Haul Kiai Jungke dari Pandansari

Oleh: Djawahir Muhammad

530

TEPAT tanggal 10 Muharram 1439 H bersamaan  pada Sabtu (30/9) lalu, berlangsung haul ke-417 Kiai Jungke alias Kiai Mertonoyo, penyebar agama Islam dari Kampung Pandansari, Semarang. Meskipun hujan, warga kampung di tengah Kota Semarang itu didampingi Ibu Lurah dan tokoh masyarakat setempat datang ke masjid dan membacakan kitab Burdah, dengan iringan musik terbang dan jidur yang meriah. Sesudah itu mereka bersama-sama berziarah ke makam Kiai Jungke yang terletak di tengah permukiman, membacakan doa dan mendengarkan tausyiah yang disampaikan ustad Abdullah Baagil dari Surabaya.

Khol, haul atau peringatan hari wafatnya seseorang merupakan salah satu bentuk tradisi lokal masyarakat Semarang yang bernuansa Islam. Selain Kiai Jungke yang hidup semasa pemerintahan Ki Ageng Pandanaran 3 atau Pangeran Kanoman, haul serupa dilakukan masyarakat Semarang  pada hari wafat Kiai Saleh Darat, Kiai Abdullah Umar, dan lain-lain.

Dalam tradisi Jawa juga terdapat upacara bersih (ziarah) kubur atau nyadran, yang berlangsung menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Haul  atau nyadran merupakan bentuk penghormatan keluarga yang masih hidup kepada almarhum, sehingga  merupakan tradisi atau  kebudayaan yang mulia. Perpaduan budaya Islam dengan budaya setempat Jawa (sinkretisme) memang menjadi salah satu identity of mind (identitas bentuk) “Wong Semarang” selain bentuk-bentuk (ciri) yang lain. Misalnya, religiusitas, entrepreneurship, egality, equality dan lain-lain (Djawahir, 87:2016).

Serupa dengan sinkretisme, bentuk-bentuk tradisi lokal Wong Semarang juga merupakan turunan dari  multikulturalisme (kesetaraan budaya)  antar etnis, yakni musik Gambang Semarang yang merupakan  perpaduan budaya dengan etnis Tionghoa. Juga pluralism (kemajemukan budaya). Misalnya, dalam bentuk Warak Ngendog, hybrid culture (perpaduan  dua elemen budaya atau lebih) misalnya Manten Kaji, bahasa pergaulan, dan lain-lain.

Haul Kiai Jungke mempresentasikan karakteristik tradisi budaya Wong Semarang  yang bersifat inner  (kejiwaan) maupun ekstra estetis (tubuh, bentuk), setara dengan  upacara bernuansa religius semisal Imlek (Konghucu), Kesodo (Budha), dan Natal (Nasrani).

Dalam konteks wisata budaya, khol ini memiliki potensi untuk dijadikan  calendar of event kegiatan wisata di kota ini. Hal ini dimungkinkan karena dalam  upacara tersebut juga terdapat unsur-unsur wisata budaya, yang dapat didekati sebagaimana pendekatan yang dilakukan dalam menggarap objek-objek wisata religi  yang lain.

Apalagi jika dilihat  lokasi Kampung Pandansari yang menyatu  dengan Jalan Gendingan. Sebagaimana diketahui, jalan atau Kampung Gendingan adalah sebuah lokasi di mana pernah berdiri  usaha pembuatan alat musik gending (gamelan) Jawa, setara usaha kerajinan rakyat yang dilakukan masyarakat di Surakarta, Kartasura maupun Jogjakarta (Suryajaya, 1980;95). Di muka Kampung Pandansari Gang VII ini (sebelah kiri perempatan Gendingan) sampai kini masih berdiri toko benda-benda antik “La Vogue”, yang dapat menjadi penopang usaha mempromosikan Pandansari/Gendingan sebagai kampung wisata, melengkapi fungsi kampung-kampung  wisata (Kampung Kandri dan sebagainya), atau Kampung Pelangi (Pasar Bunga Kalisari) yang diresmikan Wakil Wali Kota Semarang baru-baru ini.

Dengan demikian, keberadaan makam Kiai Jungke dapat berfungsi ekonomis, seperti makam wali Sunan Kalijjaga di Kadilangu,  Demak, yang memberi “berkah” para pedagang souvenir di sekitar makam. Ide ini tentu dapat diperpanjang misalnya dengan memperbaiki makam para pendiri kota Semarang, makam Kiai Saleh, makam para habaib  di Bergota, makam Kiai Terboyo dan Syeh Jumadil Kubro di Kaligawe, dan lain-lain.

Insya’ Allah, dengan merawat makam para leluhur dan pendiri kota ini masyarakat akan ditambah karunia dan nikmatnya oleh Allah SWT, amin !  (*aro)