Saluran Tersumbat, Siaga 24 Jam

338

SEMARANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang siaga 24 jam untuk mengantisipasi adanya banjir dan rob yang bisa datang sewaktu-waktu. Terutama di Semarang bagian timur sejauh ini dinilai menjadi wilayah paling rawan terhadap banjir.

Salah satu penyebab banjir adalah tidak berfungsinya saluran atau drainase secara maksimal di sejumlah titik yang mengakibatkan sirkulasi air tersumbat. Apalagi musim hujan sudah mulai datang.

“Kami waspada memasuki musim hujan.Beberapa hari lalu, curah hujan memang cukup tinggi,” kata Kepala BPBD Kota Semarang Agus Harmunanto, kemarin.

Dikatakannya, penyebab banjir salah satunya karena tidak berfungsinya saluran atau drainase secara maksimal. Ditambah air rob dari laut yang merambah ke darat mengakibatkan, kawasan Kaligawe dan sekitarnya terjadi banjir. Selain itu, kata dia, pembangunan sarana dan prasarana saluran di sekitar Tlogosari juga menjadi penyebab aliran air tidak lancar.

“Kami sudah membuka posko 24 jam. Posko di kantor BPBD Penggaron Kecamatan Pedurungan siap meluncur ke lokasi apabila terjadi bencana,” katanya.

Pihaknya telah menyiagakan petugas yang akan merespon atas laporan dari masyarakat. “Begitu mendapatkan laporan dari masyarakat, petugas BPBD nanti akan langsung meluncur ke lokasi,” tambahnya.

Selain itu, selain itu pihaknya juga membentuk Kelurahan Siaga Bencana (KSB) di tiap kelurahan dengan dibantu para relawan. “Dari 177 kelurahan, ada 54 kelurahan siaga bencana. Untuk mewaspadai potensi terjadinya bencana, mulai dari banjir maupun tanah longsor,” katanya.

Lebih lanjut, karakteristik potensi bencana di 54 KSB itu berbeda-beda. Misalnya di wilayah Tembalang, Gunungpati, Ngaliyan, memiliki potensi rawan tanah longsor. Sedangkan, Kelurahan Tanjungmas, Kaligawe, Sawah Besar merupakan daerah rawan banjir. “Termasuk wilayah yang memiliki potensi
kekeringan atau kelangkaan air bersih,” terang dia.

Sebelumnya, Wali Kota Hendrar Prihadi kecewa melihat kinerja sejumlah pejabat di jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dinilai lambat. Selama tiga hari hujan, sejumlah titik jalan tergenang mengindikasikan bila pejabat yang seharusnya bertanggungjawab tak mampu berbuat banyak.

Atas hal itulah, orang nomor satu di Kota Semarang ini membuat keputusan untuk mencopot pejabat dari jabatannya. Sejumlah pejabat tersebut kemudian dirotasi untuk dipindahtugaskan ke posisi lain karena dinilai tidak mampu mengemban tugas dengan baik.

“Nyatanya hujan 3 hari, jalan tergenang. Nyatanya kemarin saya lewat Kemijen, masih ada jalan rusak,” kata Hendi. (amu/zal)