33 C
Semarang
Selasa, 7 Juli 2020

Sun Life Bidik 43 Juta Pekerja Muda

Luncurkan Produk Proteksi Penyakit Kritis

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

SEMARANG- Perusahaan asuransi jiwa PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) membidik pekerja muda di Indonesia untuk pemasaran produk proteksi penyakit kritis terbaru mereka, Asuransi Sun Critical Medicare. Hal itu karena saat ini terjadi pergeseran di mana penyakit kritis sudah menyerang banyak generasi muda Indonesia.“Berdasarkan survei kami tahun 2015 dan 2016, masih banyak masyarakat Indonesia yang menjalankan gaya hidup tidak sehat seperti kurang tidur, pola makan tidak teratur, serta jarang berolah raga. Gaya hidup tidak sehat dapat meningkatkan risiko penyakit kritis, bahkan kini fenomena penyakit kritis tidak lagi identik dengan usia lanjut,” tutur Chief Marketing Officer Sun Life Financial Indonesia Shierly Ge saat peluncuran produk Asuransi Sun Critical Medicare, Kamis (28/9).

Pada peluncuran itu, hadir Chief Agency Officer Sun Life Financial Indonesia, Wirasto Koesdiantoro, serta Budhi Setianto dari Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI Pusat Jantung Nasional Harapan Kita yang juga Ketua I Yayasan Jantung Indonesia.

Shierly memaparkan, saat ini 39,1 persen dari total penduduk Indonesia berisiko terkena penyakit jantung yang berusia 15-45 tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sampai Februari 2017 lalu, kata dia, jumlah tenaga kerja dengan rentang usia 20 sampai 34 tahun mencapai 43 juta jiwa. “Merekalah yang akan menjadi target pemasaran produk baru yang akan dipasarkan melalui jalur distribusi keagenan ini,” ujar Shierly kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan, saat seseorang terserang penyakit kritis, biaya perawatan medisnya sangat besar. Faktanya, 20 persen masyarakat menengah ke atas jatuh miskin akibat penyakit kritis. “Makanya sebaiknya mentransfer risiko tersebut ke perusahaan asuransi,” kata dia.

Namun, lanjut Shierly, masih ada persepsi di masyarakat bahwa premi asuransi penyakit kritis mahal. Padahal, produk terbaru Sun Life ini sangat terjangkau, hanya mulai Rp 3 ribu per hari, atau sepersepuluh dari harga kopi di kafe. “Ini produk harga kaki lima, tetapi servisnya bintang lima,” papar Shierly.

Ada tiga jenis premi yang bisa dipilih nasabah dengan perlindungan hingga 100 tahun. Seperti untuk nasabah usia 30 tahun, ia bisa memilih Plan A dengan premi Rp 1,2 juta/tahun dengan pertanggungan Rp 500 juta/tahun per penyakit. Lalu Plan B sebesar Rp 2,16 juta/tahun dengan pertanggungan Rp 750 juta/tahun, dan Plan C sebesar Rp 2,29 juta/tahun dengan pertanggungan Rp 1 miliar/tahun per penyakit.

Dijelaskan, pihaknya mengcover mulai dari pemeriksaan, rawat inap, rawat jalan, pemulihan, dan pemantauan. Semuanya dicover sesuai dengan tagihan untuk empat penyakit kritis seperti jantung, stroke, kanker, dan gagal ginjal.

Dia mengatakan, Sun Life berkomitmen memberikan perlindungan bagi generasi muda mulai dari pekerja pemula, pelaku start up, dan wirausaha muda yang jumlahnya makin bertambah di Tanah Air.

Budhi Setianto dari Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI Pusat Jantung Nasional Harapan Kita mengakui, saat ini banyak generasi muda sudah terserang penyakit kritis. Hal itu karena adanya perubahan gaya hidup. Mereka malas berolahraga, masih merokok, dan tidak menjaga keseimbangan konsumsi makanan, sehingga tidak mengontrol kadar gula darah serta kolesterol. “Padahal, perlu keseimbangan jiwa dan raga,” katanya.

Ia menyambut baik apa yang dihadirkan Sun Life, karena bisa menjadi benefit tambahan bagi pasien yang saat ini kebanyakan sudah memiliki BPJS. “Apalagi, setelah sembuh, ada dana tunai yang bisa dipakai untuk liburan keluar negeri,” ujar Budhi.

Chief Agency Officer Sun Life Financial Indonesia, Wirasto Koesdiantoro, mengatakan, tidak seperti produk penyakit kritis lainnya, Sun Critical Medicare memberikan perlindungan sejak tahap pemeriksaan, rawat inap, rawat jalan, pemantauan hingga tahap pemulihan. Secara komprehensif, pemegang polis dapat mengajukan klaim hingga lebih dari Rp 4 miliar per tahun, dengan perlindungan seumur hidup hingga usia 100 tahun. Produk ini dapat digunakan untuk perawatan di tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura dengan standar perawatan kamar 1 tempat tidur.

“Produk ini juga memberikan Celebration Benefit pada saat tertanggung menyelesaikan perawatan penyakitnya. Celebration Benefit adalah santunan istimewa yang diberikan Sun Life untuk nasabah setelah menjalani perawatan,” jelasnya. (bis/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Sambung Jembatan Kaliputih Dengan DAK Rp 1,9 M

KENDAL—Jembatan Kaliputih di Desa Kaliputih, Kecamatan Singorojo,  yang ambrol mulai diperbaiki. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kendal menggelontorkan anggaran sebesar Rp 1,9...

Penjualan Fashion Capai Puncak

SEMARANG - Memsuki pekan terakhir jelang Idul Fitri, tren penjualan fashion terus mengalami puncak. Hal ini dikarenakan meningkatnya daya beli masyarakat, perilaku konsumtif, hingga...

Sahabat Siap Bertarung di WBC

SEMARANG – Setelah harap-harap cemas menanti kejelasan kompetisi, tim basket putri Sahabat Wisma Sehati Semarang akhirnya bakal turun di ajang Women Basketball Challenge (WBC)...

Melongok Kampung Jawi Kelurahan Sukorejo, Gunungpati

Bahasa Jawa Krama Inggil kian tergerus zaman. Tak banyak penduduk asli Jawa menguasai bahasa paling halus ini. Kampung Jawi, Kelurahan Sukorejo, Gunungpati, relatif konsisten...

Pemkot Terapkan Program Sapi Wajib Bunting

SEMARANG - Mengurangi ketergantungan impor daging sapi, Pemerintah Kota Semarang menerapkam program sapi wajib bunting. Program ini melibatkan Kelompok Tani Pangudi Mulyo di Kelurahan Nongkosawit Gunungpati,...

Video Lawas Dijadikan Bahan Hoax untuk Menghasut

JawaPos.com - Pada Jumat malam (14/9), di berbagai platform media sosial, bertebaran informasi mengenai demo mahasiswa. Katanya, demo tersebut meminta Joko Widodo lengser. Yang...