Bonggol Jati Jadi Unggulan Blora

861
NYENI : Salah satu perajin bonggol jati, Firdaus, menunjukkan bonggol jati kepada Wakil Bupati Blora, Arif Rahman dan Kepala SKK Migas Jabanusa, Ali Masyhar (IDA NOR LAYLA/JAWA POS RADAR SEMARANG).
NYENI : Salah satu perajin bonggol jati, Firdaus, menunjukkan bonggol jati kepada Wakil Bupati Blora, Arif Rahman dan Kepala SKK Migas Jabanusa, Ali Masyhar (IDA NOR LAYLA/JAWA POS RADAR SEMARANG).

BLORA-Melimpahnya akar pohon jati (bonggol) dari 49 persen kawasan hutan dari luas wilayah 1.821,59 km2, Kabupaten Blora terkenal dengan kerajinan bonggol jati. Kini, sisa-sisa akar pohon jati tersebut menjadi ciri khas produk kesenian Kabupaten Blora.

Salah satu perajin bonggol jati, Firdaus, 47, asal Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora mengungkapkan bahwa ciri khas ukir Blora berbeda dengan Kabupaten lain seperti, Bali, Jepara maupun Bojonegoro. Ciri khas olahan bonggol jati dari Blora tidak meninggalkan bentuk asli bonggol. Bentuk ukirannya selalu dilihat dari tekstur akar jati yang akan diolah.

Firdaus pun menyulap bonggol yang berumur ratusan tahun menjadi sebuah ukiran bercerita, ekspresif dan bentuk abstrak hewan. Salah satu ukiran bercerita adalah ukiran Jaka Tarup. Ukiran seharga Rp 300 juta itu dipesan oleh mantan Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dari Firdaus, SBY sudah memesan ukiran dari bonggol jati sekitar 100 unit lebih. “Yang dijual merupakan ukiran yang dipadukan dengan bentuk asli motif bonggol (akar) jati,” ujar Firdaus kepada awak media peserta Lokakarya SKK Migas-KKKS Wilayah Jabanusa, di Blora beberapa waktu lalu.

Bisnis pengolahan limbah kayu jati ini mendapat dukungan sepenuhnya dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora. Sebagai bentuk dukungan tersebut, Pemkab membuat kebijakan yang melindungi para perajinnya. “Kayu sebagai bahan dasar kerajinan, berasal dari limbah akar jati yang ada di Blora,” kata pria yang mengaku pernah hidup di jalanan bertahun-tahun ini.

Bisnis pengolahan limbah kayu tersebut kini mengincar pembeli dari luar negeri, mulai Jerman, Inggris dan Amerika Serikat. Saat ini, Firdaus telah memiliki 20 gudang untuk menampung barang-barang hasil produksinya. Dari kerajinan tersebut, dia bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

Dari olahan tangannya, harga seni ukir itu mencapai Rp100 ribu hingga Rp1 miliar. Berbagai bentuk kerajinan yang dihasilkan, di antaranya, patung cukil, perabotan rumah tangga, juga rumah joglo. “Sebagian besar dari penghasilan ini digunakan untuk hak anak yatim,” pungkasnya. (ida)