Oleh: Sri Kustanti SPd
Oleh: Sri Kustanti SPd

APAKAH bahasa negara kita sudah tidak bermartabat ketika ruang publik kita sudah dipenuhi informasi dan nama berbahasa asing? Apakah bahasa negara tidak bermartabat ketika penuturnya sudah tidak peduli pada kaidah bahasa (tidak bersikap positif?  Kita sebagai warga negara Indonesia-lah yang seharusnya menjunjung bahasa persatuan kita, yakni bahasa Indonesia.

Namun sadarkah kita, bila di sekeliling kita sudah banyak pelanggaran yang terjadi? Penulisan-penulisan yang menggunakan bahasa asing lebih mendominasi daripada bahasa kita sendiri. Padahal, bahasa adalah cermin negara. Bahasa merupakan cara berpikir suatu bangsa. Bagaimana jadinya bila kita tidak bisa mencintai bahasa kita sendiri?

Banyak sudah yang dapat dijadikan contoh pembelajaran. Orang tua lebih senang memberikan tambahan pelajaran bahasa asing untuk anaknya ketimbang mengenalkan dan mencintai bahasa sendiri. Hanya alasan yang mungkin klise, “gengsi”, “tidak keren”, “ketinggalan zaman”. Hal-hal tersebut yang harus kita hilangkan.

Dari Keluarga

Kesadaran untuk mencintai bahasa sendiri bisa ditumbuhkan mulai dari keluarga, karena keluarga merupakan tempat pertama kali anak mengenal bahasa. Termasuk pengenalan bahasa ibu lebih utama dan pertama dikenalkan kepada anaknya. Selanjutnya itu anak mengenal dari lingkungannya. Mulai dari teman bermain, teman di sekolahnya, maupun dari lingkungan.

Apabila keluarga mengenalkan bahasa dengan baik pada anak, maka dalam diri anak akan tumbuh rasa cinta dan menghargai bahasanya. Tetapi sebaliknya, apabila dari keluarga tidak mengenalkan bahasa dengan baik, maka dalam diri anak akan timbul rasa sungkan, dan tak acuh dengan bahasanya. Anak akan cenderung lebih terobsesi pada bahasa-bahasa asing yang menurut mereka lebih “keren” dan “modern”.

Bentuk ujaran dan tulisan  bahasa di luar ruang yang keliru, misalnya, restaurant, swimming pool, reception, dan sebagainya.Tulisan- tulisan tersebut merupakan kekeliruan dari sekian banyak kesalahan penggunaan bahasa pada media luar ruang. Banyak sekali penulisan bahasa yang belum tepat pada media luar ruang, seperti pada penulisan nama hotel, restoran, toko, penunjuk tempat atau arah, instansi pemerintahan, dan sebagainya. Mungkin si penulis atau si pembuat tulisan bermaksud modern atau tidak ketinggalan zaman, akan tetapi tidak mengindahkan peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia. Padahal bila ditulis dengan kata penunjuk menggunakan bahasa asing yang lebih ditonjolkan, belum tentu si pembaca atau pengguna memahami kata tersebut.Apalagi bila yang pembaca petunjuk itu dari daerah yang hanya mengenal bahasa ibu saja, tentu akan sangat akan sangat menyulitkan.

Penulisan bahasa Indonesia yang benar pada media luar ruang harus lebih dominan, apabila pada media luar ruang tersebut akan menggunakan bahasa asing sebagai bahasa penjelas lainnya. Apabila akan ditulis dengan dua bahasa, maka harus ditulis bahasa Indonesia terlebih dahulu, baru di bawahnya dituliskan bahasa asing. Seperti halnya dengan kata “waterpark”, ini bisa diganti dengan “Taman Tirta” yang lebih dipahami oleh masyarakat.

Kata “push” pada pegangan pintu, bisa diganti dengan kata “dorong”. Kata “sale” pada produk yang dijual pada toko atau toserba untuk menunjukkan produk tersebut dijual murah bisa diganti dengan kata “obral”. Penunjuk tempat untuk sisi bangunan universitas pada ruang rektorat “wing rektorat” menjadi “sayap rektorat.” Seperti penunjuk tempat ini menggunakan bahasa asing “International Colaboration Office” tanpa terjemahannya pada bahasa Indonesia, yang seharusnya lebih dahulu ditulis “Kantor Kerja Sama Internasional”, di bawahnya baru ditulis bahasa asing.

Pada papan nama untuk menunjukkan keahlian pekerjaan seperti  “Neurologist”, sebaiknya ditulis dengan bahasa Indonesia “Dokter Spesialis Syaraf”. “Surgical Room” menunjukan untuk ruangan tindakan pasien sebaiknya ditulis  “Ruang Tindakan”. Untuk penulisan nama hotel atau tempat menginap, misalnya “Plaza Hotel”, ditulis sesuai kaidah bahasa Indonesia menjadi  “Hotel Plaza”. Penulisan nama swalayan atau supermarket, misalnya seperti “Cibubur Junction”, penulisan yang tepat sesuai kaidah menjadi “Simpang Cibubur”, “Pacific Mall” menjadi “Mal Pasifik”, dan masih banyak lagi contoh di sekitar kita yang masih menggunakan istilah asing pada media luar ruang.

Bagaimana dengan penulisan pengumuman pada reklame, kain rentang, dan ucapan selamat hari jadi? Hal ini juga harus diperhatikan pada pemakaian bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah. Misalnya, pengumuman yang ditulis pada kain rentang yang berbunyi “Dibuka Pendaftaran TNI AU Tamtama Prajurit Karir …”. Penulisan kalimat yang sesuai dengan kaidah yakni menjadi “Dibuka Pendaftaran Tamtama Prajurit Karir TNI AU …”. Hal ini sama penulisannya pada reklame dan ucapan hari jadi. Harus diperhatikan struktur kaidahnya, jangan sampai menimbulkan persepsi yang berbeda.

Dengan banyaknya penggunaan ejaan bahasa yang kurang sesuai di luar ruang, menjadi salah satu musuh besar pembinaan bahasa yang baik dan benar. Peran pendidikan saat ini menjadi penting untuk membenahi hal tersebut. Pada tataran praktis penggunaan bahasa, kita sebagai warga negara Indonesia sudah sepatutnya untuk bangga pada bahasa kita, bahasa Indonesia. Karena bahasa merupakan cermin jiwa bangsa. Maka marilah kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Baik digunakan sebagai bahasa dalam pergaulan (komunikasi), juga bila digunakan di  media luar ruang. Hendaknya hal ini juga didukung oleh banyak pihak yang terkait.  Sehingga bahasa Indonesia akan lestari dan bermartabat. Semoga. (*/aro)