Tingkatkan Nasionalisme Siswa, Nobar Film G30S

293

SEMARANG– Sebanyak 500 siswa dan guru SMP IT dan SMA IT Bina Amal menggelar nonton bareng (nobar) film G30S PKI, Jumat (29/9). Kegiatan digelar di  Masjid Al-Amilin kampus SMP IT-SM AIT Bina Amal, Jalan Raya Gunungpati, Kelurahan Plalangan, Kecamatan Gunungpati. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama antara Sekolah Bina Amal dengan Koramil Gunungpati.

Kepala Sekolah SMA IT Bina Amal, Setyawan, mengatakan tidak sekadar nobar, namun kegiatan juga diisi dengan pemaparan wawasan kebangsaan dan diskusi terkait peran pelajar sebagai anak bangsa dalam mencintai dan menjaga NKRI melalui sejarah bangsa.

“Proklamator Republik Indonesia Ir Soekarno dalam salah satu pesannya mengatakan bahwa jangan melupakan Jas Merah yang artinya jangan lupakan sejarah,” katanya.

Film sejarah ini diputar dan diingat karena sejarah merupakan jati diri bangsa, sehingga siapa pun yang lahir, hidup dan mencari penghidupan di negara ini harus tahu sejarah, termasuk sejarah kelam pembrontakan G30S/PKI dan bahaya latennya. “Sehingga dengan memahami sejarah bangsa ini maka akan tumbuh rasa cinta dan pembelaan  terhadap NKRI,” ujarnya.

Pemahaman tentang film ini, katanya, bukan hanya TNI tetapi seluruh elemen bangsa harus paham dan mengingat sejarah. Apabila anak bangsa lupa dengan sejarah bangsa ini maka akan kehilangan jati diri bangsa. “Setelah hilang jati diri bangsa, maka orang-orang di negeri ini mudah di pecah belah dan di adu domba oleh berbagai pihak yang berkepentingan baik dari dalam negeri atau luar negeri,” imbuhnya

Pemutaran film ini pada Intinya bagaimana agar generasi muda bisa memahami sejarah bangsa serta bisa memposisikan diri sebagai generasi yang cinta tanah air, dan mengambil peran dalam menjaga persatuan antar umat beragama, saling menghormati dan menjaga NKRI. “Melalui film ini tentunya peran generasi muda sangat penting agar tidak mudah terprofokasi oleh pihak asing,” tambahnya.

Salah seorang siswa M Akhyarus Solih mengatakan selama menonton film G30S/ PKI jadi  tahu bahwa pernah terjadi pemberontakan di Indonesia. Tidak hanya menculik Jendral Bangsa ini tetapi juga membunuh para ulama-ulama karena PKI anti Tuhan, paham ateis yang tidak boleh hidup di Indonesia yang berasas Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Sehingga harapannya agar ditahun mendatang agar tidak terjadi lagi, karena hal itu sangat menyengsarakan rakyat,” katanya. (hid/zal)