Tembakau Tanpa Cukai Masih Marak

594

SEMARANG – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng terus melakukan pengawasan wajib cukai hasil tembakau di seluruh pasar yang tersebar di kabupaten/kota di Jateng. Hampir di semua tempat penjualan tembakau, selalu ditemukan ada pedagang yang menjual produk tanpa cukai. Seperti yang ditemukan petugas Disperindag Jateng ketika menggelar sidak di Pasar Grabag, Kabupaten Magelang.

Kepala Bidang Standarisasi Perlindungan Konsumen, Disperindag Jateng, Mukti Sarjono menjelaskan, produksi hasil tembakau merupakan bagian dari wajib cukai. Bahkan sesuai UU Nomor 39 tahun 2010 tentang Wajib Cukai, pedangang yang melanggar bisa terjerat hukuman pidana maksimal 5 tahun penjara. Meski begitu, saat ini pihaknya masih melakukan pembinaan.

“Karena yang berhak menindak adalah pihak penegak hukum. Kami hanya melakukan pengawasan saja,” ucapnya.

Diakui, tidak sedikit pedagang di sejumlah pasar di Jateng masih menjual rokok bodong atau tanpa cukai. Karena itu, setiap menggelar sidak dan menemukan ada penjual rokok bodong, pihaknya akan mengidentifikasi. Mana prosuden yang ngemplang cukai, siapa distributornya, dan lain sebagainya.

Sebelumnya di Kabupaten Magelang sendiri produk hasil tembakau seperti tembakau racik masih sangat diminati masyarakat. Bahkan tembakau lokal seperti Ngablak dengan harga antara Rp 10 ribu hingga Rp 12 ribu per 1 ons telah diburu konsumen.

Dijelaskan, dalam setiap sidak, Diseprindag Jateng selalu menggandeng Dinas Pasar daerah setempat. Tidak hanya penjual rokok bodong saja yang diincar, petugas juga menyisir semua penjual hasil tembakau. Mulai dari tembakau iris, tembakau siap linting, hingga kemasan rokok pabrikan. (amh/zal)