Berciri Khas Batik Pesisiran, Dimodifikasi Hingga 250 Motif

Melacak Motif Batik Asli Semarangan

642
BATIK SEMARANGAN: Aktivitas membatik tulis dengan canting di Sanggar Batik Semarang 16, Meteseh, Tembalang (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).BATIK SEMARANGAN: Aktivitas membatik tulis dengan canting di Sanggar Batik Semarang 16, Meteseh, Tembalang (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BATIK SEMARANGAN: Aktivitas membatik tulis dengan canting di Sanggar Batik Semarang 16, Meteseh, Tembalang (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak warisan budaya dari nenek moyang. Salah satunya kain batik. Setiap daerah memiliki corak dan motif batik berbeda. Batik Semarangan misalnya, memiliki ciri khas perpaduan batik pesisir dengan budaya percampuran warga Jawa, Tionghoa dan Arab. Motif khas pesisir seperti flora fauna, yakni burung merak, kupu-kupu, bangau, cempaka, mawar, burung blekok hingga pohon asam pun banyak menghiasi literatur yang menggambarkan Batik Semarangan.

“Saat ini ikon wisata di Semarang, seperti Gedung Lawang Sewu dan Gereja Blenduk pun menjadi motif yang diangkat dalam kain batik. Corak warnanya pun berbeda dengan warna khas Pantura, yakni warna berani seperti merah, kuning, dan lainnya,” kata pemilik Identix Batik, Irma Susanti, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (1/10).

BERTAHAN: Ida Purwati di outlet batik rumahnya Kampung Batik Gedong, Rejomulyo (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BERTAHAN: Ida Purwati di outlet batik rumahnya Kampung Batik Gedong, Rejomulyo (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Ia menerangkan, setiap motif kain batik khas Semarangan sendiri menggambarkan apa yang ada di kota tersebut. Agar lebih dikenal dan mendunia ia pun melakukan modifikasi kain batik Semarangan seperti pada desain hingga perpaduan kain.

“Kendala dari batik tulis sendiri adalah prosesnya yang lama dan banyak memakan waktu, bahkan baru-baru ini ada orang Kanada yang pesan dibuatkan motif Gereja Blenduk dan Lawang Sewu, namun dengan warna yang lebih kalem,” jelasnya.

Sebagai seorang desainer, cara memodifikasi kain batik Semarangan dengan kain warna lain pun cenderung mudah. Perpaduan dua kain tersebut membuat derajat batik khas Semarangan lebih terkesan eksklusif ditambah dengan desain yang menarik seperti gaun pesta ataupun model fashion saat ini. “Anak muda lebih banyak yang suka, bahkan orang luar negeri hingga corporate pun suka karena terkesan lebih luwes,” tuturnya.

Pelestari Batik Kota Semarang, Eko Hariyanto, mengakui batik sekarang  mengalami perkembangan yang luar biasa. Batik yang dulunya hanya digunakan momen tertentu, sekarang banyak dipakai masyarakat.
Menurutnya, dengan adanya antusias masyarakat akan kecintaan terhadap batik menjadikan motivasi sejumlah kalangan untuk membuat batik semakin besar. Bahkan pihaknya juga aktif membuat batik dengan motif mencapai 250 jenis.
“Batik Semarangan motifnya sudah banyak. Hampir setiap bulan selalu diciptakan motif baru, tapi nggak semuanya langsung saya bikin, karena prosesnya lama, jadinya belum semua dibuat,” ujarnya.
Kualitas prodak batik yang dibuatnya sudah siap bersaing dipasaran. Namun dari segi harga masih belum mampu karena keterbatasan bahan baku. Eko mengakui bahan baku pembuat batik masih diambil dari luar Kota Semarang. “Jujur aja kita ambil bahan baku dari luar kota, sehingga itulah yang kita bekum mampu bersaing. Di Semarang sudah jarang yang bikin batik, yang muncul malah pedagang batiknya,” tegasnya.
Eko juga mengatakan, peran pemerintah memang belum seperti yang diharapkan. Pemerintah hanya memberikan program membuat pelatihan membatik dan fasilitas pemasaran melalui pameran-pameran.”Tapi, pemerintah nggak menyadari bahwa yang sudsh dilatih ini sudah mampu belum sih untuk produksi?” katanya.
Meskipun demikian, pihaknya sangat mengapresiasi terhadap pemerintah yang terus berupaya melestarikan batik, utamanya khas Kota Semarang. Bahkan, Eko juga terus aktif memberikan pelatihan batik di lingkungan kampung batik Bubakan. “Besok (hari ini) pada 2 Oktober 2017, kita mau melakukan sertifikasi para pekerja batik,” terangnya.

