Oleh: Ibnu Anwar SPd
Oleh: Ibnu Anwar SPd

AKHIR -akhir ini masyarakat sedang menghadapi bahaya laten hoax melalui sosial media. kabar  hoax di sosial media cukup meresahkan masyarakat khususnya anak-anak sekolah. Selama 2017, masyarakat dibuat resah kabar hoax tentang peredaran permen narkoba, kabar hoax bahaya imunisasi MR dan Rubela, kabar hoax penculikan anak, dan kabar pembulian siswa.

Keadaan semakin meresahkan ketika  masyarakat kurang sadar untuk mengecek kebenaran berita tersebut, dan ikut menyebarkan kabar hoax. Masyarakat seharusnya melek informasi dengan mengecek kebenaran kabar hoax ke lembaga-lembaga terkait. Masyarakat perlu hati-hati memilah dan memilih kabar sosial media. Alih-alih memberikan hal baru ternyata kabar hoax.

Masyarakat bisa terancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Adapun isi pasal 28 ayat 1 adalah “Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar. “Kita harus sadar hukum agar tidak ada Prita Mulyasari dan Buni Yani lain yang harus menghabiskan banyak waktu, tenaga, pikiran, dan materi akibat gugatan hukum pasal UU ITE.

Bekali Siswa

Sekolah harus segera membekali siswa tentang bahaya menyebarkan kabar hoax. Karena anak-anak sekolah rentan diprovokasi dan menjadi korban kabar hoax. Apalagi komplotan penipu di dunia maya memanfaatkanya untuk mencari keuntungan. Baru-baru ini seorang artis rugi jutaan rupiah setelah mendapatkan kabar hoax anaknya sakit. Sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai tri pusat pendidikan bertanggung jawab dalam menangkal kabar hoax dan mensosialisasikan UU ITE.

Salah satu cara menangkal bahaya kabar hoax adalah melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Pendidikan karakter sebenarnya bukan hal baru karena pernah digaungkan pada 2010, namun gemanya kurang kuat. Sehingga benih-benih radikalisme dan disintegrasi bangsa masih ada. Presiden Jokowi mengantisipasinya dengan Inpres Nomor 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) dan Perpres Nomor: 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

Dalam Perpres Nomor 87 Tahun 2017, Penguatan Pendidikan Karakter atau PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

PPK menurut Perpres ini, memiliki tujuan: Pertama, membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia 2045 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan. Kedua, mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik dengan dukungan pelibatan publik yang dilakukan melalui pendidikan jalur formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia; dan ketiga, merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, dan lingkungan keluarga dalam mengimplementasikan PPK.

Lalu, bagaimana PPK dapat membantu melawan hoax di sosial media? PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter. Nilai-nilai PPK meliputi religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.  Melalui pembumian nilai-nilai PPK kepada anak-anak inilah, kita dapat melawan kabar hoax sosial media.

Ada beberapa kegiatan PPK di sekolah dalam menangkal kabar hoax melalui sosial media. Pertama, melalui kroscek berita melalui grup WhatsApp kelas, grup WhatsApp sekolah, dan grup WhatsApp komite sekolah.

Kedua melalui pembiasaan apel pagi untuk mensosialisasikan nilai-nilai karakter sekaligus mengklarifikasi kabar hoax. Ketiga, melalui kelas orang tua melalui paguyuban kelas dalam menyelesaikan masalah-masalah kelas. Keempat, melalui kegiatan upacara dengan mendatangkan pembina dari kepolisian, TNI, dan pihak-pihak terkait sesuai kebutuhan sekolah. Kelima, melalui kelas inspirasi yaitu mendatangkan pengajar dari berbagai profesi untuk menginspirasi siswa dalam berbagai kegiatan positif.

Keenam, melalui kotak peduli sosial untuk menggalakkan kepedulian siswa dan kekeluargaan antarsiswa. Ketujuh, melalui kegiatan galang persahabatan. Yakni  kegiatan antar sekolah dalam mencari sahabat, bermain bersama, dan belajar bersama untuk mempererat persahabatan siswa antar sekolah. Selain itu, melawan hoax perlu dilakukan di masyarakat. Kegiatan sosialisasi UU ITE dan nilai- nilai PPK  dapat dilakukan melaui grup WhatsApp RT. Melaui grup tersebut masyarakat bisa saling mengklarifikasi kabar hoax dan belajar menggunakan sosial media secara baik dan beretika. (*/aro)