Oleh: Dyah Tri Widayanti SPd
Oleh: Dyah Tri Widayanti SPd

WAKTU sangat berpengaruh terhadap keefektifan sebuah kegiatan. Semakin efektif dan efisien seseorang dalam menggunakan waktu, maka semakin optimal pula hasil yang akan diperoleh. Begitu pula dengan waktu belajar di sekolah. Ada pembagian waktu antara jam mata pelajaran dan jam istirahat. Antara mata pelajaran (mapel) satu dengan mapel yang lainnya pun pasti berbeda-beda dalam alokasi pembagian waktu pembelajarannya. Dan hal ini berlaku baik di  SD, SMP maupun SMA dan SMK.

Bila kita melihat perbandingan antara banyaknya waktu pembelajaran mapel Pendidikan Agama Islam (PAI) antara sekolah umum dengan madrasah akan sangat berbeda jauh. Sekolah umum hanya memiliki 2 jam tatap muka dalam satu minggu (jika sekolah menerapkan Kurikulum 2006) atau 3 jam tatap muka dalam satu minggu (jika sekolah menerapkan Kurikulum 2013). Sedangkan di madrasah, mapel PAI masih dipecah menjadi lima mapel. Yakni, aqidah akhlak, fiqih, sejarah kebudayaan Islam, quran hadist dan bahasa Arab. Sehingga tiap-tiap mapel PAI tersebut juga mendapatkan jam masing-masing dalam setiap pertemuannya dalam satu minggu.

Mengingat pembelajaran agama itu sangat penting untuk perkembangan moral dan religiusitas bangsa, apalagi di era globalisasi dengan maraknya budaya asing baik yang positif maupun negatif, maka diperlukan pondasi yang kokoh untuk memperkuat keimanan seseorang.

Di samping untuk memaksimalkan materi PAI, jam tambahan Baca Tulis Alquran(BTA) dan PPI ini dirasa memang sangat diperlukan untuk menghantarkan siswa menguasai konsep-konsep membaca dan menulis Alquran dan keterkaitannya untuk dapat memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kata menguasai di sini mengisyaratkan bahwa harus menjadikan siswa tidak sekadar tahu (knowing) dan hafal (memorizing) tentang BTA dan PPI, melainkan harus menjadikan siswa untuk mengerti dan memahami (to understand). Dan hal yang menjadi dasar terpenting  dilaksanakannya jam tambahan BTA dan PPI ini adalah agar siswa terbekali dari aspek religiusitas atau keagamaan yang cukup setelah ia lulus dari sekolah nantinya. Dengan dibekali aspek religiusitas atau keagamaan yang cukup, diharapkan para siswa juga memiliki akhlak dan kepribadian yang baik.

Jam tambahan BTA dan PPI ini dilaksanakan setiap hari Senin-Kamis setelah seluruh pelajaran selesai, yaitu dimulai pada jam ke-9 atau pukul 13.00 WIB selepas para siswa selesai sholat dzuhur berjamaah. Para guru pengampu atau pembimbing jam tambahan BTA dan PPI ini dipilih dari sekian banyak guru mapel di SMP Empu Tantular yang dirasa cukup mampu untuk memberikan materi BTA dan PPI tersebut. Pembelajaran BTA dan PPI ini dalam pelaksanaannya dibagi menjadi dua jenis, tiga hari untuk pembelajaran BTA dan sehari untuk pembelajaran PPI.

Kartu Mengaji

Pembelajaran BTA dilaksanakan dengan cara siswa praktik membaca dan menulis Alquran secara langsung dengan guru pengampu atau pembimbing sesuai dengan tahapan atau tingkatan yang sudah dicapai para siswa sebelumnya. Misalnya ada yang sudah sampai Alquran, Juz Amma ataupun baru sampai Iqra. Setiap siswa juga memiliki kartu prestasi  (kartu mengaji) untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan kemampuan membaca dan menulis Alquran bagi para siswa.

Sedangkan untuk pembelajaran PPI yang hanya dijadwalkan satu hari lebih menekankan pada bidang pengamalan ilmu fiqih, dengan tujuan siswa lebih mendalami fiqih bukan hanya sebatas teori, siswa juga dapat mempraktikan secara langsung yang didampingi oleh guru pembimbing atau pengampu. Materi-materi yang mencakup PPI antara lain: 1) Thaharah,  2) Shahadat , 3) Shalat, 4) Puasa, 5) Zakat, dan 6) Haji. Dalam pembelajaran PPI juga diselipkan materi-materi mengenai aqidah akhlak, fiqih, sejarah kebudayaan Islam, quran hadist dan bahasa Arab.

Dengan adanya jam tambahan BTA dan PPI ini dapat memaksimalkan materi pembelajaran PAI. Kemampuan para siswa dalam membaca dan menulis Al quran lebih terasah, para siswa juga terbantu dalam menghafalkan surat-surat pendek dan terlebih kecintaaan terhadap BTA semakin meningkat dan tentunya diharapkan juga dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa kepada Allah SWT.

Memang tak bisa dipungkiri bahwa mapel PAI tidak bisa menjadi mapel prioritas di sekolah umum. Pemerintah sepertinya juga belum memberikan perhatian khusus akan hal ini. Berbeda dengan madrasah yang notabenenya mengajarkan materi PAI dengan porsi yang cukup banyak. Untuk itulah, strategi tersebut diharapkan dapat memaksimalkan materi pembelajaran PAI di sekolah-sekolah umum, dengan tujuan agar para siswa di negara kita menjadi penerus bangsa yang beragama, bermoral dan berbudi pekerti yang luhur sesuai dengan cita-cita bangsa.