Sun Life Bidik 43 Juta Pekerja Muda

Luncurkan Produk Proteksi Penyakit Kritis

389
PROTEKSI PENYAKIT KRITIS: Chief Marketing Officer PT Sun Life Financial Indonesia Shierly Ge (tengah) bersama Chief Agency Officer Sun Life Financial Indonesia Wirasto Koesdiantoro (kiri), Ketua I Yayasan Jantung Indonesia dan Dokter Spesialis Jantung RS Harapan Kita, Budhi Setianto, saat meluncurkan produk Asuransi Sun Critical Medicare di Jakarta, Kamis (28/9) (ISTIMEWA).
PROTEKSI PENYAKIT KRITIS: Chief Marketing Officer PT Sun Life Financial Indonesia Shierly Ge (tengah) bersama Chief Agency Officer Sun Life Financial Indonesia Wirasto Koesdiantoro (kiri), Ketua I Yayasan Jantung Indonesia dan Dokter Spesialis Jantung RS Harapan Kita, Budhi Setianto, saat meluncurkan produk Asuransi Sun Critical Medicare di Jakarta, Kamis (28/9) (ISTIMEWA).

SEMARANG- Perusahaan asuransi jiwa PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) membidik pekerja muda di Indonesia untuk pemasaran produk proteksi penyakit kritis terbaru mereka, Asuransi Sun Critical Medicare. Hal itu karena saat ini terjadi pergeseran di mana penyakit kritis sudah menyerang banyak generasi muda Indonesia.“Berdasarkan survei kami tahun 2015 dan 2016, masih banyak masyarakat Indonesia yang menjalankan gaya hidup tidak sehat seperti kurang tidur, pola makan tidak teratur, serta jarang berolah raga. Gaya hidup tidak sehat dapat meningkatkan risiko penyakit kritis, bahkan kini fenomena penyakit kritis tidak lagi identik dengan usia lanjut,” tutur Chief Marketing Officer Sun Life Financial Indonesia Shierly Ge saat peluncuran produk Asuransi Sun Critical Medicare, Kamis (28/9).

Pada peluncuran itu, hadir Chief Agency Officer Sun Life Financial Indonesia, Wirasto Koesdiantoro, serta Budhi Setianto dari Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI Pusat Jantung Nasional Harapan Kita yang juga Ketua I Yayasan Jantung Indonesia.

Shierly memaparkan, saat ini 39,1 persen dari total penduduk Indonesia berisiko terkena penyakit jantung yang berusia 15-45 tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sampai Februari 2017 lalu, kata dia, jumlah tenaga kerja dengan rentang usia 20 sampai 34 tahun mencapai 43 juta jiwa. “Merekalah yang akan menjadi target pemasaran produk baru yang akan dipasarkan melalui jalur distribusi keagenan ini,” ujar Shierly kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan, saat seseorang terserang penyakit kritis, biaya perawatan medisnya sangat besar. Faktanya, 20 persen masyarakat menengah ke atas jatuh miskin akibat penyakit kritis. “Makanya sebaiknya mentransfer risiko tersebut ke perusahaan asuransi,” kata dia.

Namun, lanjut Shierly, masih ada persepsi di masyarakat bahwa premi asuransi penyakit kritis mahal. Padahal, produk terbaru Sun Life ini sangat terjangkau, hanya mulai Rp 3 ribu per hari, atau sepersepuluh dari harga kopi di kafe. “Ini produk harga kaki lima, tetapi servisnya bintang lima,” papar Shierly.

Ada tiga jenis premi yang bisa dipilih nasabah dengan perlindungan hingga 100 tahun. Seperti untuk nasabah usia 30 tahun, ia bisa memilih Plan A dengan premi Rp 1,2 juta/tahun dengan pertanggungan Rp 500 juta/tahun per penyakit. Lalu Plan B sebesar Rp 2,16 juta/tahun dengan pertanggungan Rp 750 juta/tahun, dan Plan C sebesar Rp 2,29 juta/tahun dengan pertanggungan Rp 1 miliar/tahun per penyakit.

Dijelaskan, pihaknya mengcover mulai dari pemeriksaan, rawat inap, rawat jalan, pemulihan, dan pemantauan. Semuanya dicover sesuai dengan tagihan untuk empat penyakit kritis seperti jantung, stroke, kanker, dan gagal ginjal.

Dia mengatakan, Sun Life berkomitmen memberikan perlindungan bagi generasi muda mulai dari pekerja pemula, pelaku start up, dan wirausaha muda yang jumlahnya makin bertambah di Tanah Air.

Budhi Setianto dari Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI Pusat Jantung Nasional Harapan Kita mengakui, saat ini banyak generasi muda sudah terserang penyakit kritis. Hal itu karena adanya perubahan gaya hidup. Mereka malas berolahraga, masih merokok, dan tidak menjaga keseimbangan konsumsi makanan, sehingga tidak mengontrol kadar gula darah serta kolesterol. “Padahal, perlu keseimbangan jiwa dan raga,” katanya.

Ia menyambut baik apa yang dihadirkan Sun Life, karena bisa menjadi benefit tambahan bagi pasien yang saat ini kebanyakan sudah memiliki BPJS. “Apalagi, setelah sembuh, ada dana tunai yang bisa dipakai untuk liburan keluar negeri,” ujar Budhi.

Chief Agency Officer Sun Life Financial Indonesia, Wirasto Koesdiantoro, mengatakan, tidak seperti produk penyakit kritis lainnya, Sun Critical Medicare memberikan perlindungan sejak tahap pemeriksaan, rawat inap, rawat jalan, pemantauan hingga tahap pemulihan. Secara komprehensif, pemegang polis dapat mengajukan klaim hingga lebih dari Rp 4 miliar per tahun, dengan perlindungan seumur hidup hingga usia 100 tahun. Produk ini dapat digunakan untuk perawatan di tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura dengan standar perawatan kamar 1 tempat tidur.

“Produk ini juga memberikan Celebration Benefit pada saat tertanggung menyelesaikan perawatan penyakitnya. Celebration Benefit adalah santunan istimewa yang diberikan Sun Life untuk nasabah setelah menjalani perawatan,” jelasnya. (bis/aro)