33 C
Semarang
Senin, 6 Juli 2020

Diminta Rambah Pasar Online

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

PEMALANG-Industri konveksi di Desa Rowosari, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang harus merambah pasar online. Dengan begitu, penjualan para perajin bisa lebih luas, tidak hanya mengandalkan pesanan dari distributor di berbagai daerah.

Masukan tersebut disampaikan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo ketika meninjau sentra industri konveksi setempat, Rabu (27/9) kemarin. Menurutnya, Rowosari punya potensi yang sangat hebat, memiliki 21 cluster konveksi. Tercatat ada 146 pengusaha dengan serapan tenaga kerja 1.092 orang. Namun, karena produsen tidak mengorganisir diri dan pola penjualan masih konvensional, hasil yang dicapai tidak maksimal. “Ini kan industri level desa, tapi barangnya sudah menyebar di seluruh Indonesia,” terangnya.

Ganjar menyampaikan bahwa para perajin bisa memanfaatkan era digital. Menggunakan sistem online sebagai kios untuk menjual produk. Tapi, harus memastikan produsen konveksi di Rowosari lebih melek teknologi sehingga rantai penjualannya lebih efektif dan efisien. “Produsen bisa membuat web, bergabung di toko online atau memanfaatkan Sadewamart yang dikelola Pemprov Jateng,” terangnya.

Orang nomor satu di Jateng ini juga meminta produsen lebih kreatif. Jika selama ini hanya membuat celana jins, perlu melakukan diversifikasi produk. “Misalnya membuat sarung, tas, atau barang lain berbahan jins,” harapnya.

Dikatakan Ganjar, untuk peningkatan produksi diperlukan peremajaan alat kerja dan sokongan modal. Untuk permodalan, lanjutnya, produsen bisa menjalin kerjasama dengan lembaga perbankan. “Bisa dengan Bank Jateng melalui program Mitra Jateng. Selain kredit berbunga lunak, program ini juga ramah untuk pengusaha,” jelasnya.

Dia yakin dengan tata kelola yang tepat serta pendampingan pemerintah, sentra industri konveksi Rowosari akan bangkit kembali. Menanggapi hal itu, pengusaha konveksi asal Rowosari, Haji Maskuri mengatakan bahwa pada tahun 2000 hingga 2003 mampu menjual hingga 500 potong celana jins per hari. Keuntungan besar diraupnya selain karena order yang banyak, juga kondisi ekonomi yang naik turun. “Kala itu banyak yang memilih jins lokal,” ungkapnya.

Saat ini, dia hanya mampu menjual maksimal 100 celana jins dengan harga jual berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu. Maskuri mengatakan jins merek Navala yang diproduksinya dijual hingga Jakarta, Surabaya, Solo, dan beberapa daerah di Kalimantan.

Selain menghadapi kendala internal, Maskuri mengatakan usaha konveksinya juga terkepung industri pabrikan. Tenaga kerja yang sudah terampil dan puluhan tahun mengabdi di tempatnya, akhirnya memilih keluar dan bekerja di pabrik. Saat ini, dia hanya memiliki 50 pekerja dari sebelumnya yang jumlahnya ratusan. “Harga kain yang tak menentu, persoalan tenaga kerja juga membuat kami pusing,” katanya. (han/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Pengajian Akbar

Yayasan Sosial Sunan Pandanara Semarang menggelar "Pengajian Akbar Assyahadatain Haul Sunan Pandanaran'", Ahad (8/10) pukul 11.30 WIB  di Pendopo Makam Sunan Pandanaran Jl. Mugas...

Ajari Promo via Online, Juga Bantu Sosialisasi Hukum

Ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang masih melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di tengah-tengah masyarakat di wilayah kota dan Kabupaten Magelang. Berbagai program...

Angka Pernikahan Dini Meningkat

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Angka pernikahan dibawah umur atau kurang dari 16 tahun khusus perempuan di Kabupaten Demak  cukup tinggi. Yakni, mencapai 3.905 anak. Sedangkan, angka...

Kejutan di Perang Dagang

Oleh: Dahlan Iskan “Tunda lagi dulu. Ada perkembangan baru”. Itulah permintaan saya kepada mas Joko Intarto. Yang mengelola disway. Sering terjadi seperti itu. Tulisan sudah saya buat....

Apindo Bantah Tampung TKA Ilegal

”Kalau tenaga kerja asing, termasuk dari Tiongkok, cukup mahal. Belum lagi, perusahaan juga ikut mengurusi izin-izin agar mereka bisa bekerja di sini.” Frans Kongi,...

Dewan Curigai Ada Spekulan Kios Pasar

SEMARANG - DPRD Kota Semarang menilai revitalisasi pasar tradisional di Kota Semarang belum membuahkan hasil maksimal. Sejumlah pasar yang telah dibangun masih ditemui banyak...