Eko menambahkan, mencintai dan melestarikan batik tidaklah sulit. Tidak harus memakai mempelajari dan membeli. Menurutnya, paling utama adalah mengenali dan memahami batik itu sendiri.  “Karena dalan perkembangannya mengalami banyak proses, mulai dari batik printing, yang sebenarnya bukan batik, tapi textil bermotif  batik. Itu yang harus dipahami dulu,” katanya.

Penulis buku berjudul ‘Ungkapan Batik di Semarang’, ini  mengatakan, kalau berbicara batik Semarang, tidak lepas dari setelah sekian lama vakum, mulai pada 2005, muncul nama Umi S Adi Susilo yang aktif menghidupkan kembali aktivitas perbatikan. Ia mengatakan, selain banyak mengadakan pelatihan membatik, Umi juga membentuk perusahaan kerajinan batik yang sekarang dikenal dengan nama Batik Semarang 16.

Menurutnya, yang sangat menarik, perusahan kerajinan batik ini menciptakan banyak motif khas Semarang, bahkan eksplorasi penciptaan motifnya tak semata pada landmark (simbol visual) Kota Semarang, melainkan pada elemen-elemen dekoratif banyak bangunan tua di kota tersebut.

Kolektor Batik Semarangan ini memiliki satu catatan penting untuk Batik Semarang 16. Ia menyebutkan, catatan itu adalah contoh kreativitas aneka kriya yang sangat peduli terhadap lingkungan.

“Makanya, dalam berkreasi, perusahaan kerajinan batik tersebut menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan dengan warna-warna alam (natural dyes) dalam proses pembatikannya,”kata Saroni Asikin kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (30/9).

Narasumber pada Seminar Pengembangan dan Pelestarian Batik Semarang 2007 lalu ini menilai, motif yang telah dihasilkan Batik Semarang 16, terutama motif-motif baru yang berhubungan dengan landmark Kota Semarang seperti Tugu Muda Kekiteran Sulur, Lawang Sewu, Asem Arang, Blekok Srondol, dan banyak lagi. Menurutya, beberapa motifnya bahkan telah dipatenkan di Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

“Semarang jelas merupakan kota yang punya tradisi batik. Ini hal penting untuk memberi keyakinan pada para pecinta batik bahwa pasti ada pola tertentu yang mencirikan batik Semarangan, bahkan untuk Batik Semarang 16 sudah update, jumlah motifnya ada 900-an, di mana 219 di antaranya sudah HAKI,”bebernya.

Namun demikian, menurutnya,  semua itu bukan pekerjaan gampang. Menurutnya, sebagai entitas budaya, pencarian pola khas suatu batik butuh penelitian yang panjang dan holistik. Ia menilai pencarian identitas batik Semarang ini sangat berkaitan dengan sejarah kota dan kebudayaan masyarakatnya.

Menurutnya, dalam prosesnya patut iyu dilibatkan banyak pihak. Baik, Pemkot atau semua stakeholder kota, para peneliti (sejarawan, budayawan, sosiolog), atau siapa pun yang concern pada batik. Tak hanya itu, kalau perlu penelusuran ke beberapa museum batik perlu dilakukan seperti di Trompenmuseum Amsterdam, Los Angeles County Museum, atau National Museum of Singapore.

Ia meminta proses pembatikan di Kota Semarang yang kini aktif dilakukan di Kampung Batik, pelatihan di Marabunta, atau juga di beberapa workshop batik lainnya tidak boleh diabaikan. Menurutnya, penciptaan motif-motif baru sangat perlu terus dimunculkan.

Untuk melakukan pencarian Identitas Batik Semarangan, ia mengusulkan beberapa poin di antaranya, mencermati pola-pola kain cindai (patola) dan chintz dari India, mencermati pula pola Panastroman yang dipengaruhi pola batik keraton ketika Osterom sudah berproduksi di Banyumas.

Selain itu, jangan lupakan pola batik keraton. Sebab, tak termungkiri pola dan ragam hiasnya banyak memengaruhi batik-batik di luar keraton seperti batik sudagaran, batik petani, juga batik Belanda dan China. Franquemont pada awal kreasinya juga menyukai warna soga keraton. Menurutnya, keberadaan Semarang sebagai kota pelabuhan, sebagai tempat transit batik-batik dari pedalaman mungkin sekali mengadopsi pola-pola keraton dengan tafsir pesisiran atau gaya Eropa.

