KOMPAK : Para mahasiswa pencinta musik perkusi ini selalu menunjukkan kekompakan, baik di atas panggung maupun dalam kehidupan sehari-hari (IST).
KOMPAK : Para mahasiswa pencinta musik perkusi ini selalu menunjukkan kekompakan, baik di atas panggung maupun dalam kehidupan sehari-hari (IST).

Perkusi merupakan alat musik yang akan menghasilkan suara dengan cara dipukul, ditabuh, dan digoyang, baik dengan tangan kosong ataupun menggunakan barang-barang yang sudah tidak terpakai. Di Undip ada komunitas pecinta perkusi. Seperti apa?

Hajar Azizatun Niswah

BERMAIN musik perkusi banyak yang menganggap biasa. Tapi, jika musik perkusi dimainkan dengan barang-barang tak terpakai, tentu luar biasa. Hal itulah yang kerap dimainkan mahasiswa Undip yang tergabung dalam salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bernama Planologi Percussion.

Planologi Percussion atau yang akrab disebut Plaper ini, merupakan komunitas yang mewadahi para mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) dalam mengembangkan minatnya di bidang musik perkusi. “Planologi Percussion dulu kami buat karena ada sekelompok mahasiswa yang menyukai alat musik perkusi. Semakin bertambah tahun, ternyata semakin banyak yang menyukai musik perkusi. Akhirnya dibentuklah UKM bernama Plaper ini,” terang Ahmad Dayrobi, selaku ketua anggota komunitas Plaper ini.

Komunitas yang sudah lahir sejak tahun 2010 ini, memiliki 30 anggota tetap dan rutin melakukan latihan setiap minggunya. “Biasanya kami berlatih seusai kuliah atau malam Minggu. Kami berlatih bersama di kampus sambil mengobrol santai. Kalau semisal ada jadwal untuk manggung, biasanya kami latihan lebih intensif. Seminggu bisa tiga sampai empat kali,” ungkap Shabrina, mahasiswa Teknik PWK angkatan 2014 yang sudah bergabung dengan Komunitas Plaper sejak 2015.

Dengan menggunakan ember dan drum yang sudah tidak terpakai, ditambah dengan iringan gambang, alunan perkusi yang disuguhkan Plaper tak kalah menarik dengan musik perkusi pada umumnya. “Sejak dulu kami selalu menggunakan barang-barang bekas untuk membuat alat musik kami. Biasanya pakai drum bekas cat, atau ember yang sudah nggak terpakai. Pokoknya selama masih bisa ditabuh dan menghasilkan suara yang pas, kami nggak masalah pakai barang apa aja,” terang Ahmad, yang bermain alat perkusi berupa drum ini.

Biasanya, Plaper menggunakan lagu tradisional yang diaransemen sehingga menghasilkan instrumen yang berbeda. “Kalau latihan dan tampil, biasanya kami menampilkan dua aransemen musik. Yang pertama biasanya kami mengaransemen lagu tradisional, yang kedua biasanya kami mengaransemen lagu yang sedang hits di kalangan anak muda,” ujar Shabrina.

Komunitas Plaper sendiri sudah sering memamerkan kelihaiannya dalam bermain musik perkusi di beberapa acara universitas, seperti acara Orientasi Diponegoro Muda, Plancious, dan seminar-seminar yang diadakan di Undip. “Untuk prestasi lomba sendiri, kami sudah pernah memenangi beberapa kejuaraan. Salah satunya juara 2 di lomba musik perkusi se-Kota Semarang. Kami juga pernah diundang di event-event yang diadakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk tampil di dalamnya,” jelas Ahmad yang kini sedang menyelesaikan tugas akhirnya.

Untuk ke depannya, Komunitas Plaper berharap dapat bertahan menjadi UKM yang menaungi para mahasiswa Teknik PWK dalam menyalurkan bakat dan hobi perkusinya, serta bisa tampil lebih sering di berbagai acara di kampus atau di luar kampus. (*/ida)