SEMARANG-Sebanyak 30 pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Simpang Lima Semarang saat ini telah menggunakan sistem pembayaran elektronik atau E-Bayar. Para pembeli bisa melakukan transaksi pembayaran menggunakan sistem non tunai atau tapcash.

Ini menjadi program pilot project kerja sama antara Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dengan BNI 46. “Seperti sering disampaikan Pak Wali Kota, untuk selalu kerjasama. Kami bekerjasama dengan BNI 46 membuat program namanya E-Bayar. Menggunakan alat mesin edisi, kami terapkan di kawasan Simpang Lima, Taman KB dan PKL Mal Matahari. Nanti selanjutnya PKL Depok,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, Jumat (6/10) kemarin.

Dikatakannya, pihaknya saat ini telah melakukan sosialisasi kepada pedagang agar siap diterapkan mesin edisi ini. “Tentunya mereka diperlukan untuk membuka rekening di BNI 46. Mayoritas sudah mendaftarkan. Kami prioritaskan untuk 30 titik dulu,” katanya.

Untuk tahap pertama ada 30 pedagang yang akan dipasang dan dilengkapi mesin edisi. Alatnya disediakan oleh BNI 46. PKL Mal Matahari ada 4 pedagang, Simpang Lima 20 pedagang, Taman KB 4 pedagang, dan Hans Kopi 2 mesin. “Mesin ini menjadi pilot project. Nanti kalau banyak yang antusias, bisa dikembangkan lebih banyak. 30 alat itu sekarang sudah jalan. Uang yang di rekening menjadi tabungan pedagang,” katanya.

Dikatakan Fajar, ini menjadi salah satu terobosan dan baru pertama kali ada di Jateng. “Baru pertama kali ada PKL menggunakan mesin edisi. Jadi pembeli bisa bayar pakai ATM, tapcash. Syarat bagi pedagang foto kopi KTP dan NPWP. Kami ingin mengubah mindset pedagang agar tidak gaptek. Dia tahu teknologi sesuai perkembangan zaman sekarang ini seperti apa. Karena sifatnya dari program bisnis, maka pedagang harus menabung,” katanya.

Fajar juga mengakui ada beberapa pedagang yang menolak atas penerapan sistem E-Bayar ini. “Memang, tidak semua orang maupun pedagang memiliki ATM. Ini kami siapkan bagi pedagang yang mau. Suka atau tidak suka, perkembangan teknologi sedemikian luar biasa cepat. Mungkin lima, enam tahun lagi orang di Semarang tidak bawa duit cash. Melainkan semua sudah main gesek (kartu kredit). Contoh di negara tetangga, seperti di Singapura dan Malaysia, sudah pakai gesek. Toh duit tidak hilang, mereka bisa ambil,” katanya.

Lebih lanjut, apabila ada pedagang yang menolak, Fajar tidak memermasalahkan. Sebab, pemahaman pedagang mengenai perkembangan teknologi berbeda-beda. “Nanti kalau ada yang menolak ya kami biarkan dulu. Lama-lama mereka bisa menyesuaikan. Tidak semua pelanggan punya ATM. Silakan bayar cash, tapi bagi yang punya kartu bisa digunakan transaksi di sini,” katanya.

Card and Merchant Business BNI 46 Wilayah Kantor Semarang, Beni Pulunggono menjelaskan bahwa mesin edisi ini sebagai alat pembayaran non tunai. “Mesin ini berfungsi untuk pembayaran menggunakan kartu kredit, kartu debit, maupun tapcash. Saat ini masih pilot project, ke depannya kawasan Simpang Lima menjadi kawasan PKL yang sudah menggunakan fasilitas pembayaran non tunai,” katanya.

Dikatakannya, mesin edisi ini secara kolektif akan dilakukan pengembangan. Dalam hal ini pihaknya menggalakkan penggunaan Kartu Semarang Hebat, yaitu kerjasama antara BNI dengan Pemkot Semarang. “Bisa dilakukan dengan cara membeli kartu tapcash di outlet BNI, atau membuka tabungan di BNI. Kemudian mendapatkan Kartu Semarang Hebat dalam bentuk debit combo. Jadi bisa buat tapcash, juga bisa buat ATM.  Membuka rekening minimal tabungan Rp 250 ribu,” kata Beni.

Ketua Paguyuban PKL Simpang Lima, Mardi, menyambut baik penerapan sistem transaksi non tunai tersebut. “Ini sangat bagus. Program pemerintah ini, bagian dari perkembangan teknologi modern yang harus dijalankan. Apalagi, saat ini banyak sekali orang luar kota menggunakan pembayaran non tunai. Ini sangat baik sekali. Kuliner di Semarang juga sudah menasional. Tidak ada masalah, karena setiap harinya juga masih bisa transaksi pembayaran cash,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, penerapan E-Bayar juga efektif untuk mengantisipasi peredaran uang palsu. Ia juga tidak memermasalahkan syarat pertama bagi pedagang untuk menabung Rp 250 ribu, untuk membuka rekening. “Uangnya juga bisa diambil. Kalau dulunya belum punya rekening, sekarang malah punya rekening. Kalau ada satu-dua pedagang menolak, saya rasa itu manusiawi. Karena tidak semua pedagang memiliki SDM dan tingkat pendidikan sama. Bahkan ada yang benar-benar buta huruf. Saya bisa memaklumi hal itu,” katanya. (amu/ida)