NARASUMBER : Ketua Perhimpunan Humas Indonesia (Perhumas) Yogyakarta, Daru Wibowo memberikan paparan dalam seminar “Generasi Digital, Kreatif dan Inovatif” di Auditorium Untidar, Kamis (5/10) (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu).
NARASUMBER : Ketua Perhimpunan Humas Indonesia (Perhumas) Yogyakarta, Daru Wibowo memberikan paparan dalam seminar “Generasi Digital, Kreatif dan Inovatif” di Auditorium Untidar, Kamis (5/10) (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu).

MAGELANG – Saat ini telah muncul generasi sharing, generasi yang sangat senang membagikan konten berita baik maupun berita tidak baik. Kemudahan sharing merupakan keuntungan penyebaran berita, namun sekaligus ancaman karena mempermudah hoax menyebar.

“Di tengah menjamurnya generasi “sharing”, mereka dengan mudahnya menyebarkan berita/konten yang menurut mereka menarik, tanpa mengkonfirmasi atau menelaah kembali isi konten tersebut. Ini sangat rentan terhadap penyebaran berita hoax,” papar CEO PT Garuda Nyala Fajar Indonesia, Wahyu Aji dalam acara peluncuran Program Studi Ilmu Komunikasi dan Seminar “Generasi Digital, Kreatif dan Inovatif”, di Auditorium Universitas Tidar (Untidar) Magelang Kamis (5/10).

Wahyu yang memaparkan era jurnalisme digital mengingatkan, jurnalisme digital harus membangun ide-ide kreatif dan positif dalam menciptakan suatu berita agar terhindar dari hoax. “Berita keren itu adalah berita baik, berita benar atau berita bukan hoax. Jangan asal share tapi cek dulu. Saat ini, fakta tidak terlalu berpengaruh lagi dalam membentuk opini publik, dibanding emosi dan keyakinan publik,” jelas Wahyu.

Pembicara lain, Ketua Perhimpunan Humas Indonesia (Perhumas) Yogyakarta, Daru Wibowo, menekankan bahwa komunikasi adalah ‘kunci’ keberhasilan dalam berbagai bidang. Saat ini konsumen tidak lagi hanya melihat kualitas produk tetapi juga image dari produk tersebut. “Di era digital seperti sekarang ini, ketika beberapa produk memiliki kualitas yang sama maka yang menjadi penentu laku atau tidaknya produk tersebut ditentukan dari cara mengkomunikasikannya kepada konsumen,” kata Daru.

Dalam kesempatan tersebut, Untidar juga mengenalkan Program Studi Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Dekan FISIP Samudra Wibawa mengatakan, pada tahun pertama pembukaan ini, total dosen Prodi Ilmu Komunikasi adalah 6 dosen dan peserta didik sebanyak 42 mahasiswa. Walaupun baru diluncurkan, namun kegiatan perkuliahan telah dimulai 4 September 2017 lalu. “Sebagai prodi baru, dosen dan mahasiswa tidak perlu berkecil hati namun harus optimistis agar di kemudian hari menghasilkan lulusan yang berprestasi dan mendapatkan akreditasi yang baik pula,” papar Samudra. (cr3/ton)