Dorong Guru NU Menulis Artikel Populer

187
AYO MENULIS: Para peserta pelatihan menulis artikel populer di media massa berfoto bersama dengan Ketua Umum Pergunu Jateng, HM Faojin, Pemimpin Redaksi Arif Riyanto dan para narasumber. (kanan) Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan menulis (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
AYO MENULIS: Para peserta pelatihan menulis artikel populer di media massa berfoto bersama dengan Ketua Umum Pergunu Jateng, HM Faojin, Pemimpin Redaksi Arif Riyanto dan para narasumber. (kanan) Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan menulis (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANGPersatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Tengah mendorong anggotanya untuk menulis artikel populer di media massa. Cara yang dilakukan Pergunu adalah dengan menggandeng Jawa Pos Radar Semarang untuk memberikan pelatihan kepada anggota Pergunu. Sabtu (7/10) kemarin, sebanyak 50 guru tampak antusias mengikuti pelatihan menulis artikel populer yang digelar di aula kantor redaksi Jawa Pos Radar Semarang Jalan Veteran 55 Semarang. Pelatihan menghadirkan narasumber Redaktur Pelaksana Jawa Pos Radar Semarang, Ida Norlayla, Guru SMA Negeri 3 Semarang sekaligus penulis buku, Hery Nugroho, serta pengurus Pergunu Jateng, Usman Roin.

Ketua Umum Pergunu Jateng, HM Faojin, mengatakan, pengurus baru Pergunu Jateng periode 2016-2021 belum lama terpilih, bahkan belum dilantik. Namun pengurus baru Pergunu sudah memulai kegiatan dengan menggelar pelatihan menulis artikel populer di media massa ini. Harapannya, pelatihan bisa meningkatkan kompetensi para guru dalam penulisan artikel maupun karya ilmiah.

Alhamdulillah respons para guru sangat tinggi. Bahkan kegiatan ini tidak hanya diikuti guru-guru dari sekolah NU saja, tapi juga guru sekolah umum, bahkan sekolah Muhammadiyah. Selain itu, ada juga siswa yang ikut bersama gurunya,” katanya.

Tingginya antusias guru mengikuti pelatihan menulis artikel populer ini membuat Pergunu sudah membuka pelatihan gelombang dua yang akan digelar 4 November mendatang.  “Dari list panitia, yang mendaftar sudah 16 orang. Karena keterbatasan tempat dan biar efektif, kami sengaja batasi 50 peserta,” ujarnya.

Selain itu, Pergunu akan menyiapkan pelatihan bagi guru pembimbing majalah sekolah dan majalah dinding. “Kalau dulu hanya ada mading dua dimensi, sekarang sudah berkembang mading tiga dimensi, bahkan empat dimensi. Nanti para guru pembimbingnya diberikan pelatihan dulu, baru ke anak didiknya. Tahapan berikutnya, nanti bisa dilombakan mading antar sekolah,” paparnya.

Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Semarang, Arif Riyanto, mengatakan, jika pelatihan menulis bagi guru tersebut sudah digelar empat kali sejak Mei lalu. Ia mengaku sangat senang, karena antusiasme guru sangat tinggi. Terbukti, pasca pelatihan, para guru langsung mengirimkan artikel populernya ke redaksi untuk dimuat di rubrik Untukmu Guruku.

Menurut Arif, banyak hal yang bisa ditulis oleh para guru dalam bentuk artikel populer. Misalnya, inovasi dalam mengajar, hasil penelitian, dan sebagainya.  “Kemarin ada yang menulis artikel memanfaatkan video HP sebagai media pembelajaran. Ada juga yang menulis Status Facebook dalam Pembelajaran Bahasa Jawa,  Mencegah Siswa Membolos dan sebagainya. Jadi, sebenarnya banyak hal yang bisa ditulis dari keseharian para guru menjadi artikel populer,” katanya.

Hery Nugroho mengatakan, pelatihan menulis tersebut bukan hanya memberikan pengalaman agar guru bisa menulis. Namun sebagai aktualisasi diri serta menjadi bagian dalam publikasi ilmiah.Aapalagi fakta di lapangan saat ini banyak guru yang tertunda kenaikan pangkatnya lantaran tidak bisa menulis atau menerbitkan artikel ilmiah. “Aturan yang ada agar bisa naik pangkat dan golongan, guru harus mengeluarkan karya ilmiah, nah karena tidak biasa menulis mereka tidak bisa membuat karya ilmiah,” jelasnya.

Kesulitan yang biasanya membelit para guru untuk menulis, lanjut guru berprestasi tingkat nasional ini adalah anggapan jika menulis itu sulit. Kedua adalah mengajar sebagai guru dan penulis punya perbedaan, ataupun rasa trauma karena sebelumnya telah mengirim artikel populer namun tidak kunjung dimuat di media massa. “Padahal aktivitas guru itu ya banyak didasari dengan menulis. Setiap hari harus membuat jurnal, membuat laporan rapor siswa setiap akhir semester. Nah ini kan bisa dijadikan modal, tinggal mengubah mindset-nya dan membuang rasa malas untuk menulis,” katanya.

Ia berharap, dengan digandengnya Jawa Pos Radar Semarang sebagai mitra, anggota Pergunu bisa mendapatkan dorongan dan pemecahan masalah dalam menulis. Selain itu, ia berharap para guru bisa mengembangkan diri, pola pikiran, membuat opini dan penelitian yang bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Redaktur Pelaksana Jawa Pos Radar Semarang, Ida Norlayla mengatakan, jika Jawa Pos Radar Semarang siap memberikan ruang sekaligus pelatihan kepada anggota Pergunu Jawa Tengah. “Kebetulan kami punya rubrik Untukmu Guruku yang bisa dimanfaatkan. Bisa juga kami memberikan pelatihan dan pendidikan singkat cara penulisan agar para guru tidak kesulitan lagi menuangkan ide dalam bentuk tulisan,” ujarnya. (den/aro)