15 Desember, Tempat Relokasi Ditarget Selesai

237
SIDAK: Kepala Dinas Perdagangan Fajar Purwoto dan tim TP4D Kejari saat meninjau proyek tempat relokasi MAJT tahap II (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).
SIDAK: Kepala Dinas Perdagangan Fajar Purwoto dan tim TP4D Kejari saat meninjau proyek tempat relokasi MAJT tahap II (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Proyek tempat relokasi tahap II di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) terus dikebut. Dinas Perdagangan Kota Semarang mendesak kontraktor untuk menyelesaikan pembangunan hingga 15 Desember mendatang. Sebab, ditargetkan pada Januari 2018, semua pedagang Pasar Yaik Baru sudah direlokasi ke tempat tersebut.

“Sesuai kontrak, pembangunan relokasi tahap II ini harus selesai 21 Desember 2017. Tapi, kami meminta 15 Desember selesai. Setelah itu, Januari 2018, harus sudah ditempati para pedagang. Termasuk para pedagang Pasar Yaik Baru. Kawasan Johar benar-benar harua steril dari pedagang,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto,  didampingi Tim Pengawas, Pengawal, Pengamanan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejari Semarang, saat meninjau lokasi pembangunan di kawasan MAJT, Kamis (28/9).

Fajar berharap agar pedagang tidak perlu ada istilah ‘manuver’ terkait rencana relokasi ini.  Terutama, rencana pemindahan para pedagang Yaik Baru ke tempat relokasi MAJT tahap II ini.

“Tak perlu ada manuver-manuver. Saya melihat ada sejumlah orang yang berupaya menjembatani para pedagang untuk melakukan manuver, menentang pemerintah,” ujarnya.

Pada Januari 2018 mendatang, lanjut Fajar, semua pedagang di kawasan Johar harus pindah ke relokasi MAJT II. Sebab, kawasan Johar harus steril dari pedagang. “Kami sudah berupaya mendesak kontraktor untuk menyelesaikan pembangunan hingga pertengahan Desember 2017,” katanya.

Dia juga telah meminta agar tim dari TP4D Kejari Semarang melakukan pengawasan secara langsung. Hal itu untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Termasuk meluruskan pembangunan apa yang masih  kurang. “Misalnya, melihat pemadatan lahan, kedalaman lubang pondasi dan lain-lain untuk memperoleh kualitas hasil pembangunan dan lain-lain,” ujarnya.

Sejauh ini, lanjutnya, pembangunan tempat relokasi di atas lahan sekitar 2,5 hektare ini telah dipantau oleh penegak hukum TP4D Kejari Semarang minimal setiap setengah bulan. “Kami juga menyetujui para pedagang yang menghendaki ada jalan tembus dari Jalan Arteri Soekarno – Hatta ke Jalan Jolotundo atau sebaliknya untuk dibuka sebagai akses jalan,” katanya.

Anggota TP4D Kejari Semarang, Andhy Bolifar, mengatakan, pengawasan langsung terhadap pembangunan tempat relokasi MAJT tahap II ini dilakukan agar pembangunan menghasilkan kualitas. “Pemadatan lahan juga harus benar-benar padat, sehingga pada saat pembangunan tidak ada yang ambles. Lubang pondasi kedalamannya, ideal 1,5 meter dan dibuat lebih dari 1,5 meter justru lebih baik, sehingga untuk tiang-tiang lebih kokoh,” ujarnya.

Dikatakan, pengawasan dan pengawalan bertujuan untuk menegur secara langsung apabila ditemukan indikasi penyimpangan. “Mana yang tidak benar harus ditegur, sehingga tidak ada penyimpangan dari proses pembangunan tersebut,” ungkap dia.

Sekretaris Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar Kota Semarang, Surachman, mengatakan, pihaknya meminta agar para pedagang Johar yang akan direlokasi harus bersatu dan tidak menghambat pembangunan. “Sebab, 2020 mendatang diharapkan pembangunan Pasar Johar sudah selesai dan pedagang kembali menempati lagi di Pasar Johar Baru,” katanya.

Prioritas sesuai permintaan pedagang, lanjut dia, adalah fasilitas-fasilitas pendukung di tempat relokasi. “Salah satunya adalah pembangunan jalan tembus  Arteri Soekarno – Hatta melintas ke relokasi MAJT bisa tembus ke Jalan Jolotundo,” ujarnya. (amu/aro)