“Ada pula kecenderungan orang-orang di Semarang memakai jenis batik berpola keraton. Konon orang kaya Semarang seperti Tasrifin pun memakai batik kawung. Jadi, jejak pengaruh itu bisa dicari,”jelasnya.

Usulan lain, lanjut Asikin, perlunya mencermati pula pengaruh Laseman dan Dermayon. Khusus untuk Dermayon yang karakteristiknya mirip Laseman, polanya banyak yang mengangkat tema bahari. Terakhir, jangan sampai melupakan pola-pola batik daerah sekitar, seperti Demak, Kendal, atau Kudus.  “Khusus untuk batik Kudus, corak warna khasnya yang biru muda juga patut ditelusur imengingat pada awal-awal kreasinya Osterom dan Franquemont menyukai biru keraton yang dibuat lebih muda di samping warna yoga,”ungkapnya.
Menurutnya, apabila ternyata tak ada batik Semarangan, maka bisa membuat batik berpola baru atau kontemporer. Ia menilai, fenomena ini bukan hal baru, sebab dalam sejarah panjang batik, para pembatik selalu bisa melakukan inovasi. Tentunya pola batik baru yang mengangkat khazanah kota, baik berupa sejarah, mitos atau folklor.  “Misalnya kisah Ki Ageng Pandanaran (seperti pernah dibuat Neni Asmarayani), atau pertempuran lima hari di Semarang (Yudha Semarangan oleh Batik Semarang 16 atau Tugu Muda Sri Retno ), atau mungkin kisah-kisah yang lain,”ungkapnya.

Pecinta Batik ini juga ingin mengajak masyarakat untuk bersatu dalam penyebutan istilah. Ia menganalogikan, kalau batik yang diproduksi di Lasem disebut Batik Lasem atau di Pekalongan dengan sebutan Batik Pekalongan, maka sangat mungkin bisa diterima bila batik yang diproduksi di Semarang disebut Batik Semarang.  “Di sini, faktor lokal perbatikan bisa diikuti pelabelannya. Maksudnya, batik yang diproduksi di Kota Semarang, sebut saja Batik Semarang. Syukur dalam waktu yang tak lama, kita sudah sama-sama mendapat simpulan mengenai seperti apakah yang disebut batik Semarangan,”jelasnya.
Menurutnya, terkait batik di Semarang jenis batik paling digemari sangat relatif. Ia menyebutkan, batik tulis digemari kalangan atas, sementara kalangan menengah, lebih banyak memakai batik cap dan sebagian kecil pakai batik tulis. Diakuinya, langkah pengembangan batik sebenarnya sudah sering dilakukan seperti pelatihan terus menerus oleh sanggar Batik Semarang 16.

“Pemkot Semarang juga beberapa kali datang, pelatihan membatik diberikan untuk semua kalangan, terutama ibu-ibu, termasuk kalangan mahasiswa dan pelajar. Pembentukan klaster batik juga sempat dilakukan, tapi saya tidak tahu kelanjutannya, yeng jelas itu ikhtiar pengembangan batik di Semarang,”ungkapnya.

Menurutnya, generasi muda jelas perlu mengenal batik. Namun demikian, jangan sampai membatasi kreativitas dan minat mereka dalam membatik. Mereka bisa menjadikan batik sebagai bagian dari kreasi mereka yang bersifat mileneal.

“Sudah banyak kok buktinya. Anak muda bikin fashion dengan unsur batik. Kalangan batik mendekati anak muda juga dengan bikin desain yang muda banget, bahkan sempat ada motif batik berlogo klub sepakbola yang digemari kalangan muda,”sebutnya.

Menurutnya, agar batik Semarang bisa dikenal membutuhkan upaya banyak pihak. Ia mengusulkan bisa juga membuat event batik di Semarang, atau ikut event di banyak tempat yang tentunya memamerkan batik Semarang.

“Pemkot juga perlu sungguh-sungguh mengembangkannya. Saya melihat Mbak Ita (Wakil Wali Kota Semarang,Red) termasuk sangat peduli terhadap batik, tapi saya tidak tahu kelanjutannya,”ujarnya. (den/mha/jks/aro)