Diminta Rambah Pasar Online

666
TERTARIK : Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo ketika melihat hasil produksi konveksi di Desa Rowosari, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
TERTARIK : Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo ketika melihat hasil produksi konveksi di Desa Rowosari, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

PEMALANG-Industri konveksi di Desa Rowosari, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang harus merambah pasar online. Dengan begitu, penjualan para perajin bisa lebih luas, tidak hanya mengandalkan pesanan dari distributor di berbagai daerah.

Masukan tersebut disampaikan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo ketika meninjau sentra industri konveksi setempat, Rabu (27/9) kemarin. Menurutnya, Rowosari punya potensi yang sangat hebat, memiliki 21 cluster konveksi. Tercatat ada 146 pengusaha dengan serapan tenaga kerja 1.092 orang. Namun, karena produsen tidak mengorganisir diri dan pola penjualan masih konvensional, hasil yang dicapai tidak maksimal. “Ini kan industri level desa, tapi barangnya sudah menyebar di seluruh Indonesia,” terangnya.

Ganjar menyampaikan bahwa para perajin bisa memanfaatkan era digital. Menggunakan sistem online sebagai kios untuk menjual produk. Tapi, harus memastikan produsen konveksi di Rowosari lebih melek teknologi sehingga rantai penjualannya lebih efektif dan efisien. “Produsen bisa membuat web, bergabung di toko online atau memanfaatkan Sadewamart yang dikelola Pemprov Jateng,” terangnya.

Orang nomor satu di Jateng ini juga meminta produsen lebih kreatif. Jika selama ini hanya membuat celana jins, perlu melakukan diversifikasi produk. “Misalnya membuat sarung, tas, atau barang lain berbahan jins,” harapnya.

Dikatakan Ganjar, untuk peningkatan produksi diperlukan peremajaan alat kerja dan sokongan modal. Untuk permodalan, lanjutnya, produsen bisa menjalin kerjasama dengan lembaga perbankan. “Bisa dengan Bank Jateng melalui program Mitra Jateng. Selain kredit berbunga lunak, program ini juga ramah untuk pengusaha,” jelasnya.

Dia yakin dengan tata kelola yang tepat serta pendampingan pemerintah, sentra industri konveksi Rowosari akan bangkit kembali. Menanggapi hal itu, pengusaha konveksi asal Rowosari, Haji Maskuri mengatakan bahwa pada tahun 2000 hingga 2003 mampu menjual hingga 500 potong celana jins per hari. Keuntungan besar diraupnya selain karena order yang banyak, juga kondisi ekonomi yang naik turun. “Kala itu banyak yang memilih jins lokal,” ungkapnya.

Saat ini, dia hanya mampu menjual maksimal 100 celana jins dengan harga jual berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu. Maskuri mengatakan jins merek Navala yang diproduksinya dijual hingga Jakarta, Surabaya, Solo, dan beberapa daerah di Kalimantan.

Selain menghadapi kendala internal, Maskuri mengatakan usaha konveksinya juga terkepung industri pabrikan. Tenaga kerja yang sudah terampil dan puluhan tahun mengabdi di tempatnya, akhirnya memilih keluar dan bekerja di pabrik. Saat ini, dia hanya memiliki 50 pekerja dari sebelumnya yang jumlahnya ratusan. “Harga kain yang tak menentu, persoalan tenaga kerja juga membuat kami pusing,” katanya. (han/ida)