Guru Harus Ciptakan Happy Learning

732
Oleh: Sugiharti
Oleh: Sugiharti

UNTUK menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan diperlukan pembaruan setiap waktu. Skenario proses belajar-mengajar telah dibuat guru melalui perangkat pembelajaran, khususnya di Lesson Plann (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), namun, jika tidak dikembangkan secara kreatif maka proses belajar mengajar akan berjalan monoton.

Setiap pelaku KBM (Kegiatan Belajar Mengajar), baik guru maupun siswa pasti menginginkan proses belajar yang tidak hanya menyenangkan (fun learning), tetapi juga bahagia (happy learning). Meski memiliki arti sama, tetapi maknanya sedikit berbeda.

Fun learning identik dengan pembelajaran dengan proses yang fun, baik metode maupun kegiatannya. Sedangkan happy learning, meski dengan situasi, metode dan proses belajar seperti apapun siswa tetap merasa bahagia dengan materi yang diajarkan. Lalu, bagaimana membuat siswa bahagia dengan belajar?

Metode yang bervariasi, media belajar yang menarik, serta sentuhan kreativitas guru, maka kita dapat menciptakan fun learning. Sedangkan untuk menciptakan happy learning, kita harus dapat memastikan siswa menyukai belajar dan mata pelajaran. Umumnya, siswa akan menyukai mata pelajaran ketika mereka menyukai guru yang bersangkutan. Jadi, guru menjadi figur utama.

Sebagai figur, guru harus membiasakan diri mencontohkan perilaku positif, khususnya ketika mengajar di kelas. Perilaku positif dapat dilakukan secara konsisten dan dimulai dari hal-hal yang paling sederhana, yaitu  tersenyum dan menyapa. Meski sepele, tersenyum memberi efek positif yang luar biasa. Bisa dibayangkan, ketika semua guru di kelas selalu tersenyum kepada para siswanya, maka para siswa akan terbawa suasana bahagia.

Kemudian, menyapa erat kaitanya dengan personal approach (pendekatan personal) yang merupakan bagian dari metode pendekatan guru secara emosional ke siswa. efeknya, siswa akan merasa dihargai dan termotivasi, sehingga berpengaruh terhadap suasana hati.

Apersepsi sebagai metode penunjang terciptanya fun and happy learning . Perhatian murid akan terfokus jika guru memiliki performa yang manarik pada awal pemberian materi. Artinya, guru mampu menyajikan sesuatu yang menarik, sehingga memancing perhatian siswa. Biasanya, ketika berada di kelas, guru sudah siap memberi materi, tetapi belum tentu murid juga siap menerima materi.

Seperti kita ketahui, mengajar dan belajar merupakan dua aktivitas yang berbeda. Karena itu, perlu pemanasan (brain storming) untuk siswa sampai mereka siap menerima materi. Maka, Salah satu caranya melalui pengembangan apersepsi. Apersepsi berfungsi sebagai stimulus sekaligus motivasi agar siswa siap menerima materi pelajaran, yaitu dengan cara memberikan cerita anekdot, pengalaman yang menginspirasi serta berbagai contoh kasus yang bisa dijadikan pembelajaran.

Stimulus tidak akan berhasil jika guru tidak membawakannya secara ekspresif. Dalam hal ini, butuh kemampuan guru dalam berakting. Kemampuan berakting ini sangat menunjang keberhasilan guru dalam mengkondisikan siswa di kelas.

Metode Variatif

Pemberian materi  dengan metode yang bervariasi. Saat ini, kita masih menemukan beberapa guru menggunakan metode yang sama dari dulu hingga sekarang, padahal zaman selalu berubah sehingga cara mengajarpun harus disesuaikan dengan zamannya. Maka, hal ini akan memudahkan anak didik kita menerima materi.

Di kelas yang mayoritas kinestetik, maka kita menggunakan metode belajar yang memungkinkan mereka untuk banyak melakukan aktifitas gerak. Bila mayoritas visual, banyak memakai gambar-gambar menarik. Demikian juga dengan siswa yang tipe auditori, mereka mungkin enjoy saja ketika pembelajaran dengan metode ceramah. Tetapi, metode-metode tersebut harus diimbangi dengan gaya belajar yang berganti-ganti antara kinestetik, visual dan auditori mengingat tidak semua dalam satu kelas memiliki gaya belajar yang sama.

Bahagia dengan belajar (happy learning) dan menyenangkan (fun learning) menjadi tanggung jawab moral bagi setiap pendidik untuk selalu berimprovisasi, berkreasi, dan selalu menebarkan energi positif kepada siswa. Belajar bukan lagi menjadi beban bagi siswa, tetapi hal yang dirindukan. (*/aro)