PROSPEKTIF : Semarang dinilai cukup strategis untuk mengembangkan sekolah bertaraf internasional. Salah satunya GMIS yang pembangunannya ditandai oleh peletakan batu pertama, kemarin (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG).
PROSPEKTIF : Semarang dinilai cukup strategis untuk mengembangkan sekolah bertaraf internasional. Salah satunya GMIS yang pembangunannya ditandai oleh peletakan batu pertama, kemarin (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Gandhi Seva Loka (GSL) Indonesia menginvestasikan hingga Rp 50 miliar untuk pembangunan Gandhi Memorial Intercontinental School (GMIS) Semarang. Kota ini dinilai cukup strategis untuk mengembangkan sekolah dengan kurikulum international baccalaureate.

President GMIS, Shyam Rupchand Jethnani mengatakan, Semarang merupakan kota keenam untuk sekolah ini. Sebelumnya sudah ada empat di Jakarta dan satu di Bali. Semarang dipilih karena dinilai belum terdapat sekolah yang menerapkan kurikulum international baccalaureate.

“Kurikulum yang mengedepankan praktik ini sebetulnya sudah dipakai di banyak negara, di Jakarta juga sudah banyak. Karena di Semarang masih belum ada, kami pilih kota ini dengan investasi tahap pertama sekitar Rp‎ 30 miliar sampai Rp 50 miliar,” ujarnya disela peletakan batu pertama, kemarin.

Chairman GMIS Semarang, Suresh Vaswani menambahkan, sekolah yang berlokasi di kawasan perumahan Grand Candi Golf ini ditargetkan bisa selesai paling lambat bulan Juni 2018 mendatang sehingga bisa memperoleh siswa baru.

Selain itu lanjutnya, meski menerapkan kurikulum pendidikan bertaraf internasional, biaya pendidikan dipastikan terjangkau untuk kalangan menengah. “Kami tidak mau yang termahal, bahkan dibandingkan sekolah internasional lainnya kami yang murah. Sehingga seluruh masyarakat kelas menengah, bisa sekolah di sini,”imbuhnya.

‎Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Mulyono yang juga berkesempatan hadir menambahkan, pihaknya terbuka dengan kehadiran sekolah internasional di Jawa Tengah. Pihaknya memastikan di kawasan tersebut memang membutuhkan keberadaan sekolah tersebut.

“Kami terbuka tapi tidak bebas. Karena pertumbuhan sekolah juga harus menghitung sasaran siswa disana. Sekolahnya banyak, siswanya sedikit nanti jadinya juga tidak sehat,” ujarnya. (dna/ric)