TEMUAN BARU: Mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Teknologi (PKMT) Untidar berfoto bersama seusai mempresentasikan Mesin Pengering Padi Berbasis Elektrik Otomasi dengan Metode Momen Putar (Sipedi Goegempar) kepada kelompok Tani Dumpoh (ISTIMEWA).
TEMUAN BARU: Mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Teknologi (PKMT) Untidar berfoto bersama seusai mempresentasikan Mesin Pengering Padi Berbasis Elektrik Otomasi dengan Metode Momen Putar (Sipedi Goegempar) kepada kelompok Tani Dumpoh (ISTIMEWA).

Program Kreativitas Mahasiswa Teknologi (PKMT) Universitas Tidar (Untidar) Magelang berhasil menciptakan Mesin Pengering Padi Berbasis Elektrik Otomasi dengan Metode Momen Putar (Sipedi Geogempar). Mesin ini diklaim mampu mengeringkan padi setelah dipanen, juga bisa meningkatkan penghasilan para petani. Benarkah?

AGUS HADIANTO, Magelang

TIM PKMT Untidar beranggotakan 4 mahasiswa. Yakni: Suranto Heri Prasetyo, Agus Musafa, Rizal Martovani Vauzi, Miftahul Rhama Yudha. Semuanya mahasiswa Fakultas Teknik.

Mulanya, mereka prihatin pada nasib petani Kelompok Tani Dumpoh, Potrobangsan. Pascapanen, sebagian besar petani langsung menjual padi dalam kondisi basah. Hasilnya, harga jual padi anglok. Cuaca yang kurang menentu dan tenaga yang terbatas, memaksa para petani melepas hasil panen padi basah dengan kisaran harga Rp 4000/kg.

Kondisi yang demikian, menginspirasi empat mahasiswa Fakultas Teknik, Untidar, untuk menciptakan sebuah alat. Bentuknya, mesin pengering padi.

Ketua Tim PKMT, Suranto Heri Prasetyo, menjelaskan, mesin pengering temuannya, merupakan alat pengering padi berdimensi panjang 160 cm, lebar 80 cm dan tinggi 130 cm. Mesin ini memanfaatkan energi listrik dan kompor sebagai sumber pemanasan.

Heri mengatakan, mesin temuan timnya dilengkapi beberapa komponen yang dapat memberikan berbagai kemudahan pekerjaan. Antara lain, pengendalian suhu pengeringan secara otomatis melalui perangkat thermocontrol, juga pemerataan pengeringan secara kontinyu dan otomatis melalui blower. Serta, sistem mekanik serta drum silinder padi sebagai tempat pengeringan padi dengan kapasitas 100 kg.

“Pengeringan padi dengan alat ini mampu meningkatkan penghasilan para petani. Harga padi kering yang dihasilkan bisa dijual seharga Rp 8000/kg, meski ada pengurangan berat pada saat proses penggilingan, penghasilan para petani tetap meningkat 35 persen,” klaim Heri.

Masih menurut Heri, proses pengeringan metode konvensional biasanya butuh waktu 5 hari untuk 10 ton padi. Sedangkan menggunakan Sipedi Geogempar, padi 10 ton bisa dikeringkan dalam waktu sehari. Keunggulan lainnya, penggunaan motor listrik berdaya rendah, ukuran alat yang tidak terlalu besar, adanya gir pemutar, dan pengatur suhu.

“Pengeringan bisa dilakukan sewaktu-waktu. Hasil pengeringannya pun memiliki kualitas yang lebih baik. Kadar air terkontrol dengan baik, yaitu 14-15 persen, dengan warna kulit padi yang lebih cerah. Kondisi ini meminimalisasi adanya padi yang busuk saat penyimpanan setelah dikeringkan.”

Humas Untidar, Kusumawardani, menjelaskan, mesin pengering padi berbasis elektrik otomasi dengan metode momen putar, merupakan PKMT Untidar yang lolos dan didanai Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) 2017. (*/isk)