SEMARANG – Mantan PNS Pemkot Semarang di Bagian Informasi Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (saat ini menjadi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu) Marthika Triana alias Rias kembali menjalani sidang atas kasus penipuan.

Kasus tersebut merupakan ketiga kalinya ia harus didudukkan di kursi pesakitan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Semarang. Kali ini Rias dituntut pidana penjara selama 2 tahun 6 bulan.

“Kami menuntut terdakwa Marthika Triana dengan pidana 2 tahun 6 bulan penjara. Kami menilai terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 378 KUHP Jo Pasal 64 ayat 1 KUHP,” kata JPU Kejari Semarang Farida usai sidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang dalam sidang yang dipimpin majelis hakim Suranto, kemarin.

Atas tuntutan itu, terdakwa telah mengajukan pembelaan (pledoi).

“Intinya terdakwa dalam pledoinya meminta keringanan hukuman ke majelis,”jelasnya.

Penipuan terjadi terhadap ratusan orang korban dengan kerugian total mencapai miliaran rupiah. Penipuan terjadi akhir 2014 silam di kantor BPPT Balai Kota Jalan Pemuda No. 148. Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum.

Pada perkara ketiganya ini, kasus bermula saat Sri Sulistyowati alias Lies bersama Dwi Wati Mufahadini bicara tentang tabungan koperasi di PDAM yang bunganya sekitar 20 persen. Rias lalu menawarkan dan mengajak keduanya menabung di tabungan BPR DPR RI. Dijanjikan dalam tempo satu bulan bunganya besar dan apabila menabung diatas Rp 100 juta, bisa mendapat bunga 60 persen.

Rias menjamin aman dan siap bertanggungjawab, dan tidak akan kabur. Percaya omongan pelaku, korban Sri menyerahkan uang bertahap, total Rp 740 juta. Namun saat korban akan mengambil uang tabungannya, tersangka Rias tak bisa memberikannya.

Ratusan orang menjadi korban penipuan Rias. Sebelumnya diungkapkan Sukma Anggraeni, seorang korban, PNS di salah satu instansi Pemkot Semarang masih banyak korban lain yang belum melapor ke kepolisian.

“Belum semua korban melapor. Masih banyak korban lainnya. Kasus kemarin (yang telah divonis) hanya dilaporkan 40 korban dengan kerugian sekitar Rp 1,259 miliar,” kata Sukma yang mengaku kehilangan uang Rp 307 juta atas kasus itu. (jks/zal)