Oleh: Sari Nur Saptani MPd
Oleh: Sari Nur Saptani MPd

DUNIA pendidikan tercabik. Kekerasan kembali terulang. Tanggal 2 Agustus 2017 lalu telah terjadi kasus pemukulan  siswa kelas X sebuah SMA Negeri di Semarang  berinisial S oleh pelatih basket berinisial G. Akibat kejadian itu korban mengalami luka lebam.  S harus dirawat dan mendapat lima jahitan di sekitar telinga.

Di Kota Bogor pada 12 September 2017 juga terjadi peristiwa kekerasan yang disaksikan 50-an siswa. Kasus terbunuhnya Hilarius  karena diadu seperti binatang. Kasus tersebut viral dengan sebutan kasus gladiator. Istilah gladiator berasal bahasa latin gladius yang artinya ahli pedang. Gladiator adalah petarung bersenjata pedang yang melakukan pertarungan untuk menghibur para penonton di zaman Kekaisaran Romawi.  Pertarungan gladiator dimulai dari abad ke-3 SM.  Pada abab ke-4 M, pertandingan gladiator telah lenyap dari budaya Romawi.

Mengapa kekerasan yang terencana dan melibatkan banyak pihak tidak bisa terdeteksi sampai akhirnya harus membawa korban? Ataukah siswa-siswi atau siapapun yang mengetahui dan terlibat di dalamnya tidak menyadari bahwa itu termasuk sebuah kekerasan? Sebuah ironi dalam dunia pendidikan.

Berita kekerasan lain yang juga menjadi viral pada September 2017  ini adalah kasus percobaan bunuh diri FK, siswa kelas IX  SMP Negeri 2 Satu Atap Waiwaru, Kabupaten Lembata, NTT.  FK merasa malu dan ingin bunuh diri  setelah guru Bahasa Indonesia  berinisial BB mengatakan kalimat hinaan ketika proses pembelajaran berlangsung. Pulang ke rumah ia segera menenggak cairan pembasmi rumput.

Hak Anak

Sekolah sebagai tempat pendidikan harusnya mampu melindungi hak anak dan bukan sebagai tempat terjadinya kekerasan. Efek kekerasan terhadap anak didik sangat luar biasa.  Bentuk kekerasan bisa saja kekerasan fisik maupun psikis. Luka fisik bisa sembuh seiring waktu berjalan, tetapi tidaklah demikian dengan luka batin (psikis).

Maka dari itu sebagai seorang pengajar sekaligus pendidik, harus memahami “Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti.  Falsafah Jawa ini artinya  segala sifat keras hati  dan angkara murka  hanya bisa dikalahkan oleh sikap bijak, lembut hati dan sabar.  Di sekolah, baik guru maupun siswa hendaknya menghindari cara-cara kekerasan.  Kebiasaan kasar diawali dari kemarahan. Pemarah biasanya cenderung  kasar, dan merendahkan orang lain.  Secara manusiawi, anak didik yang akan menjadi sasaran. Jadi, kemarahan perlu dikendalikan. Pengendalian emosi adalah kunci menghindari tindak kekerasan yang bisa terjadi. Seorang pendidik harus bertanya mengapa siswa didik berbuat menjengkelkan.

Guru dituntut memahami permasalahan dan tidak mudah terpancing emosi ketika terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan. Dengan kelembutan dan rasa kasih, kemarahan sebesar apapun akan luluh.  Siswa didik juga akan merasa disayang dan terketuk hatinya. Terjalinnya ikatan emosional yang baik antara guru dan siswa didik juga membuat penyelesaian segala permasalahan adalah proses pendewasaan. Yakinlah, apapun masalah yang terjadi selalu akan ada solusinya. Dengan demikian suradira jayaningrat lebur dening pangastuti layak diupayakan menjadi sebuah  kenyataan.

Untuk menerapkan semangat filsafat tersebut, masng-masing pribadi, baik guru maupun siswa, harus memiliki kesepakatan bersama. Dari kesepakatan tersebut, mengandung konsekuensi logis dan konsekuensi natural. Hal tersebut menjadi modal awal untuk lahirnya sikap lembut dan konsistensi dalam bertindak.

Kekerasan tidak akan pernah mati oleh kekerasan. Kekerasan bisa dikalahkan oleh kelembutan dan kehalusan budi. Bagaikan api yang akan mudah dikalahkan oleh air. Maka, guru harus menerapkan prinsip ”wani ngalah luhur wekasane” atau berani mengalah, maka akan bermartabat. Hal tersebut yang kemudian akan memunculkan keteladanan bagi siswanya.

Sejauh ini sekolah masih sangat dipercaya sebagai media untuk membekali anak-anak untuk menjadi pemimpin dalam lingkup manapun. Sebagai pengajar sekaligus  pendidik, kitalah orang tua mereka di sekolah. Dan sebagai orang tua pastilah  akan menginginkan yang terbaik untuk anak-anak kita ini. Mulailah dari diri kita masing-masing berupaya merevolusi mental kita sebagai seorang guru. Jadikan, diri kita sebagai pendidik yang bermartabat, bermanfaat dan beramanah dalam mendidik generasi calon-calon pemimpin keluarga, masyarakat dan bangsa. Tidak ada kata terlambat untuk mengawalinya. Selama ada niat di situlah jalan akan terbuka. Kekerasan di lingkungan pendidikan harus dihilangkan. (*/aro)