DIGIRING : Tujuh tersangka pelaku pembunuhan terhadap dukun Sugeng Raharjo saat akan menjalani rekontruksi, di Polres Kendal Selasa (26/9) kemarin (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG).
DIGIRING : Tujuh tersangka pelaku pembunuhan terhadap dukun Sugeng Raharjo saat akan menjalani rekontruksi, di Polres Kendal Selasa (26/9) kemarin (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG).

KENDAL—Seorang dukun meregangkan nyawa dengan cara dibantai oleh pasiennya sendiri, lantaran dinilai tidak bisa memenuhi janjinya untuk menyembuhkan penyakit. Pasien yang jengkel tersebut, mengajak suami dan temannya menghabisi sang dukun.

Dukun yang bernasib malang tersebut adalah Sugeng Raharjo, 35, warga Kelurahan Klidang Los, Kabupaten Batang. Ia dihabisi oleh pasien perempuannya Dewi Purnama dibantu suaminya Wisnu Heru Susanto. Selain itu, dibantu lima temannya yakni FA, AR, SU, DD dan KU.

Dewi mengaku jika dirinya mengenal korban Sugeng sebagai dukun yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Dewi sendiri mengaku jika sudah belasan tahun ini divonis menderita penyakit kanker.

Ia pun mempercayakan penyembuhan penyakitnya tersebut kepada korban untuk terapi. Namun penyakit yang dideritanya tersebut tak kunjung sembuh. Padahal Dewi dan Wisnu sudah mengeluarkan banyak biaya. Tiap periksa ke Sugeng, Dewi mengaku membayar Rp 5-10 juta. “Sudah habis banyak, tetapi penyakit kanker saya belum sembuh juga,” kata Dewi di sela-sela rekontruksi yang digelar penyidik Polres Kendal di halaman Mapolres setempat Selasa (26/9).

Bahkan Dewi mengaku jika dirinya telah habis uang lebih dari Rp 150 juta. Selain itu, terakhir Sugeng juga meminjam uang kepada dirinya sebanyak Rp 55 juta, namun tidak juga dikembalikan. Merasa Kesal, akhirnya Dewi bersama Wisnu berniat menghabisi Sugeng.

Di Rumah Makan Duren Jati, Desa Darupono Kecamatan Kaliwungu Selatan, Dewi dan Wisnu menghabisi korban. Ia dibantu lima teman Wisnu yakni Kuncoro, Aris, Fajar, Sunarto dan Didit yang sebelumnya pesta minuman keras (miras).

Aksi pembunuhan telah direncanakan terlebih dulu, yakni dengan cara Dewi membuat janji dengan korban Sugeng Raharjo untuk bertemu di jalan raya Batang dekat dengan pabrik terkstil. Dewi kemudian membawa Sugeng ke RM Duren Jati menggunakan sepeda motor.

Sesampainya di RM tersebut telah bersiap Wisnu bersama lima temannya dengan sebuah mobil sewaan. Seperti sudah direncanakan beberapa peralatan dibawa seperti tali tambang warna biru, botol minuman dan juga gunting. Begitu korban turun dari motor, kemudian korban dimasukkan ke dalam mobil oleh para pelaku.

Dalam reka ulang yang digelar Satreskrim Polres Kendal tampak Kuncoro, Sunarto dan Fajar, memaksa korban untuk masuk ke dalam mobil. Mereka membawa ke Boja. Dalam perjalanan, korban memberontak dan kemudian oleh Didit langsung dijerat dengan tali di lehernya.

Tapi korban masih juga berontak, akhirnya Aris memukul korban dengan menggunakan botol. Tidak juga diam, Fajar yang duduk di sebelah kiri korban langsung menusuk bagian leher dengan menggunakan gunting yang telah disiapkan sebelumya. Saat itulah korban tak berdaya.

Sesampainya di Desa Meteseh, Sunarto bertukar tempat dengan Dewi yang tadi menggunakan sepeda motor dan masuk ke mobil. Perjalanan dilanjutkan ke Temanggung, namun saat di Desa Bejen, Aris dan Didit memasukkan korban ke dalam karung. Lalu dengan dibantu Kuncoro, korban dibuang ke Kebun Karet Kecamatan Bejen, Temanggung.

Usai korban dibuang Dewi memberikan upah kepada para pelaku Kuncoro sebesar Rp 500 ribu, Fajar sebesar Rp 150 ribu, Aris sebesar Rp 450 ribu, Sunarto Rp 500 ribu dan Didit Rp 500 ribu.

Kasatreskrim Polres Kendal AKP Aris Munandar kepada wartawan mengatakan motif pembunuhan adalah karena korban sebagai paranormal tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Sementara Dewi sebagai pasien sudah mengeluarkan banyak uang untuk berobat. “Korban dibuang ke kebon karet karena para pelaku ketakutan,” ujar Aris Munandar.

Korban menurut Kasatreskrim sudah dibunuh di dalam mobil dalam perjalanan Boja hingga Bejen Temanggung. Para Pelaku menurutnya akan dikenakan pasal 340, 338 170 dan 351 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun. (bud/ida)