Pengembangan Kampung Batik Terus Digenjot

662
KAMPUNG BATIK : Dinding Kampung Batik dipercantik dengan mural tokoh pewayangan (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG).
KAMPUNG BATIK : Dinding Kampung Batik dipercantik dengan mural tokoh pewayangan (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Pemkot Semarang terus berupaya menghidupkan sektor usaha kecil menengah (UKM). Komitmen tersebut dibuktikan dengan meningkatkan potensi di setiap kampung atau kelurahan. Termasuk Kampung Batik yang terletak di Kelurahan Rejomulyo.

Pemkot juga mendorong sejumlah perusahaan atau instansi turut membantu pengembangan UKM melalui program corporate social responsibility (CSR). Seperti PT PLN dan Politeknik Negeri Semarang (Polines), yang telah memberikan pelatihan sertifikasi hingga pengolahan limbah batik, Senin (10/2).

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, paska ditetapkan menjadi kampung tematik, Kampung Batik terus mengalami perubahan dan berkembang sangat luar biasa. Menurut Ita, sapaan akrabnya, kepedulian dari PLN dan Polines untuk mengangkat Kampung Batik patut diapresiasi.

“PLN dan Polines memberikan pelatihan berupa sertifikasi untuk pengrajin batik, alat pengolahan limbah dan lainnya untuk mengangkat Kampung Batik. Kita harus apresiasi pihak-pihak yang ikut membangun Kota Semarang,” katanya usai menghadiri acara CSR PLN dan Polines di Kampung Batik, Senin (2/10) petang.

Manajer PT. PLN (persero) APD Jawa Tengah &  Yogyakarta, Moses Allo mengatakan, program bina lingkungan tersebut rencananya akan dilaksakan dalam tiga tahap selama tiga tahun kedepan. Pada tahap pertama diberikan alat-alat pelatihan batik, alat peraga edukasi untuk PAUD, sertifikasi personel kepada perajin batik, penyediaan sarana dan prasarana pelantikan membatik dan pengembangan wisata kampung jadul. “Melalui program ini, kami ingin mengembangkan Kampung Batik Semarang menjadi destinasi wisata,” katanya.

Pada tahap pertama ini, PLN mengeluarkan dana sekitar Rp 135 juta. Untuk sertifikasi total ada 10 pengrajin batik yang mendapatkan sertifikasi dari lembaga sertifikasi profesi (LSP). (den/zal)