Manggung Sampai Lombok, Tak Pernah Patok Tarif

Mutik Nida, Mahasiswi UIN Walisongo yang Dijuluki ‘Si Ratu Kendang’

4327
TERAMPIL: Mutik Nida saat memainkan musik kendang (DOKUMENTASI PRIBADI).
TERAMPIL: Mutik Nida saat memainkan musik kendang (DOKUMENTASI PRIBADI).

Tak hanya lincah menyayikan tembang dangdut, Mutik Nida juga jago main kendang. Kelihaian itu membuat Mutik menyandang julukam si Ratu Kendang dari Semarang. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

NAMA Mutik Nida cukup santer di belantika musik dangdut Kota Semarang. Video yang merekam kelihaiannya memainkan kendang pun sudah banyak ditemukan di YouTube. Mutik juga kerap muncul di sejumlah stasiun televisi nasional untuk diminta menunjukkan bakat bermusiknya.

Praktis, si Ratu Kendang kini terus kebanjiran job manggung baik dalam maupun luar kota. Pada setiap pertunjukan, merdu suara dan alunan kendang tangannya selalu menyita perhatian. Pun paras cantik mahasiswi semester delapan UIN Walisongo Semarang itu yang selalu jadi buah bibir.

Pemilik nama asli Mutiun Nutfi Nidaiyah ini mengaku, julukan Ratu Kendang sudah disandangnya setahun terakhir ini. “Saya nyanyi dan pegang kendang sudah sepuluh tahun. Tapi julukan Ratu Kendang baru setahun terakhir. Julukan itu dikasih oleh seorang kiai saat saya manggung,” ujar dara kelahiran Semarang, 18 Agustus 1994 ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dia bercerita, ketika menginjak usia 14 tahun sudah bergelut dengan kendang. Tapi, sejak usia SD, warga Gondoriyo Wates RT 4 RW 2 Ngaliyan, Semarang ini sudah hobi bernyanyi. Dia bahkan bisa bernyanyi berbagai genre musik, mulai pop, dangdut, hingga kasidah.

Baginya, bernyanyi sambil memainkan kendang bukan sesuatu yang mudah. Konsentrasi dan penjiwaan menjadi kunci utama agar keduanya bisa berjalan beriringan. Apalagi, kendang sendiri merupakan ruh dari musik dangdut yang kini populer di masyarakat.

Saban hari, mahasiswi yang juga aktif di Teater Beta Semarang ini rutin berlatih. Dia selalu menyempatkan waktu satu hingga dua jam sehari untuk memegang alat musik berbahan dasar kayu dan kulit binatang itu.

Keahliannya bernyanyi sambil bermain kendang itulah yang membuat gadis berjilbab itu sebagai seniman langka. Job manggung datang dari acara hajatan, nikahan hingga acara besar kedinasan pernah dilalui. Permintaan tak hanya datang dari wilayah Pulau Jawa, juga provinsi lain, seperti Kalimantan. “Bulan kemarin sudah lebih dari 50 kali job. Paling jauh Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Lombok,” ujarnya.

Meski sudah cukup terkenal, dia tidak pernah mematok harga ketika ada tawaran manggung. Mutik percaya, besar kecilnya bayaran tergantung kepuasan orang melihat aksinya. Alasan itulah yang membuat dia makin kelarisan job, yang tentu membuat pundi-pundi penghasilannya terus mengalir.  “Kalau kemampuan bagus dan memuaskan orang, tentu akan berbeda. Kebetulan saya tak punya grup, manajer saya adalah pacar saya sendiri,” bebernya.

Meski namanya kini terus populer, Mutik  tak ingin jumawa. Anak ketiga pasangan Samini, 47 dan almarhum Sakiman, 53, itu, mengaku masih terus belajar. Cita-citanya untuk menjadi penyanyi yang dikenal kelas dunia masih terus dikejar. Tujuannya satu, ingin membahagiakan orangtuanya. “Kebetulan impian almarhum bapak pengin sekali lihat saya manggung di televisi. Tapi baru kesampaian saat ini,” akunya.

Selain memiliki bakat bermusik, Mutik rupanya berbakat pula menjadi seorang desainer. Buktinya, dia selalu membuat kostum yang dipakai sendiri untuk tampil di sejumlah acara. Bakat itu muncul sejak dirinya mengambil jurusan perancang butik di SMK Muhammadiyah Boja, Kendal.

Tak hanya dinikmati sendiri, busana hasil karyanya juga dijual lewat online shop. “Saya juga jualan online rancangan baju muslim. Alhamdulillah banyak yang minat. Lumayan buat sampingan saat agenda manggung sepi,” tuturnya. (*/aro)