Coba Dekatkan Seni dengan Masyarakat Awam

Mengunjungi Ruang Seni “Uwit Arts Space” Salatiga

392
MEMBATIK: Kegiatan belajar membatik dengan canting yang digelar di Uwit Arts Space Salatiga (DOKUMENTASI Uwit Arts Space).
MEMBATIK: Kegiatan belajar membatik dengan canting yang digelar di Uwit Arts Space Salatiga (DOKUMENTASI Uwit Arts Space).

Raprika Bangkit adalah alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja. Pegiat seni ini mengelola Uwit Arts Space  yang dulunya Galeri Kandang namun sempat vakum. Di tempat ini, ia membawa seni lebih dekat dengan masyarakat awam. Seperti apa?

NATHAZA AYUDYA, Salatiga

UWIT Arts Space  berlokasi di Jalan Suropati I No 565B Togaten, Salatiga. Galeri seni ini berada di perkampungan padat penduduk.

Menurut Raprika Bangkit, nama Uwit berasal dari kata uwit  atau pepohonan. Sebab, banyak pepohonan di kampung tersebut. Sedangkan arts space artinya ruang berseni.  Bangkit tidak sendirian dalam mengelola Uwit Arts Space. Ia dibantu teman-temannya yang berjumlah enam orang. Di antaranya, Novia Lestari dan Bram Kusuma.

Tujuan didirikannya Uwit Arts Space adalah sebagai tempat atau ruang untuk berkegiatan seni para seniman dan mengenalkan tradisi “menyeni” kepada masyarakat.

Bangkit menceritakan,  dulunya ia adalah salah satu anggota komunitas seni bernama Kandang. Komunitas tersebut bergerak di bidang seni lukis. Lukisannya merupakan kritik-kritik tentang aspek kehidupan manusia.

Pada 2011, merupakan masa transisi Bangkit, karena kehilangan sosok seorang adik, yakni Raprika Angga, yang saat itu juga seorang pegiat seni lukis Kandang. Begitu sang adik meninggal dunia, Bangkit memutuskan kembali ke kota asalnya, Salatiga. Semangatnya sebagai pegiat seni membuatnya tidak berhenti menekuni dunia seni. Salah satunya memindahkan lukisan-lukisan karyanya dan karya adiknya dari Kota Jogja ke Salatiga pada 2012.

Rumahnya yang terbilang cukup luas dan memiliki beberapa ruang kosong, dijadikannya sebuah museum atau galeri kecil sebagai wadah lukisan-lukisan tersebut. Bangkit juga menggelar sebuah pameran seni lukis di kediamannya sekaligus membuka galeri yang dinamainya Kandang sebagai wujud mengenang almarhum Raprika Angga. Hal itu juga merupakan aksi pengenalan seni kepada masyarakat. Namun sangat disayangkan, setelah usai pameran, Galeri Kandang sempat mandek dan sepi, karena kurangnya koordinasi dari pengelola.

Sempat putus asa, Bangkit mengosongkan galeri tersebut. Sampai akhirnya selang beberapa tahun, tepatnya pada 2016 Bangkit mengaktifkan kembali galeri tersebut.

“Yang tadinya Galeri Kandang, berubah namanya menjadi Uwit Arts Space. Harapannya, galeri ini juga menghidupkan seni di ruang lingkup masyarakat melalui kegiatan-kegiatan berseninya,” kata Bangkit.

Kegiatan yang pernah berlangsung di ruang seni Uwit Arts Space, yakni berupa melukis dan pameran, workshop ramah lingkungan dan mendaur ulang plastik menjadi sesuatu yang unik. Juga peragaan seni lainnya, seperti teknik menindas menggunakan alat cap bermotif ataupun teknik membatik dengan canting dan celup, serta menanam bibit tanaman.  Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh sejumlah komunitas saja, tetapi juga anak-anak dan masyarakat sekitar.

“Saat kita mengadakan kegiatan seperti workshop maupun pameran karya, siapa pun boleh datang ke Uwit Arts Space ini untuk mengenal, ikut berkegiatan, dan menjalin hubungan baik antara masyarakat dengan kegiatan seni, jadi semuanya saling terkoneksi” tandas Bangkit.

Bangkit beserta pengelola Uwit lainnya berharap kegiatan-kegiatan berseni di Uwit Arts Space  dapat menjadi pengantar seni sebagai hal yang perlu diperhatikan masyarakat, dan tidak ada sekat lagi antara seni dengan masyarakat. (*/aro)