Pemilik Gudang Obat Diperiksa

Diduga Tak Kantongi Izin

476
TANPA IZIN EDAR: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abioso Seno Aji menunjukkan obat kuat yang disita dari sejumlah apotek yang tidak disertai izin edar (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
TANPA IZIN EDAR: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abioso Seno Aji menunjukkan obat kuat yang disita dari sejumlah apotek yang tidak disertai izin edar (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG Petugas gabungan menindaklanjuti kasus temuan gudang obat keras tak berizin yang dipakai untuk penyimpanan obat di belakang Apotek Sido Asih Jalan Medoho Raya RT 1 RW 6 Sambirejo, Gayamsari, Rabu (4/10). Saat ini, kepolisian telah memeriksa dua orang terkait temuan tersebut.

“Pemilik gudang sudah diketahui, sudah dimintai keterangan. Namun pengusaha apoteknya masih dalam pemeriksaan” ungkap Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abioso Seno Aji saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Kamis (5/10) kemarin.

Kasus ini terungkap bermula ketika petugas gabungan terdiri atas aparat kepolisian, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Semarang dan Ikatan Apoteker Indonesia melakukan sidak peredaran pil PCC (Paracetamol, Caffein dan Carisoprodol). Pada kegiatan tersebut, petugas menemukan gudang tak berizin dan obat kuat tanpa izin edar.

“Di sini hanya ditemukan ada sebuah apotek yang menjual obat kuat tidak berizin edar. Kemudian ada sebuah gudang tempat menyimpan obat, tapi obat ini adalah legal, tapi tidak memiliki izin gudang,” bebernya.

Terkait dengan hal tersebut, untuk apotek ini dapat dipidanakan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara atau denda sebesar Rp 1,5 miliar. Kemudian untuk gudang penyimpan obat legal dan tidak memiliki izin penyimpanan akan dilakukan penindakan secara administrasi dengan BPOM, berupa pelanggaran dengan denda Rp 100 juta.

“Sampai saat ini belum ada yang ditetapkan tersangkanya, dan masih dalam pemeriksaan. Kalau nanti memang ada, penyidik kami yang akan melakukan penetapan tersangka,” katanya.

Menanggapi pemilik gudang dan pengusaha apoteker yang diperiksa, Abioso menegaskan, keduanya warga Semarang. Hasil pemeriksaan sementara, Abioso mengatakan gudang tersebut sudah beroperasi hampir mencapai satu tahun.  “Sudah hampir satu tahun beroperasi,” ujarnya.

Abioso menegaskan, sampai sejauh ini dalam melakukan kegiatan bersama petugas gabungan telah merazia 27 apotek yang ada di Kota Semarang. Namun demikian, petugas tidak menemukan peredaran pil PCC seperti yang ada di Kendari, Sulawesi Tenggara.

“Ini kali pertama dilakukan gabungan dengan instansi terkait yang dilatarbelakangi dengan beredarnya obat PCC yang ada di wilayah Kendari tadi. Tapi Alhamdulillah obat tersebut tidak ditemukan di wilayah Kota Semarang,” tegasnya.

Abiyoso mengimbau kepada masyarakat ikut berperan aktif dalam pemberantasan obat ilegal termasuk narkoba. Diharapkan masyarakat yang mengetahui peredaran obat ilegal ataupun narkoba untuk segera melaporkan kepada petugas, baik BPOM maupun kepolisian.

“Tentunya dengan harapan untuk menghindarkan, jangan sampai nanti timbul jatuhnya korban di masyarakat terkait peredaran obat-obat yang tidak diketahui secara jelas oleh instansi-instansi terkait tadi,” harapnya.

Kabid Pemeriksaan dan Penyidikan BPOM Semarang, Zeta Rina Pujiastuti, mengatakan, gudang tanpa izin yang digunakan sebagai penyimpan obat telah beroperasi hampir 1 tahun. Sedangkan obat legal tersebut didistribusikan mulai dari klinik hingga ke dokter.

“Dalam hal ini yang sudah kita dapatkan bahwa gudang itu memang belum ada izinnya. Jadi, dia mendistribusikan dan menyalurkannya ke klinik, dokter, bidan, perawat, tapi seberapa banyak masih kita dalami,” ungkapnya.

Rina menegaskan, pihaknya juga akan ikut mendalami temuan kasus tersebut. Bahkan, pihaknya juga telah memanggil pemilik gudang dan pengusaha apoteker tersebut untuk dimintai keterangan.

“Kami panggil apotekernya pemilik sarana dan sebagainya untuk kita miatai keterangan. Dalam hal ini yang sudah kita dapatkan bahwa gudang itu memang belum ada izinnya. Untuk sementara obat kerasnya kami amankan di Kantor BPOM Semarang,” jelasnya.

Gudang atau tempat yang digunakan sebagai penyimpan obat-obatan harus memiliki izin. Menurutnya, pihak terkait yang hanya bisa memiliki izin adalah dari Dinas Kesehatan Kota.

“Sebetulnya kalau apotek mempunyai gudang, seharusnya izin dulu ke Dinas Kesehatan. Izin sarana gudangnya tadi, Kemudian ada ijin menyangkut sumber daya kesehatan jadi apotekernya, asistenya. Kemudian produk yang dijual, ada izinnya dari Badan POM,” tegasnya.

Pasca temuan, pihaknya juga telah memanggil pemilik gudang dan pengusaha apoteker untuk dimintai keterangan. Selain itu, pihaknya juga telah mengamankan berbagai obat yang di antaranya obat keras dan kedaluwarsa.

“Ditemukan juga obat kedaluwarsa, itu juga dijual. Kalau pengakuannya tidak. Masih kita dalami, karena itu tergabung dengan produk-produk yang lain,” terangnya.

BPOM Semarang sendiri akan terus meningkatkan pengawasan terhadap peredaran obat-obat termasuk makanan. Bahkan, BPOM juga akan mengawasi peredaran jual beli obat yang ada di media sosial atau online. “Kita lihat-lihat di online, melakukan penelusuran, produknya apa, dibuat di mana. Kita pantau,” katanya.

Pada pengawasan ini juga akan berkoordinasi dengan kepolisian atau Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng. Menurutnya, lokasi  peredaran obat-obatan ilegal kebanyakan di daerah Sukoharjo, Cilacap, termasuk Banyumas.

“Jadi, dia mendistribusikan dan melayani penjualan itu. Kadang-kadang orang memproduksinya itu begini, sudah ada kemasan-kemasan beredar di mana-mana. Sini ada, sana ada,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono, menjelaskan apotek yang sudah tercatat mendaftar resmi di Kota Semarang mencapai 600-an. Menurutnya, terkait usaha apotek secara resmi mendaftar di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu.

“Kalau kita hanya rekom. Secara reguler kita sudah melakukan pembinaan dan pemantauan. Kita punya jadwal setahun berapa kali kita lakukan pembinaan, perizinan termasuk farmasinya, laporannya untuk obat-obatan dan sebagainya,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebuah gudang tanpa izin yang digunakan untuk penyimpanan obat keras di belakang Apotek Sido Asih Jalan Medoho Raya RT 1 RW 6 Sambirejo, Gayamsari digerebek petugas gabungan. Penggerebekan dilakukan oleh petugas gabungan Polrestabes Semarang, Dinas Kesehatan Kota Semarang, serta BPOM Semarang, Rabu (4/10) pukul 11.00 lalu. (mha/aro)