Punya Koin Zaman VOC hingga Uang ‘Kun Fayakun’

Teguh Gunawan, Kolektor Mata Uang Kuno di Semarang

724
LANGKA: Teguh Gunawan memperlihatkan uang kertas pecahan Rp 1.000 bergambar Presiden Soekarno yang fenomenal (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG).
LANGKA: Teguh Gunawan memperlihatkan uang kertas pecahan Rp 1.000 bergambar Presiden Soekarno yang fenomenal (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Teguh Gunawan merupakan satu dari sekian banyak numismatis atau kolektor mata uang di Semarang. Yang menarik, dia punya varian mata uang yang cukup lengkap. Dari koin zaman VOC, hingga uang kertas berlafal ‘Kun Fayakun’. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

TEGUH Gunawan mengaku sudah 20 tahun berburu mata uang kuno. Saat ini, ratusan uang dari koin hingga kertas telah disusun rapi di kotak uangnya. Mulai dari uang kuno Indonesia, Belanda (VOC), China, hingga Jepang. Jenis tahunnya pun bervariasi. Seperti benggol, sen, atau golden. Yang paling tua adalah uang zaman VOC keluaran 1790. “Uang itu sudah jarang. Saya mencarinya ke berbagai daerah,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dari seabrek koleksinya, Teguh menilai ada sejumlah uang kuno yang tergolong spesial. Bahkan punya nilai investasi tinggi. Salah satunya uang kertas Indonesia pecahan Rp 1.000 keluaran 1964. Uang itu berwarna merah dengan gambar Presiden Indonesia pertama, Soekarno. Di uang itu ada gambar lambang garuda. Bagian depan bergambar tujuh penari Srimpi. Yang patut diperhatikan adalah, uang kuno itu dibubuhi lafal Arab ‘Kun Fayakun’ di samping gambar Soekarno.

Uang kertas itu bisa laku mahal karena bisa bergerak ketika diletakkan di telapak tangan. Secara perlahan, uang akan menggulung sendiri tanpa disentuh. Menurut Teguh, ada banyak versi kenapa uang bisa menggulung sendiri.

Dijelaskan, ada yang menyebut, keistimewaan itu berasal dari lafal ‘Kun Fayakun’. Aksara itu dipercaya secara metafisik, telah diisi energi eterik. Yakni, energi yang bisa bereaksi ketika menangkap panas tubuh. Reaksi itu yang membuat uang kertas menjauhi panas tubuh melalui gerakan melengkung atau menggulung otomatis. “Makanya, ketika ditaruh di benda mati, uangnya diam saja (tidak menggulung),” bebernya.

Ada versi lain yang menyebut, keistimewaan uang bergambar Soekarno merupakan hukum fisika. Sebab, bahan uang ini mengandung material yang bersifat melawan panas. Baik panas tubuh, atau uap.

Dikatakan Teguh, uang pecahan Rp 1.000 ini memang edisi khusus. Bahkan belum sempat beredar. “Karena ada tragedi tahun 1965. Waktu itu kan negara masih kacau,” jelasnya.

Karena alasan itulah, tidak sedikit numesmatis yang ingin mengoleksinya. Banyak juga mereka yang memburunya karena alasan mistis. Percaya bahwa ada hal ghaib yang ada di uang kertas tersebut. Teguh pun meyakini, jika berada di tangan orang uang berniat jahat, uang ini bisa digunakan untuk hal-hal yang berbau supranatural. Seperti pesugihan, santet, dan ilmu hitam lain.

“Makanya banyak paranormal yang mencari uang jenis ini. Bahkan rela mengeluarkan uang jutaan rupiah demi mendapatkan selembar,” terangnya.

Teguh membeberkan, saat ini sangat sulit menemukan uang istimewa tersebut. Dia mengaku hanya punya empat lembar. Itu pun sudah sering ditawar orang dengan alasan untuk syukuran menempati rumah baru. “Saya dapatnya dari kolektor uang kuno 10 tahun lalu,” akunya.

Semua koleksi uang Teguh tidak dinikmati sendiri. Dia siap menerima mahar bagi numismatis lain yang ingin memiliki koleksinya. Biasanya, Teguh mangkal di Pasar Seni Paguyuban Pedagang Barang Seni (Pandangrani), dekat Taman Srigunting, kawasan Kota Lama Semarang. (*/aro)