BEDA WARNA: Pelukis Victorya Christiani Margareth tengah menjelaskan makna salah satu lukisan yang dipamerkan kepada pengunjung dalam pameran lukisan bertema Beda Warna di Museum BPK RI Kota Magelang, Senin (2/10) kemarin (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).
BEDA WARNA: Pelukis Victorya Christiani Margareth tengah menjelaskan makna salah satu lukisan yang dipamerkan kepada pengunjung dalam pameran lukisan bertema Beda Warna di Museum BPK RI Kota Magelang, Senin (2/10) kemarin (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).

MAGELANG–Sebanyak tujuh pelukis berbagai aliran seni yang tergabung dalam Java Talk Through Art, memamerkan hasil lukisannya di Museum BPK RI kompleks Bakorwil Kedu, Kota Magelang. Gelaran ini merupakan saluran ekspresi kegelisahan para pelukis terhadap isu nasional yang berkembang saat ini.

Salah satu pelukis asal Jakarta, Victorya Christiani Margareth, ditemui di sela-sela pameran, Senin (2/10) kemarin, mengatakan, pameran ini sebagai entitas kegalauan para seniman menyikapi isu nasional terkait G30S.

“Ada tujuh pelukis yang ikut dan mengirimkan karya untuk dipamerkan di sini (Magelang). Total ada 29 lukisan dan satu instalasi yang kami pamerkan,” ucap pelukis beraliran abstrak yang kini menetap di Kota Magelang. Victorya menjelaskan, mengusung tema Beda Warna, pameran kali ini dibuat sesuai anggota Java yang alirannya berbeda-beda. Ada yang beraliran abstrak, dekoratif, realis, juga semi ekspresif.

“Tekniknya memang macam-macam, namun disepakati bahwa media menggunakan media on paper. Pesan inilah yang ingin kami sampaikan bahwa Indonesia penuh dengan keberagaman, namun harus tetap menjunjung semangat persatuan,” kata pelukis yang sudah menghasilan ratusan karya tersebut.

Victorya mengaku senang, karena diajak oleh Java untuk ikut pameran secara umum. “Terus terang, saya baru kali ini pameran. Karena memang saya terjun di dunia lukis, merupakan sebuah pertemuan pengalaman pribadi saya. Sehingga hasil karya juga hanya sebagai koleksi pribadi, tidak diperjualbelikan,” ucap pelukis yang sudah jatuh cinta melukis sejak 2012 silam.

Pelukis lainnya asal Magelang, Ike Wulansari, menyampaikan bahwa pameran lukisan ini dilaksanakan mandiri tanpa sponsor. “Sengaja kami gelar, karena bukan mengejar materi. Tetapi untuk menunjukkan ekspresi kami para seniman lukis. Pameran kami gelar sejak tanggal 1 Oktober hingga 15 Oktober.”

Java Talk Through Art sendiri, menurut Ike, sebuah komunitas seniman dan art management. Anggotanya tanpa ada batas regional maupun negara, namun ingin berbicara banyak hal melalui seni.

Seorang pengunjung pameran, Nana Ibrahim, pegiat videogram Magelang berpendapat, pameran tersebut sangat bagus dan memberikan paparan wawasan tentang dunia lukis serta alirannya. “Kadang juga sangat sulit memaknai arti dari karya seni lukis jika tidak dijelaskan. Pameran ini memberi manfaat dan bisa memberi ‘keluasan’ pemikiran bahwa menyelami Indonesia secara utuh bisa melalui karya lukis.” (cr3/isk)