NARASUMBER: Asisten Administrasi Setda Wonosobo Samsul Maarif menyampaikan arahan kepada para peserta rakor catatan sipil (Ahmad zainudin/jawa pos radar kedu).
NARASUMBER: Asisten Administrasi Setda Wonosobo Samsul Maarif menyampaikan arahan kepada para peserta rakor catatan sipil (Ahmad zainudin/jawa pos radar kedu).

WONOSOBO—Kepemilikan akta kelahiran bagi anak usia 0-18 tahun di Kabupaten Wonosobo terbilang rendah. Dinas Admindukcapil setempat mencatat baru 68 persen dari 257.240 anak yang sudah memiliki akta kelahiran. Dibandingkan dengan kota/kabupaten lain di Jateng, masih terbilang rendah. “Di Kabupaten lain sudah ada yang mencapai 90 persen lebih cakupan akta kelahiran, dan rata-rata sudah mencapai di atas 70 persen,” jelas Sekretaris Dinas Admindukcapil, Winarningsih.

Adapun target nasionalnya mencapai 85 persen. Ia mendorong perangkat desa agar bisa memobilisasi masyarakatnya untuk memanfaatkan layanan Adminduk keliling. “Kami juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah rumah sakit maupun klinik, agar setiap kelahiran bayi sudah langsung diurus aktanya.”

Asisten Administrasi Setda, Samsul Maarif, mewakili bupati mengungkap data jumlah penduduk Wonosobo yang saat ini masih belum sepenuhnya valid. “Kalau merujuk pada data per 31 Agustus 2017, sesuai yang diakui Kemendagri, jumlah penduduk Wonosobo 853.273 jiwa.” Namun, data tersebut berselisih dengan yang dimiliki Dinas Dukcapil Kabupaten, yang mencatat jumlah penduduk Wonosobo adalah 948.930 jiwa.

Selisih atau perbedaan tersebut, karena masih adanya data ganda. Artinya, penduduk Wonosobo, selain terdaftar sebagai penduduk di Kabupaten Wonosobo, juga terdaftar sebagai penduduk di daerah lain.” (cr2/isk)