KAMPUNG AREN: Kades Kedopokan Tohirin menyerahkan wayang yang terbuat dari lidi pohon aren kepada Anggota DPD RI Denty Eka Widi Pratiwi, Sabtu (7/10) (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU).
KAMPUNG AREN: Kades Kedopokan Tohirin menyerahkan wayang yang terbuat dari lidi pohon aren kepada Anggota DPD RI Denty Eka Widi Pratiwi, Sabtu (7/10) (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU).

TEMANGGUNG–Warga Kedopokan, Tlogopucang, Kandangan Temanggung, Sabtu (7/10) lalu menggelar acara Aren’s Day di kampung setempat. Acara yang digelar selama 2 hari ini juga untuk mendeklarasikan Kampung Aren. Berbagai macam makanan tradisional khas Kedopokan dan produk lokal Temanggung dijual di pasar kaget.

Ketua Panitia Aren’ Day, Miftahul Aziz menuturkan, potensi alam yang dimiliki Temanggung bukan hanya tembakau dan kopi saja, namun ada juga aren. Bahkan kata dia, suplai terbesar gula aren di Temanggung dari Kedopokan. “Spirit dari kegiatan ini adalah untuk menjaga dan mengenalkan kearifan lokal, segala macam potensi yang dimiliki warga (khususnya aren) kepada masyarakat luas,” ucapnya.

Aziz melanjutkan, nilai jual gula aren saat ini rendah. Gula aren kualitas terbaik hanya dihargai Rp 16 ribu per kilogram. Padahal untuk membuatnya butuh waktu 4-5 jam. Tenaga yang digunakan untuk memproduksi gula aren juga banyak. “Saya berharap, dari event ini muncul inovasi produk aren yang bisa menaikkan nilai jual. Inovasi produk yang sudah ada adalah gula semut, dengan nilai jual Rp 40 ribu,” kata Aziz.

Untuk mengenalkan gula aren dan aneka produk aren ke luar Kedopokan, pihaknya telah mengundang wisatawan mancanegara. Wisatawan yang pernah hadir di antaranya dari Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Latvia, Inggris, Rusia, Jepang, Tiongkok dan Hungaria. “Kita ingin, produk kita (aren, red) bisa go nasional dan internasional,” harapnya.

Kadus Kedopokan Imbuh Khalwani menjelaskan, warga Kedopokan saat ini berjumlah 300 keluarga. Dari jumlah itu, 275 keluarga memroduksi gula aren. “Per keluarga rata-rata memroduksi 2 kilogram tiap harinya, dengan nilai jual rata-rata 16 ribu per kilogram,” bebernya.

Anggota DPD RI perwakilan Jawa Tengah Denty Eka Widi Pratiwi mengapresiasi gerakan yang dilakukan warga Kedopokan yang menggerakkan anak-anak muda. Menurutnya, supaya nilai jual produk aren bagus, sebanding dengan jerih payah yang dilakukan para petani, perlu adanya koperasi untuk melakukan penjualan.

“BUMDesa bisa dioptimalkan. Saya berharap, petani yang ada di sini, selain bisa memproduksi aren atau produk lainnya, sekaligus bisa menjual. Karena, jika hanya tergantung dengan tengkulak, hasil kurang menjanjikan,” ungkap perempuan yang pernah mendapat anugerah Jawa Pos Radar Kedu-Radar Semarang sebagai senator penggerak potensi lokal ini. (san/ton)