Berbagi Ilmu, Cegah Bulutangkis Dicoret dari Olimpiade

341
BERFOTO BERSAMA : Perwakilan dari tujuh negara dan panitia Training Camp berfoto bersama, Kamis (5/10) seusai gelaran program Blibli Com Training Camp 2017 Road to World Junior Championships (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu).
BERFOTO BERSAMA : Perwakilan dari tujuh negara dan panitia Training Camp berfoto bersama, Kamis (5/10) seusai gelaran program Blibli Com Training Camp 2017 Road to World Junior Championships (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu).

Sebanyak 35 atlet dari 7 negara mendalami olahraga bulutangkis dari legenda hidup bulu tangkis Indonesia, Christian Hadinata. Mereka belajar langsung dari Juara All England 1972 & 1973 itu selama 12 hari di GOR Djarum Magelang.

KEPALA Tim Pelatih, Christian Hadinata, Kamis (5/10), mengatakan, 35 atlet itu terdiri dari 21 putra dan 14 putri yang berusia di bawah 19 tahun. Adapun 7 negara yang ikut adalah Brasil, Armenia, Georgia, New Zealand, Australia, Bulgaria, dan Timor Leste. “Mereka belajar di sini dalam program Blibli Com Training Camp 2017 Road to World Junior Championships dari 23 September sampai 5 Oktober. Ini adalah program PBSI yang bertujuan membantu negara yang badmintonnya belum berkembang,” kata pemegang gelar juara dunia ganda putra dan ganda campuran tahun 1980 tersebut.

Christian mengatakan, ia mendengar kabar kurang mengenakkan terkait posisi cabang olahraga (cabor) bulutangkis di Olimpiade. “Tersiar kabar cabor badminton tidak akan dimainkan dalam Olimpiade, karena kekuatan tidak merata. Selama dua dekade ini memang kekuatan badminton ada di benua Asia, seperti Indonesia, Malaysia, Tiongkok, Korea (Selatan), dan Jepang. Sementara negara-negara maju di Eropa dan Amerika, apalagi di benua Afrika kalah jauh,” ungkap Christian.

Atas dasar itulah, menurut Christian, BWF sebagai induk olahraga bulu tangkis dunia meminta negara-negara yang kuat badmintonnya untuk membina negara-negara yang masih berkembang. Salah satunya Indonesia yang diharuskan memiliki “anak asuh” dengan tujuan meningkatkan kekuatan bulutangkisnya.

“Nah, training camp ini salah satu cara kita untuk mengangkat badminton negara-negara yang berkembang itu. Harapannya agar badminton tidak dicabut dari Olimpiade, karena ke depan kekuatan akan lebih merata,” kata mantan Juara All England 1972 & 1973 tersebut.

Salah satu pelatih fisik training camp 2017, Reni S menjelaskan, para atlet peserta dikenalkan dengan 16 macam tes fisik, seperti push up, sit up, skipping, lari, jump, dan lainnya. Selain itu, peserta juga wajib mengikuti serangkaian tes fisik dengan indikator yang sudah tersistem baik.

“Menariknya, banyak dari mereka ternyata tidak mengenal aneka tes fisik tersebut. Padahal, tes fisik ini penting untuk mengukur kekuatan pemain, karena bermain bulutangkis membutuhkan fisik yang kuat dan prima,” imbuh Reni.

Pelatih Teknik Training Camp 2017 lainnya, Engga Setiawan menambahkan, setelah mengikuti kegiatan ini, banyak dari mereka yang mengalami kemajuan bagus. Kemajuan tidak hanya di fisik, tetapi juga teknik setelah mereka memahami betul arahan dan instruksi pelatih.

“Ada kemajuan bagus, terutama peserta dari Brasil dan Bulgaria yang mampu masuk final mini tournament. Harapannya, setelah ini mereka tambah berkembang dan maju lagi,” kata Engga. (cr3/ton)