga sarana transportasi juga belum ada. Imbasnya, masyarakat yang hendak jual hasil bumi kesulitan, harus jalan kaki,” tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, 12 tahun kemudian mulai tahun 2013, seiring pesatnya pembangunan fisik yang dilakukan Pemkab Semarang, Sepakung mengalami perkembangan signifikan. Tak hanya fisik, program-program pembangunan non fisik seperti pelatihan usaha mikro dan manajemen wisata, membuat masyarakat setempat punya alternatif usaha di luar pertanian dan peternakan.

Selain itu, juga seiring ditetapkannya Sepakung sebagai salah satu Desa Wisata di Kabupaten Semarang, Sepakung tumbuh menuju desa mandiri, lengkap dengan tim tanggap bencana. Kinerja pemerintahan terkait publik pun mengalami modernisasi. (ewb/ida)