UJUNG TOMBAK: Kepala UPTD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal Harimurti saat diruang kerjanya (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
UJUNG TOMBAK: Kepala UPTD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal Harimurti saat diruang kerjanya (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

KENDAL – Maju dan tidaknya sekolahan bisa terlihat dari prestasi yang dicapai baik murid didik maupun guru pengajar. Untuk itu, sekolah harus memiliki prestasi unggulan baik akademik maupun non akademik.

“Sekolah harus punya prestasi yang bisa di tonjolkan. Ini sangat penting, karena kalau punya prestasi pasti dia akan dikenal dan mendapat murid,” ungkap Kepala UPTD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal Harimurti kepada Jawa Pos Radar Semarang Rabu (4/10) kemarin.

Harimurti mengakui, meraih suatu prestasi bukanlah perkara yang mudah. Namun demikian, pihaknya terus memberikan motivasi kepada setiap para guru dilingkup wilayahnya supaya memiliki program untuk capaian prestasi baik akademik maupun non akademik.

“Guru harus punya program untuk kreatif dan berkembang. Misalnya guru olahraga, dia harus berani mengajukan apa sebagai program. Dan pastinya kalau itu untuk pencapaian prestasi kita akan penuhi,” tegasnya.

Selain itu, laki-laki yang menjabat sebagai kepala UPTD sejak tahun 2005 ini mengatakan guru juga dituntut untuk pintar atau cerdas dan memiliki wawasan yang luas. Harimurti juga mendorong kepada guru supaya aktif mengikuti pelatihan atau seminar temasuk pendidikan dan pelatihan (Diklat).”Guru harus tetap semangat. Kalau bisa harus Sarjana, karena untuk meningkatkan profesionalismenya. Apalagi sekarang banyak tenaga pendidik yang dari asing,” katanya.

Laki-laki yang sebelumnya pernah berprofesi menjadi guru kelas sejak tahun 1979 dan diangkat menjadi kepala sekolah pada tahun 1995 ini juga membeberkan bahwa guru harus memiliki cara-cara tersendiri supaya dekat dengan murid dan pembelajaran mudah diterima.

“Kalau dulu memang beda dengan sekarang. Saat saya masih menjadi guru modelnya banyak hafalan dan kebiasaan. Jadi jangan sampai memandang hafalan itu kuno, karena dasarnya harus hafalan,” ujarnya.

Selain itu, untuk mencetak siswa yang berprestasi, pihaknya mendorong supaya siswa aktif mengikuti ajang perlombaan baik akademik maupun akademik. Salah satu untuk mengasah kemampuan siswa adalah aktif memberikan siswa soal-soal.”Kedua, siswa harus mampu membuat soal dan jawaban dari materi yang diberikan. Siswa membuat soal kemudian ditukar dengan temanya, soal itu kemudian dijawab,” terangnya.

Harimurti juga menyampaikan, mencetak siswa berprestasi tentunya juga harus diimbangi dengan karakter. Salah satu cara yang dilakukan guru adalah harus bisa memberikan pemahaman dan bercerita didepan murid didiknya.

“Saya menanamkan karakter dengan bercerita. Dulu kan jam pelajaran saya kemas sendiri, saya ajukan lima menit untuk memberikan cerita-cerita yang positif supaya murid memiliki wawasan. Tapi kalau sekarang saya jumpai tidak ada yang cerita, jam pelajaran selesai ya selesai,” katanya.

Selain itu, sekarang ini masih adanya sekolah-sekolah yang tenaga pendidiknya masih belum fokus terkait profesinya sebagai guru. Menurutnya, masih banyak sekolah yang pekerjaan guru merangkap mengurusi bagian administrasi.

“Sekarang ini teman-teman guru jangan banyak diikutkan dengan kegiatan luar sebagai guru. Contoh ikut mengerjakan adiministrasi. Kalau bisa ya guru harus lebih fokus mengajar,” pungkasnya kemarin. (mha/bas)