33 C
Semarang
Senin, 6 Juli 2020

33 Ribu Hektare Terancam Gagal Tanam

Tak Direspon PSDA Pemprov Jateng

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

KAJEN-Bendungan Sipon di Desa Mulyorejo, Kecamatan Kesesi, mengalami rusak parah. Akibatnya, sawah seluas 33 ribu hektare di-16 desa di Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan, gagal tanam. Padahal awal bulan Oktober masuk musim tanam kedua, setelah Agustus lalu panen raya.

Bendungan Sipon tersebut memiliki tiga pintu bendungan, namun bangunannya ambles, karena pondasinya yang rapuh, dan pintu pengendali tiga pintu air juga rusak. Akibatnya saluran air yang berasal dari Bendungan Gembiro tidak dapat lagi ditampung untuk dialirkan ke-16 desa yang terbagi dari tiga pintu.

Ketua Paguyuban Kepala Desa Kecamatan Sragi, Saridjo mengungkapkan bahwa Bendungan Sipon mengalami kerusakan sudah lebih dari 10 tahun. Sebelumnya masih bisa digunakan, meski air yang mengalir tidak maksimal. Namun semenjak jebolnya pondasi setahun terakhir, Bendungan Sipon nyaris tidak lagi berfungsi, karena tidak bisa menampung air dari Bendungan Gembiro.

“Air yang mengalir dari Bendungan Gembiro, seharusnya ditampung dulu di Bendungan Sipon. Kemudian dialirkan ke-16 desa melalui tiga pintu yang ada di Bendungan Sipon ini. Dengan rusaknya Bendungan Sipon ini, air hanya mengalir ke sawah terdekat bendungan dengan debit air yang sangat minim,” ungkap Saridjo.

Menurutnya, pihak Pemkab Pekalongan dan Pemerintah Propinsi (Pemprov) Jateng, tidak kunjung membantu memperbaiki Bendungan Sikpon. Akibatnya, tahun 2018 mendatang, 16 desa di Kecamatan Sragi, tidak bisa melakukan masa tanam, karena 33 ribu hektare sawah hanya mengandalkan air tadah hujan.

Padahal pihak paguyuban sudah berulang kali mengajukan proposal perbaikan ke Kantor Pengairan Sumber Daya Air (PSDA) Pemkab Pekalongan, namun disaranka ke PSDA Pemprov Jateng. Namun hingga kini, belum pernah direspon.

“Sejak tahun 2014 sudah mengajukan proposal ke PSDA Kabupaten Pekalongan, setelah ke PSDA Pemprov Jateng tak ada jawaban atau tindakan. Kami kini khawatir, 33 ribu hektare sawah terancam puso dan mengalami kekeringan,” kata Saridjo yang juga Kepala Desa (Kades) Kedungjaran.

Sementara itu, Kasi Sarana dan Prasarana Pembangunan Pengairan Sumber Daya Air (PSDA) Pemkab Pekalongan, Budi Sutanto, membenarkan rusaknya Bendungan Sipon. Akibatnya, 16 desa tidak dapat dialiri air yakni Desa Bulak Pelem, Bulaksari, Gebangkerep, Kalijambe, Kedungjaran, Ketanon Ageng, Klunjukan, Krasakageng, Mrican, Purwodadi, Purworejo, Sijeruk, Sragi, Sumub Kidul, Sumub Lor, Tegal Suruh, Tegalontar. “Bendungan Sipon sudah rusak hampir 10 tahun. Namun kewenangannya PSDA Pemprov Jateng. Maka kami tidak bisa memperbaikinya. Meski begitu, kami setiap tahun selalu mengusulkan perbaikan ke PSDA Pemprov Jateng,” tegas Budi. (thd/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Sempu Carnival, Ajang Adu Kreativitas

BATANG – Semarak HUT ke 72 Kemerdekaan RI, masih begitu terasa di Desa Sempu, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Rabu (23/8) kemarin, Sempu Carnival digelar...

Ribuan Petasan Kacangan Disita

DEMAK - Aparat Polsek Wedung menyita ribuan petasan berbagai jenis, termasuk jenis kacangan. Ini setelah dilakukan razia penyakit masyarakat (pekat) di Desa Bungo, Kecamatan...

Bowo Sidik Salurkan Ribuan Bingkisan Ramadan

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Bowo Sidik Pangarso, kemarin menyalurkan ribuan paket bingkisan untuk anak yatim dan duafa. Pendistribusian...

Pegawai Kejari Tertipu Rp 400 Juta

SEMARANG – Seorang pegawai Kejaksaan Negeri Semarang (Kejari) harus rela kehilangan uang senilai Rp 400 juta, setelah tergiur dengan iming-iming Maria Endang, warga Perum...

2 Bulan, Otopsi Belum Dikerjakan

SALATIGA-Kematian Bambang Heri Susanto pada 13 Oktober 2016 lalu masih misterius. Penjaga SD Negeri 06 Ledok ini ditemukan tergantung di kamarnya. Pihak keluarga menduga...

Konsep Ekosistem dalam Jelajah Alam Sekitar

RADARSEMARANG.COM - EKOSISTEM merupakan materi kelas VII. Ekosistem merupakan interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Materi ekosistem mencakup komponen ekosistem yang berupa biotik dan...