INOVATIF : Salah satu pegawai Dharmo The Boutique Roastery menunjukkan beragam buuk kopi mandeling hasil produksinya, Sabtu (30/9) kemarin (AFIATI TSALITSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
INOVATIF : Salah satu pegawai Dharmo The Boutique Roastery menunjukkan beragam buuk kopi mandeling hasil produksinya, Sabtu (30/9) kemarin (AFIATI TSALITSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEKILAS kedai kopi milik Widayat Basuki Dharmowiyono, 72, tak seperti kedai-kedai kopi pada umumnya. Bahkan, jika tidak mengetahui persis alamat yang dituju, bisa saja melewatkan begitu saja rumah kopi yang beralamat di Wotgandul Barat nomor 12 ini. Pasalnya, bangunan kedai tersebut termasuk salah satu Bbangunan Cagar Budaya (BCB) di Kota Semarang.

Meski begitu, aroma kopi sudah bisa tercium ketika sampai di depan pagar menuju rumah. Biji kopi robusta yang sedang di sangrai semakin menarik koran ini untuk mengetahui lebih dalam tentang sejarah Rumah Kopi Margoredjo.

Ternyata sebelum kemerdekaan RI dan sebelum perang dunia II, Kopi Margoredjo mencatat kejayaannya di masa silam. Diceritakan oleh Basuki, kini dia adalah generasi ketiga yang meneruskan bisnis kopi milik kakeknya. “Kakek saya mendirikan Kopi Margoredjo sekitar tahun 1916-an. Tapi dulu dia merantau ke Bandung. Baru sekitar tahun 1920-an, kembali dan mulai mengembangkan bisnisnya,” ungkapnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (30/9) kemarin.

Kini, bisnis kopi yang didirikan kakeknya, Tan Tiong Ie, sudah mengalami banyak perubahan. Dulu, Kopi Margoredjo menjual kopi bubuk cukup laku keras. Bahkan, sampai dilakukan ekspor ke Singapura dan Malaysia. “Pelanggannya ya orang Belanda itu, begitu perang dunia ke II sempat vakum,” bebernya.

Basuki mengaku, tidak tahu pasti pada tahun berapa bisnis kakeknya itu vakum. Ia hanya mengingat, perkiraannya adalah saat perang dunia kedua. Kemudian, beberapa tahun setelahnya, diteruskan kembali oleh ayahnya. “Waktu ayah saya, Tan Liang Tjay mulai lagi, ya enggak bisa se-jaya dulu. Karena saat itu, sudah mulai banyak yang bisnis kopi,” ujarnya.

Basuki menuturkan, sekitar tahun 1975 saat memegang bisnis kopi tersebut, ia melakukan perubahan dengan mengikuti pangsa pasar yang berkembang. Ia melihat situasi dimana kopi yang dulunya hanya digunakan sebagai pelengkap ketika kumpul, sekedar menjadi minuman, kini telah berubah menjadi lifestyle.

“Selain itu, harum dan rasa kopi bubuk itu hanya bertahan sebentar, 8 jam lah. Kemudian saya tahu, kalau biji kopi bisa lebih lama. Maka saya putuskan untuk mengubah penjualan dari kopi bubuk ke biji kopi sangrai,” terang pria yang akan berulang tahun 8 Oktober mendatang ini.

Tak hanya mengganti produk yang dijual, Basuki pun mengganti nama Margoredjo menjadi Dharma The Boutique Roastery. Mengapa Boutique? Basuki mengungkapkan itu sebagai tanda bahwa yang dijualnya adalah sesuatu yang premium dan unik (sesuai dengan selera pelanggan). “Karena sangrainya, setiap ada pesanan saja,” imbuhnya.

Hampir semua jenis kopi nusantara tersedia. Mulai dari jenis Robusta, Arabika, hingga kopi Luwak. Kopi Arabika dan Robusta ada yang dari hasil panen petani Temanggung, Boja, Bengkulu, hingga Aceh. Sedangkan jenis luwak ada dari Nusa Tenggara Timur dan Bandung.

Harga yang dibanderol tergolong murah, yakni mulai dari Rp 46 ribu hingga Rp 800 ribu. Konsumen yang datang, kebanyakan para pemilik kafe kopi di daerah Semarang dan sekitarnya. Tak jarang juga pecinta kopi yang sengaja datang untuk konsumsi sendiri. “Omzetnya nggak besar, nggak sampai Rp 10 juta. Karena ya itu tadi, tujuannya untuk melestarikan saja. Pun tidak setiap hari produksi. Kalau ada yang pesan, baru kami buat. Berapapun pesanannya,” tegasnya.

Bangunan Berusia 100 Tahun Tetap Kokoh

Selain bangunan tempat produksi kopi, di sebelahnya terdapat rumah kuno bertingkat yang terawat dan bersih. Rumah tersebut yang dikenal sebagai Rumah Kopi. Telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang sebagai Bangunan Cagar Budaya pada tahun 2005.

Rumah tersebut telah berdiri sejak tahun 1850, kakek Basuki, Tan Tiong Ie, ayahnya Tan Liang Tjay, hingga ia sendiri besar dan lahir di rumah tersebut. Ia mengaku, tidak ada yang berubah dari rumah itu kecuali pemugaran seperti cat ulang dan perbaikan di beberapa tempat saja.

“Lantai, tembok, pintu sampai jendela masih asli. Sebab, ini rumah keluarga. Jadi waktu dulu, kakek saya ke Bandung tahun 1916, tapi rumah ini ditinggali saudara untuk merawat,” bebernya.

Ia mengatakan luas tanah rumah kopi tersebut sekitar 2000 meter. Namun hanya bangunan rumah yang ada di tengah-tengah saja yang menjadi cagar budaya. Di dalamnya, sejumlah perabot tua seperti radio, piano dan furniture masih menyesuaikan bangunan tua nan megah itu.

“Sekarang masih ditinggali, saya dan anak serta cucu. Cuma mereka tidak lahir disini. Zaman mereka lahiran ya di tempat bidan atau rumah sakit. Saya lahir sampai gede, ya di rumah ini,” selorohnya.

Kendati begitu, ia menyayangkan Pemkot Semarang kurang memperhatikan bangunan cagar budaya yang ditinggalinya. Salah satu yang dikeluhkannya adalah pajak bangunan yang terus naik setiap tahunnya. Bahkan pajak rumah kopi tersebut saat ini mencapai angka Rp 33 juta.

“Saya harap Pemkot Semarang bisa lebih memperhatikan orang-orang yang mau merawat BCB, paling tidak diistimewakan sedikit dengan biaya bangunannya dikurangi. Kalau tanah bayar sama dengan yang lain gak masalah. Toh ini sejarahnya juga di Semarang,” tandasnya. (tsa/ida)